Cinta 2 DOA

Cinta 2 DOA
Ch 34 : Penghianatan


__ADS_3

Keesokan harinya.


Maria terbangun dan menunjukan pukul 8 pagi. Ia menunggu selama 1 jam dan belum kelihatan Papa atau Mama datang.


Tiba-tiba saja, beberapa anggota Polisi datang dan mengatakan jika Papa, Mama, Tania dan Sisca mengalami kecelakaan tunggal di jalan dan dikonfirmasi semuanya tewas di tempat


Mendengar berita tersebut, telinga Maria tiba-tiba berdengung dan tidak bisa mendengar berita setelahnya. Ia hanya terduduk melamun dengan tatapan kosong tanpa mengatakan satu katapun.


"Saudari Maria, apa perlu bantuan pemakaman?" tanya salah seorang Polisi yang menyampaikan berita kecelakaan.


Polisi tersebut adalah Polisi yang kemarin menjaga dan mengajukan beberapa pertanyaan.


"Ha.. Apa?" jawab Maria seperti orang linglung dan tidak tau harus berbuat apa.


Polisi yang melihat kondisi Maria hanya terdiam dan merasa kasihan. Bahkan bapak Polisi tersebut, tidak tau lagi harus mengatakan apa.


Telinga Maria masih berdengung terus dan ia tanpa sadar memaksakan dirinya turun dari tempat tidur, hingga terjatuh tersungkur.


Polisi dan Dokter Ester terkejut dan segera membantu Maria berdiri. Air mata Maria tidak bisa terbendung dan mengalir dengan deras.


Teriakan Maria begitu keras hingga terdengar di sepanjang lorong Rumah Sakit.


"Papa... Mamaa.. Tania.. Sahabatku Sisca... " teriak Maria dengan tangisan yang terdengar sangat menyayat hati.


Dokter Ester yang mendengar teriakan tangis itu, ikut menangis dan tidak kuasa melihat Maria begitu tersiksa.


Maria hanya bisa tersungkur dan berteriak tanpa henti. Perasaan sakit dan kehilangannya tidak bisa dibendung lagi hingga membuatnya jatuh pingsan.


[ Malam Hari saat Papa pulang]


Setelah keluar dari Rumah Sakit, Papa segera melajukan mobilnya ke rumah Pak Anton yang merupakan rekan kerjanya.


Selama hampir 40 menit perjalanan, akhirnya Papa sampai dan bertemu Pak Anton di salah satu komplek perumahan.


Mereka berdua membicarakan hal-hal yang menyangkut masalah pekerjaan. Hanya saja, Papa merasa bahwa pembicaraan ini bisa dilakukan via telefon tanpa harus bertemu langsung.


"Kenapa harus ketemu ya. Apa yang terjadi?" gumam Papa yang sedikit khawatir dan merasa was-was. Namun Papa berusaha menangkis perasaan itu, karena Pak Anton adalah rekan kerja yang sudah bekerja bersama Papa lebih dari 10 Tahun.


Perbincangan terjadi cukup lama hingga memakan waktu 1 jam. Papa merasa, Pak Anton seolah-olah sengaja mengulur waktu untuk melakukan suatu.


Namun sekali lagi, Papa menepis perasaan buruk sangka tersebut dan berfikir positif. Setelah berbincang yang bisa dikatakan hanya basa-basi, akhirnya Papa memutuskan untuk pulang ke rumah. Jarak dari rumah dengan perumahan Pak Anton hanya 20 menit jika ditempuh dengan mobil.

__ADS_1


Sesampainya di Rumah, Papa disambut Mama dan menanyakan perihal pertemuan Papa dan Pak Anton.


"Duduk dulu pa" ucap Mama sembari melepas jaket Papa dan menuangkan segelas air putih


Papa kemudian duduk dan meneguk minumannya, lalu menatap Mama.


"Gak ada yang penting ma. Aku juga tidak tau jelas, kenapa Pak Anton minta Papa datang ke rumahnya. Aneh sih" ucap Papa khawatir dan memiliki perasaan cemas


"Husshh.. Jangan berpikir jelek dulu Pa. Gak baik" sahut Mama yang berusaha menenangkan perasaan gundah Papa.


"Ya sudah, Papa mandi sana. Mama sudah masak air" pinta Mama.


"Mandi sama Mama aja gimana?" goda Papa sembari memegang tangan Mama.


"Ihh.. Nakal ya. Mama udah capek. Kita besok harus bangun pagi dan segera ke Rumah Sakit. Kasihan Maria sendirian" ucap Mama sambil tersenyum tipis dan menepuk dada Papa.


Papa yang merajuk dengan muka lucunya pergi menuju kamar mandi dan segera menyiramkan air hangat ke badan yang sudah lelah. Tiba-tiba saja, Mama masuk dari belakang dengan keadaan telanjang memeluk Papa dan ikut mandi bersama.


Papa terkejut sebentar, lalu berbalik badan dan mengguyur tubuh mereka berdua dengan air hangat. Papa dan Mama saling tersenyum dan keadaan semakin memanas.


Papa dengan lembut mencumbu leher Mama dan bergerak terus hingga ke bawah. Mama hanya bisa memejamkan mata dan menikmati sensasinya.


Keesokan Paginya


Waktu menunjukan tepat pukul 7 pagi.


Tok.. Tok.. Tokk.


Suara pintu depan diketuk seseorang. Mama berjalan dan membukakan pintu.


"Pagi Tante." Sisca datang dengan dandanan rapi serta membawa berbagai macam kue ditangannya.


"Ya Tuhan. tante kira siapa, pagi-pagi bertamu" Mama terkejut dengan kedatangan Sisca


"Bukannya Ibu kamu ngelarang ya?" tanya Mama sembari menyisir rambut Tania yang sudah siap berangkat.


"Iya sih. Kemarin, Sisca nurutin saran Tante untuk minta maaf ke ibuk" ucap Sisca menata kuenya


"Trus Ibuk akhirnya luluh deh. Trus Sisca di izinkan untuk ikut hari ini" imbuh Sisca bahagia.


Mama tersenyum bangga dan bahagia kepada Sisca. Tak lama kemudian, Papa turun dari atas dan terkejut melihat Sisca sudah datang.

__ADS_1


"Pagi Om" salam Sisca tersenyum


"Eh ada Sisca. Pagi. " sahut Papa senang.


Akhirnya semua sudah siap dan segera memasukan segala macam barang bawaan baik dari baju ganti, makanan, dan lain-lain.


"Eh apa ini?" tanya Sisca yang terkejut melihat 1 tas kantong kecil di kursi belakang mobil


"Oh itu Hadiah buat Maria. Kan hari ini dia Ulang Tahun" sahut Papa dari kursi pengemudi.


"Apa ini Om?." tanya Sisca kembali sembari meraba apa isinya


"Ini Handphone baru" Sisca terkejut saat menyadarinya.


"Woahh senangnya. Sisca cuma bisa bawa hadiah baju sama kue" girang Sisca


"Iya, kasihan Maria tidak pernah pegang HP. Akhirnya setelah menyisihkan dan menabung, bisa belikan HP" sahut Mama yang ikut senang.


Sisca hanya bisa tersenyum bahagia tidak bisa berkata-kata lagi.


Papa segera melajukan mobilnya menuju Rumah Sakit. Beberapa menit setelah meninggalkan rumah, tidak ada kejanggalan yang dirasakan. Namun Papa merasa jika ada mobil mencurigakan yang sengaja mengikuti mereka dari belakang.


Kecurigaan Papa akhirnya terbukti, saat mobil itu semakin mendekat secara tidak normal. Papa berusaha tetap tenang dan tidak panik dalam berkendara.


Mama dan Sisca juga sudah sadar dengan apa yang terjadi. Namun mereka berdua percaya pada Papa dan berusaha tidak panik agar tidak mengganggu konsentrasi Papa.


Saat sudah memasuki wilayah Kabupaten Bandung, jalanan mulai agak sepi dan banyak pohon di pinggir jalan.


Naas saat tiba-tiba, mobil yang Papa kendarain tidak bisa berbelok dan mengalami rem blong. Mobil dengan kecepatan tinggi menabrak pohon dan terguling di tengah jalan.


Papa dan Mama serta si kecil Tania, tewas seketika dan mengeluarkan banyak darah. Namun untungnya, Sisca yang mengalami luka berat masih hidup dan berusaha keluar dari mobil.


Namun naas, saat Sisca merangkak keluar, mobil yang mengejar tadi datang dan turun seorang pria. Pria tersebut memukul kepala Sisca dengan satu kali pukulan keras dan Sisca seketika tewas.


Tring... Tring..


Suara telfon pria itu berbunyi


"Hallo bos.. Semuanya sudah beres. Anton melakukan pekerjaannya dengan baik" ucap Pria itu.


"Kerja Bagus" jawab Pria di ujung telfon yang ternyata Kuncoro sedang duduk di kursi bersama anaknya Rudi.

__ADS_1


__ADS_2