Cinta 2 DOA

Cinta 2 DOA
Ch 24 : Masa Lalu, Masa Depan


__ADS_3

{ Pada waktu yang sama di depan rumah Widya }


"Aku tidak menduga Steven seorang 4 Serangkai, pagi-pagi menelfonku dan minta bertemu" ucap Widya kepada Ahmad yang sudah menunggu di depan rumahnya.


Ahmad hanya terdiam dengan tatapan serius ke arah Widya.


"Masuklah!" perintah Widya sembari membuka gerbang.


Ahmad kemudian masuk dan bersiap untuk mendengar apapun itu dari Widya.


Mereka berdua berjalan menuju taman di teras rumah, dan berjalan kecil sambil mengobrol.


"Maaf Steve, aku gak bisa ajak kamu masuk kedalam rumah, soalnya semua keluarga kecuali Kakek ada di dalam." ucap Widya


"Ya, gak apa-apa. Aku faham." balas Ahmad.


"Sebenarnya sih, aku terkejut saat kamu mau menanyakan beberapa hal tentang Maria. Padahal aku dan Maria saja baru sahabatan 1 minggu"


"Tapi bukannya menolak, kamu mau menerima permintaanku. Bukankah itu berarti kamu tau satu atau dua hal bahkan beberapa masa lalunya"


Perkataan Ahmad membuat Widya berhenti dan menatap Ahmad dengan serius. Kemudian, Widya meminta Ahmad untuk duduk di bangku yang ada di tengah taman.


"Melihat dari reaksimu, sepertinya kamu tau beberapa hal tentang masa lalu Maria" ucap Ahmad

__ADS_1


"Apa yang kamu lakukan ini, sudah melewati batas privacy Steve"


Kata-kata Widya menampar Ahmad keras dan menyadarkannya jika apa yang ia lakukan dan paksakan ini sudah tidak benar.


"Tapi melihat betapa perhatiannya dirimu terhadap Maria saat di sekolah, aku setuju dan menerima permintaanmu" jawab Widya tegas dan lesu secara bersamaan.


"Fakta bahwa aku mendengar dia memanggilmu dengan nama Ahmad, dan kau tidak protes itu saja sudah cukup bagiku" imbuh Widya


Ahmad pun merasa tidak sadar, jika Maria selama ini memanggil namanya dengan Ahmad bukan Steven.


"Masa lalunya, bukanlah hal yang nyaman untuk dibicarakan, namun aku tidak akan menjelaskan secara detail apa itu masalahnya. Aku harap kamu siap" tegas Widya.


Ahmad mengangguk setuju.


"Maria itu adalah wanita yang tumbuh kuat sedari kecil. Ia bertahan dari lingkungan yang bisa dibilang tidak baik, namun itu tidak membuatnya putus asa dan yakin jika akan ada akhir yang baik dan bahagia bagi dirinya" ucap Widya sambil memandang ke atas langit.


"Ia terus berusaha dan belajar dengan keras, hingga salah satu mimpinya terwujud. Namun semua berubah saat kejadian itu terjadi."


"Kejadian itu?" tanya Ahmad yang semakin penasaran.


"Kejadian yang merenggut segalanya dari dia. Kejadian yang sekali lagi merubah pandangannya terhadap dunia." jawab Widya yang masih menatap langit.


"Akan tetapi, Tuhan masih melindungi dan menyertainya untuk tetap tegar melewati semua rintangan. Hati keluarganya di sentuh Tuhan dan berubah mendukung Maria. Tak hanya itu, Tuhan memberikannya satu teman berharga yang ada di saat susah maupun senang"

__ADS_1


"Namun tetap saja, iblis-iblis itu tidak senang melihat Maria bangun dari keterpurukan dan berusaha menjatuhkannya lagi. Mereka sekali lagi merenggut semua yang ada di sisi Maria" Widya mulai meneteskan air mata.


"Tidak berhenti sampai disitu, Maria yang berada dalam keterpurukan berhasil diraih oleh seseorang. Ia mulai sedikit membaik dan sekali lagi, orang yang membantunya adalah orang yang mengkhianatinya." Pipi Widya dibanjiri air mata dan menangis di hadapan Ahmad.


"Aku tidak tau, bagaimana ia bisa melalui semua hal itu" Widya berusaha untuk tidak terus menangis dan menepuk dadanya.


Ahmad hanya terdiam dan berusaha sebisa mungkin menenangkan Widya.


Terlihat Kakek memperhatikan mereka berdua dari dalam. Sepertinya Kakek mengetahui apa yang mereka bicarakan.


Setelah beberapa menit, Widya berhasil menenangkan dirinya dan kembali melanjutkan percakapan.


"Kalau sudah tidak sanggup, sebaiknya berhenti saja Wid" pinta Ahmad lembut.


"Maafkan aku Steve. Aku tidak punya hak untuk menceritakan secara detail tentang Maria." ucap Widya.


"Jika kau memang menyukainya" kata-kata Widya membuat Ahmad menatap Widya


"Kau harus bertanya langsung kepadanya" imbuh Widya.


Ahmad menghela nafas panjang.


"Kau memiliki masa lalu yang berat ya Mar" gumam Ahmad menatap langit.

__ADS_1


__ADS_2