
Bunda pada malam itu tidur bersama Arumi. Lalu Ahmad yang sudah sangat capek, tidak bisa menahan rasa kantuknya lalu tertidur di kamarnya.
Abi dan Kak Izam masih berjaga menunggu kabar dari Kepolisian dan setelah beberapa jam menunggu, akhirnya mendapat telefon dari Kantor Polisi kalau kejadian ini adalah murni penculikan dan ada sangkut pautnya dengan musuh bisnis Abi.
Keesokan paginya
Mama dan yang lain, sudah diantar pulang anggota Polisi. Papa setia menunggu Maria hingga siuman, ditemani bersama 2 anggota Polisi.
Waktu menunjukan pukul 11 siang dan terlihat Maria perlahan membuka matanya dan memanggil-manggil keluarganya.
Papa yang ada di sebelah Maria langsung senang dan dengan lembut menenangkan Maria supaya jangan memaksakan dirinya.
Para Polisi dengan sabar menunggu Maria untuk siuman secara total. Mereka tidak akan mengganggu Maria untuk saat ini.
"Pa.. " panggil Maria membuka mata dan berusaha untuk duduk, namun ia merasakan sakit di bekas operasi.
"Tenang ya nak. Jangan memaksakan diri dulu. Berbaring saja ya, biar Papa panggil suster kemari" ucap Papa yang kemudian keluar dan memanggil Suster.
Tak berselang lama, Suster segera masuk dan mengecek keadaan Maria kembali. Suster kemudian segera memanggil Dokter Ester untuk melaporkan Maria yang sudah siuman.
Dokter Ester kemudian datang dan menyapa dengan ramah.
"Hai Maria.. " salam Dokter Ester masuk dengan senyuman hangat masuk ke kamar.
"Siang dok" balas Maria dengan suara yang masih lemas
"Jangan dipaksakan" ucap Dokter Ester menahan Maria pelan supaya jangan bangun terlebih dahulu.
Maria menurut dan kembali merebahkan badannya.
"Sekarang apa yang kamu rasakan?" tanya Dokter Ester sambil membuka baju Maria dan melihat bekas jahitan operasinya.
"Badan masih lemas dan bagian perut saya yang ditusuk masih sakit" terang Maria.
"Sabar ya, ini jahitan masih basah dan hindarkan banyak bergerak. Nanti makannya juga harus bubur dulu ya" ucap Dokter Ester.
"Iya dok" jawab Maria.
Papa yang ada di sebelah terus mendengarkan dan mencermati semua perkataan Dokter Ester, baik yang dilarang dan dianjurkan.
"Ya sudah, istirahat dulu saja ya. Kalau ada apa-apa langsung panggil suster atau pencet tombol darurat di atas kepala Maria" terang Dokter dengan jelas.
__ADS_1
"Terimakasih Dokter. " sahut Papa yang mengantar Dokter hingga ke depan kamar.
2 petugas Polisi yang berjaga, sedang pergi keluar untuk mencari makan dan belum terlihat sudah kembali.
"Mama dan yang lain dimana pa?" tanya Maria menatap Papa.
"Kemarin, Mama dan yang lain nungguin kamu siuman. Tapi karena sampai tadi pagi kamu belum sadar, mereka pulang lebih dulu" Papa menjelaskan dengan lembut.
"Kamu istirahat dulu ya, nanti kalau waktunya makan Papa bangunin" pinta Papa mengusap rambut Maria.
"Iya Pa" jawab Maria singkat lalu menutup matanya dan kembali tidur
Disisi lain, Kak Izam dan Abi segera menuju Kantor Polisi dan meminta keterangan lebih lanjut mengenai hal ini. Abi dipertemukan dengan salah satu tersangka yang berhasil ditangkap.
Namun pertemuan mereka hanya terjadi dengan singkat, karena pengacara tersangka menolak adanya percakapan dengan durasi yang lama.
"Sia**n Nugroho. Dia mau pakai cara kotor untuk menjatuhkanku" umpat Abi yang penuh dengan kemarahan.
"Istighfar Abi.. Jangan biarkan kemarahan menguasai Abi. Untuk sekarang, kita harus tenang dan menyerahkan semuanya ke Polisi. Jangan sampai kita salah langkah dan jadi bumerang bagi diri sendiri" ucap Izam menenangkan Abi.
Satu hari penuh, mereka berdua berada di Kantor Polisi dan meminta Ahmad untuk menjaga Bunda dan Arumi di rumah
Hari terus berjalan dengan cepat. Sisca memberi tau pihak sekolah, jika Maria sedang sakit dan di rawat di Rumah Sakit jadi tidak bisa masuk sekolah.
Mendengar berita itu, tak menjadikan murid-murid atau para guru untuk menjenguk Maria. Itu juga karena intimidasi Pak Kuncoro ayah Rudi.
Mama tidak bisa membantu menjaga Maria karena harus mengurus Tania. Hingga pada hari dimana Maria sudah lebih baik dan siap untuk ditanya Polisi.
"Kalau belum siap, ndak usah gak apa-apa Mar" ucap Papa lembut
"Ndak kok Pa, Maria siap" jawab Maria.
Pihak Kepolisian pun sudah siap dan mulai meminta keterangan kepada Maria.
Namun sebelum ditanya, Maria meminta supaya namanya disamarkan dan tidak diberitahukan siapapun. Polisi menyetujuinya.
Maria mulai cerita segalanya dari awal pertemuannya dengan Arumi hingga nyaris tewas tertusuk pisau. Papa terus berada disamping Maria untuk menjaga dan mengawasinya.
Abi bahkan secara pribadi datang ke Rumah Sakit dan betemu Papa. Pada saat itu Maria sedang istirahat dan tidak bisa berbincang dengan Abi.
Abi hanya bisa berterimakasih dan akan membantu semua biaya yang diperlukan. Sebelum Abi pulang, beliau menatap Maria sebentar yang sedang tertidur dan mengucapkan terimakasih sekali lagi.
__ADS_1
Malam harinya, Papa ditelfon teman kerjanya dan diminta untuk bertemu di rumahnya. Awalnya Papa menolak, namun katanya ini penting.
Maria mengijinkan Papa untuk menyelesaikan pekerjaannya dan meminta Papa supaya besok pagi datang bersama yang lainnya.
"Pa, hati-hati ya kalau nyetir" pinta Maria
"Iya. Papa bakal hati-hati kok" jawab Papa.
"Nih Mama telfon" suara dering Hp Papa berbunyi bertuliskan Mama.
"Nak, besok Mama sama Tania sama Sisca njenguk kamu ya. Nek Aisyah waktu kita kesana tadi, beliau sedang sakit" ucap Mama.
"Iya Ma, gak apa-apa" jawab Maria.
"Mar, kamu tau kan kalau Mama, Papa, Tania, bahkan Sisca sama Nek Aisyah sayang kamu" ucap Mama lembut
"Mama ih.. Maria pasti tau lah" jawab Maria dengan senyuman.
"Ya sudah, kamu baik-baik ya Nak. Harus kuat dan harus sabar. Apapun hambatan dan rintangan yang ada di depan, harus dihadapi dan bersabar. Jaga diri baik-baik ya" kata Mama lembut.
Hati Maria terenyuh dan timbul perasaan gundah yang tiba-tiba saja muncul.
"Mama aku takut. Jangan ngomong gitu" jawab Maria yang meneteskan air mata.
"Lah kok takut" sahut Mama tertawa mendengar jawab Maria.
"Ya sudah, kamu istirahat ya. Semoga lekas sembuh. Bye-bye Putriku. Love you so much" ucap Mama lembut sebelum memutus telefonnya.
"Love you too" jawab Maria yang masih sedih.
"Ya sudah, Papa pulang ya. Jaga diri baik-baik" pamit Papa.
Maria hanya mengangguk.
Waktu menunjukan pukuk 8 malam saat Papa pergi pulang. Suster siap siaga menjaga kareba tidak ada pihak keluarga yang menjaga pasien.
Keesokan harinya.
Maria terbangun dan menunjukan pukul 8 pagi. Ia menunggu selama 1 jam dan belum kelihatan Papa atu Mama.
Tiba-tiba beberapa anggota Polisi datang dan mengatakan jika Papa, Mama, Tania dan Sisca mengalami kecelakaan tunggal di jalan dan dikomfirmasi semuanya tewas di tempat.
__ADS_1