
"Jauhkan tangan kotormu darinya" ucap Ahmad yang muncul dari belakang dan meremas lengan pria itu dengan erat.
Pria tadi berteriak kesakitan dan memohon ampun. Ahmad sama sekali tidak memperdulikan teriakan pria itu.
Tanpa banyak basa-basi, Ahmad memelintir lengan pria itu kebelakang dan menariknya dengan keras. Tak terima temannya diperlakukan begitu, satu pria yang lain datang dan berusaha menyerang Ahmad dari belakang.
Ahmad yang sadar, segera mendorong pria di depannya dan membalikan badan lalu memukul pria yang datang dari belakang. Kedua pria itu tersungkur dan tidak kuat untuk bangun.
Para warga yang melihat, segera melerai dan menenangkan Ahmad. Maria kemudian menghampiri Ahmad dan memegang tangannya, lalu menarik Ahmad untuk pergi dari sana.
Warga hanya mengamankan dua orang tadi dan membiarkan Ahmad untuk pergi dari sana. Maria menarik Ahmad untuk mengikutinya pulang ke rumah.
Maria tidak mengatakan apapun dan hanya menarik lengan Ahmad. Para tetangga sekitaran kampung melihat Maria dan Ahmad yang berjalan dengan cepat. Maria tidak memperdulikan tatapan warga.
Sesampainya di depan rumah, Maria menarik Ahmad untuk duduk di kursi teras dan ia tinggal masuk ke dalam.
Ahmad hanya diam sedari tadi. Ia merasa menyesal, karena memperlihatkan sisi lain dari dirinya yang ia coba sembunyikan.
Selang beberapa menit, Maria datang ke depan sambil membawa kotak obat. Maria kemudian duduk di sebelah Ahmad dan mulai mengobati tangan Ahmad yang berdarah.
Tanpa mengatakan satu kata pun, Maria meneteskan betadine ke kapas dan mengoleskannyan ke luka di tangan Ahmad.
"Ouchh.. " tangan Ahmad terasa perih.
"Diam.. " pukul Maria ke lengan Ahmad.
"Maaf ya Mar..." ucap Ahmad tak berani menatap mata Maria.
Maria tidak menjawab dan fokus menyelesaikan pengobatannya.
"Mau sampai kapan, aku harus terus mengobati tanganmu?" tanya Maria sambil menyipitkan matanya
"Ehe... " Ahmad membalasnya dengan tawa kecil.
"Aku gak pernah liat sisi lain dirimu yang ini" ucap Maria.
"Aku pun sama. Aku gak mau menunjukan sisi ini ke orang lain. Sisi, yang aku coba lawan dan kalahkan"
"Baiklah kalau begitu.. Tapi terimakasih ya mau bantu" ucap Maria dengan lembut
"Sama-sama"
"Tapi bagaimana kamu tiba-tiba bisa ada di situ?" tanya Maria.
"Sebenarnya, tadi aku sudah kesini dan bertemu dengan Nenek. Nenek bilang kalau kamu lagi ke Gereja. Lalu aku waktu mau ngambil motor di gang sebelah, melihat kamu sudah diganggu orang breng**ek tadi." jelas Ahmad sedikit emosi.
Maria hanya mengangguk.
"Oh iya, saat aku kesini, sepertinya Nenek sudah siap-siap mau pergi. Tadi mau aku anterin, beliau tidak mau"
__ADS_1
"Oh... Itu Nenek mau pergi ke rumah Bu Anna."
"Ngomong-ngomong Bu Anna, kenapa beliau tadi tidak datang ya?" gumam Maria.
"Emang kenapa dengan Bu Anna?" tanya Ahmad
"Soalnya, Bu Anna yang mengajakku untuk pergi ke Gereja disana. Namun saat mencari beliau, aku malah ketemu pria tampan" ucap Maria senyum-senyum sendiri
"Ha... " Ahmad terkejut hingga membuat ia berdiri dari kursinya.
"Pria Korea tampan. Udah tinggi, bersih, harum, sopan dan ternyata bisa bahasa Indonesia.. Unch.. Pria idaman" imbuh Maria yang masih membayangkan Mingyu
"Ini tidak boleh terjadi" ucap Ahmad kembali duduk dan menatap Maria.
"Ha..? Kenapa gak boleh? " tanya sinis Maria.
"Pokoknya gak boleh" jawab Ahmad terbata-bata.
"Lah iya emang kenapa?" tanya Maria kekeh
"Kalau kamu maksa, aku akan menciummu sampai pingsan" ucap Ahmad serius yang mendekat dan memandang ke arah bibir Maria.
"Bocah edan" teriak Maria mendorong muka Ahmad, sampai Ahmad hampir terjatuh.
"Ci..ci..cium" ucap Maria terbata-bata
"Sepertinya, ini tanda aku harus lebih agresif mulai sekarang" kata Ahmad yang semakin mendekat lagi ke arah Maria.
"Kowe ancen bocah edhannn.. " teriak Maria dengan raut wajah yang membuat siapapun tertawa melihatnya
"Aku gak ngerti apa yang kamu katakan. Aku gak ngerti bahasa jawa" teriak Ahmad balik dan menggoda Maria.
Mereka berdua sudah seperti bocah yang sedang memperebutkan sesuatu.
"Ehemm.. " ucap Nenek yang ternyata sedari tadi melihat tingkah konyol Maria dan Ahmad.
Terlihat posisi canggung Ahmad yang seolah-olah akan mencium dan memeluk Maria. Dan setelah melihat Nenek, mereka berdua kembali ke posisi tenang masing-masing.
Tatapan Nenek semakin tajam ke arah mereka berdua dan saling menatap.
"Haduhh. Dasar anak jaman sekarang" ucap Nenek, lalu masuk kedalam rumah.
Maria kemudian mengikuti masuk, begitupun dengan Ahmad.
Nenek kemudian menaruh kantong plastik yang terlihat berisi kue, ditaruh di atas meja dan pergi ke kamar mandi untuk cuci kaki.
Ahmad dan Maria duduk di kursi ruang tamu terdiam seperti bocah yang ketahuan mencuri.
Nenek kemudian balik ke ruang tamu dan membuka kantong plastik lalu menyuruh Ahmad dan Maria untuk memakannya.
__ADS_1
Nenek hanya menatap mereka berdua dengan tatapan tajam dan mengintimidasi.
"Ada apa Nak Ahmad? Hemm?" tanya Nenek dengan nada pelan namun terdengar tegas.
"Maaf Nek, kalau Ahmad berlebihan" jawab Ahmad menunduk tidak berani menatap Nenek.
Lalu Nenek menghela nafas dan tidak sengaja melihat ke arah lengan Ahmad.
"Loh Nak Ahmad tangannya kenapa?" tanya Nenek khawatir.
"Ya elah Nenek, Maria kira Nenek bakal marah-marahin bocah edan ini. Eh sekarang berubah khawatir. Ottoke?" gumam Maria.
"Lah kok sekarang tiba-tiba campur korea" gumam Maria sambil menepuk jidatnya.
Nenek yang melihat tingkah Maria hanya bisa geleng-geleng kepala.
Ahmad kemudian menjelaskan kronologi kejadian yang menimpa Maria dan Ahmad.
Nenek yang mendengar hal itu, mengucapkan terimakasih dan menyuruh Ahmad untuk menghabiskan semua kue yang Nenek bawa.
"Loh, Maria gimana?" tanya Maria bingung.
"Ndak usah, kasih Ahmad saja" ucap Nenek, sambil tersenyum ke arah Ahmad
"Lah... " Maria terkejut sambil menutup mulutnya dengan tangan karena tidak percaya dengan apa yang ia dengar.
Dari samping, Ahmad menyeringai tipis sambil menatap Maria dengan maksud mengejeknya.
Maria membalasnya dengan Bombastik Side Eye.
"Oh iya nduk, Nenek hampir lupa ngomong" ucap Nenek memecah suasana.
"Eh.. Ada apa Nek?"
"Tadi, Bu Anna tidak datang ke Gereja karena sedang mempersiapkan perayaan kedatangan anaknya yang sekolah di luar negeri"
"Ohh.. Makanya tadi Maria gak melihat Bu Anna." jawab Maria
"Iya nduk. Besok senin sore, kamu pulang sekolah sama Nenek nanti dijemput sopir Bu Anna menuju rumah beliau."
"Kita diminta untuk bantu surprise anaknya. Kalau gak salah, acaranya jam 7 malam" imbuh Nenek.
"Kita pakai baju yang gimana Nek? Ada dresscode kah?" tanya Maria.
"Gak ada. Besok kamu pulang sekolah, gak usah ganti baju. Nanti kita langsung berangkat dan dipinjami gaun disana."
"Sebenarnya, anaknya sudah datang 1 minggu yang lalu. Cuma karena besok adalah hari ulang tahun anaknya, Bu Anna sekalian merayakannya barsamaan dengn merayakan kedatangannya dari studi pertukaran pelajar di luar negeri" imbuh Nenek.
"Oke deh Nek, Maria ikut" ucap Maria setuju
__ADS_1