Cinta 2 DOA

Cinta 2 DOA
Ch 09 : Anjani


__ADS_3

[ SMP CENDANA ]


"Ni.. Pulang nanti, mau aku temenin ke rumah sakit ? tanya Rini


"Ndak perlu Rin, aku sendiri aja seperti biasanya" jawab Anjani


"Tapi makasih loh, udah nawarin bantuan. Tumben banget" tambah Anjani sambil membuka buku sejarah


"Idihh.. Kampret kok tumben. Kan aku mau nawarin bantuan" kesal Rini melipat tangannya di dada.


"Hahahaha.. Bercanda atuh.. Tapi gpp kok Rin. Aku sendiri aja" ujar Anjani tertawa lepas.


"Btw, hari ini mana sih, pak guru sejarah kita?.  Tumben gak masuk kelas" ucap Rini bingung.


"Arman.. Gak ada pemberitahuan apa gitu? " tanya Anjani kepada Arman ketua kelas


"Gak ada tuh" jawab Arman.


"Ya udah biarin aja. Ini juga udah pelajaran terakhir. Habis ini juga pulang" cletuk Rini.


Arman hanya mengangguk dan kembali bermain hp.


Anjani kembali membuka buku sejarahnya dan membaca dengan teliti. Rini yang melihat Anjani sudah fokus membaca, tidak berniat untuk mengganggu.


Pada akhirnya, Rini memilih untuk tidur sampai bel pulang sekolah berbunyi.


Setelah melihat Rini yang sudah terlelap dalam tidurnya, Anjani mengalihkan pandangan dari buku. Sebenarnya ia tidak membaca atau fokus sama sekali.


Wajah Maria dan kejadian yang menimpanya malam itu, selalu terngiang di kepalanya. Apa yang harus dilakukan ia juga bingung..


Kringg.. Kring...


Bel pulang berbunyi.


90 menit berlalu tanpa pelajaran, membuat Rini benar-benar tertidur lelap.


Saat bel berbunyi, Rini segera bangun dengan bekas air liur yang terlihat menempel di pipi.


"Haha... Haha... " tawa Anjani menunjuk ke arah pipi Rini


"Ha..?? " Rini yang kebingungan, mengusap kedua pipinya dan sadar jika ia ngiler..


Dengan cepat ia bangun dan berlari menuju wastafel terdekat untuk cuci muka.


Anjani merapikan buku-buku dan semua peralatan tulisnya kedalam tas. Kemudian ia pergi keluar dan berpamitan dengan Rini yang kebetulan sudah selesai membersihkan wajahnya.

__ADS_1


Anjani mengambil Hp di tas dan membuka aplikasi ojek online untuk pergi ke rumah sakit, sembari menunggu di pinggir jalan sambil terus cek hpnya.


Tiba-tiba Maria berdiri disamping Anjani untuk menunggu angkot seperti biasanya. Dan betapa terkejutnya Anjani melihat Maria benar-benar berada tepat disampingnya


Anjani berusaha tenang dan tidak gugup, ia sesekali menengok ke Maria yang jaraknya hanya 1 meter dari dirinya. Anjani melihat tas Maria yang digendong di dadanya, dan tas itu terlihat basah kuyup.


 "Hai.. Ada apa?" tanya Maria tiba-tiba sambil melihat ke arah Anjani..


"Hai.. Ndak ada apa-apa" jawab Anjani gugup.


"Ohh.. Aku kira kamu mau ngomong sesuatu. Soalnya dari tadi lihatin aku" balas Maria dengan nada sopan.


"Emm.. Ndak kok. Tapi sepertinya kamu dapat perlakuan tidak baik di kelas ya? " tanya Anjani berusaha tenang.


"Kelas??.. Yang benar seluruh Sekolah.. " jawab Maria sedikit kesal.


Melihat Maria yang kesal dan sedih, Anjani dengan gugup mengatakan kalau ia percaya dengan Maria. Maria tentu saja terkejut dengan perkataan Anjani barusan, karena ia tidak mengenal Anjani sama sekali.


"Kenapa kamu mau percaya aku?" tanya Maria heran.


Anjani ragu untuk menjawab, dan disaat yang tepat ojek online pesanannya sudah datang.


"Maaf ojek online saya sudah datang. Duluan ya" jawab Anjani terburu-buru dan menaiki ojek online.


Untuk waktu yang lumayan cukup lama, angkot akhirnya datang, dan Maria segera naik.


20 menit kemudian, Anjani sampai di salah satu Rumah Sakit terbesar di Bandung. Setelah membayar ongkos ke ojek, ia masuk ke dalam rumah sakit dan segera masuk ke ruang rawat inap. Ia melihat tubuh kurus ibunya yang dipenuhi dengan alat bantu dan tidak sadarkan diri.


"Ibu.. " lirih Anjani masuk sambil memegangi kaki beliau.


"Buk.. Nini disini.. Ayo bangun" ucap Anjani mengelus kepala ibunya.


Ibu Anjani mengalami trauma di otak akibat terjatuh dari tangga dan sudah koma selama 3 minggu. Hanya dengan bantuan alat kedokteran sajalah yang membantu dan menopang kehidupan ibunya.


"Gimana dok keadaannya?" terdengar suara pria bertanya kepada dokter dan memasuki ruangan ibunya Anjani.


"Loh.. Nini ada disini?" tanya pria itu terkejut.


"Iya Pak Kuncoro. Saya baru dateng." jawab Anjani


"Hmm.. Nini panggil saja bapak kalau diluar sekolah. Kan aku bapakmu" ujar Kuncoro sambil mengelus rambut putrinya


"Iya pak Kunco... Ehh iya Bapak" jawab Anjani sedikit gugup.


"Dok, bisa tinggalkan saya berdua dengan anak saya" pinta Kuncoro sembari tersenyum.

__ADS_1


"Baik Pak. 30 menit lagi, suster akan datang kesini" jawab dokter pria tersebut.


Kuncoro dan Anjani tersenyum tipis kepada dokter yang pergi meninggalkan ruangan, setelah sekilas melihat dan mengecek perkembangan kondisi Ibuk yang tidak membaik sama sekali.


"Kamu sudah dengar masalah yang menimpa Rudi? " tanya Kuncoro tiba-tiba.


"Ehmmm.. Iya pak, Nini sudah denger yang kasus pelecehan dengan Maria" jawab Anjani.


Kuncoro hanya mengangguk dengan tangan dilipat di dada dan memejamkan matanya.


"Menurut bapak, apa berita itu benar adanya? "  tanya Anjani mencoba mencari tau apa yang Kuncoro fikiran.


Kuncoro membuka matanya dan menatap serius ke arah Anjani.


"Tidak peduli itu benar atau tidak, Rudi itu anak Bapak. Anak Kuncoro seorang anggota dewan yang terhormat"


"Yang penting adalah Rudi harus dibersihkan namanya apapun yang terjadi. Apapun itu harus dilakukan" ucap lagi Kuncoro dengan mata yang menatap lurus ke arah Anjani.


Anjani hanya bisa terdiam dan sedikit shock dengan ucapan Kuncoro. Ia merasakan hal yang tidak baik akan terjadi. Dan yang pasti pada Maria dan keluarganya.


Anjani mengetau dirinya adalah anak Kuncoro, kurang lebih 2 tahun yang lalu saat ia baru duduk di kelas 1 SMP.


Ibunya adalah istri siri pak Kuncoro yang pada saat itu merupakan seorang pembisnis Mebel tersohor di Bandung sebelum menjabat jadi seorang dewan.


Untuk beberapa saat, Ibu menyembunyikan kebenaran ini kepada Anjani karena selama bertahun-tahun, Kuncoro mengumpulkan kepercayaan dan koneksi untuk mencalonkan diri menjadi anggota dewan.


Dari pembisnis terkenal menuju anggota dewan, sepertinya Kuncoro sudah memperhitungkan segalanya dan ia tidak ingin pernikahan sirinya menjadi halangan bagi dirinya untuk mencalonkan diri.


Pada akhirnya, Anjani diberitahu saat semua rintangan dan halangan tidak ada di jalan Kuncoro.


Tidak butuh waktu yang lama bagi Anjani untuk mengetahui sifat busuk bapaknya. Tidak ada rasa sayang atau benci yang dimiliki Anjani. Selama ini ia hidup tanpa kasih sayang seorang ayah, jadi kedatangan Kuncoro kedalam hidupnya tidaklah berpengaruh.


Namun didalam hati yang paling dalam, Anjani merasa senang karena ia merasakan kasih sayang seorang ayah untuk pertama kalinya.


"Kamu tau kan kalau cinta Bapak ke Ibuk itu sangat besar. Maafkan Bapak yang tidak ada disampingmu selama ini" ujar Kuncoro tiba-tiba yang membuat Anjani sedikit kebingungan.


"Tidak seperti biasanya" fikir Anjani heran.


"Kok diem Ni? " tanya Kuncoro memecah fikiran Anjani


"Mmm.. Iya Pak" jawab Anjani grogi.


"Yang terpenting sekarang, ibukmu harus cepet sadar dan sembuh. Bapak ndak kuat lihatnya" ujar Kuncoro.


"Iya" jawab Anjani sedih sambil menatap ibuk.

__ADS_1


__ADS_2