Cinta 2 DOA

Cinta 2 DOA
Ch 22 : First Call


__ADS_3

Pada malam hari, setelah Maria dan Nenek selesai makan, ia pergi ke kamar tidurnya. Kemudian, Maria perlahan membuka tas belanjaan yang merupakan hadiah dari Ahmad.


Maria benar-benar terkejut, saat melihat bahwa hadiah yang Ahmad berikan adalah sebuah Ponsel Android keluaran terbaru.


Untuk sesaat, Maria hanya bisa terdiam menatap hadiah yang diberikan kepadanya. Saat ia ambil ponsel itu, ia melihat tampilannya sebentar lalu menyalakannya.


Maria kemudian mengamati serta cek semua aplikasi yang ada, lalu ia melihat kontak nama dan di sana cuma ada 1 kontak saja. Anehnya Tidak ada nama, hanya ada 1 gambar hati merah saja.


Untuk sesaat Maria ragu dan sedikit khawatir, namun Ia menyiapkan hati dan menekan tombol panggil ke nomor itu.


Tutt.... Tutt..


Suara memanggil berdering ke siapapun di ujung sana. Tak butuh waktu lama, seseorang mengangkat telfon tersebut.


"Hallo... " ucap Maria


"Hi... " jawab Ahmad lembut.


"Ahmad... Sudah kuduga, pasti kamu yang menaruh nomer telfon di ponsel ini" ucap Maria


Ahmad hanya tertawa kecil mendengarnya.


"Gimana?. Suka? " tanya Ahmad yang berada di tempat tidurnya sambil rebahan.


"Suka banget. Aku gak tau harus balas kebaikanmu dengan cara apa?" Maria merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya


Ahmad hanya terdiam dan tidak membalas apapun.


"Ahmad, kenapa?" Maria bertanya khawatir, karena Ahmad tidak berbicara.


"Enggak ada apa-apa" kata Ahmad dengan suara lembut.


"Kamu lagi ada masalah?" tanya Maria khawatir.


"Enggak kok. Semuanya baik-baik saja" jawab Ahmad berusaha menenangkan Maria.


"Aku boleh tanya sesuatu?" tanya Ahmad


"Boleh.. Tanya saja" jawab Maria serius

__ADS_1


"Menurutmu, cinta yang dipaksakan itu memiliki akhir bahagia atau malah kesedihan?"tanya Ahmad dengan suara pelan.


"Hmmm.. Kalau menurutku, cinta yang dipaksakan itu akan berakhir saling menyakiti satu sama lain. Segala sesuatu yang dipaksakan itu tidak baik" jawab Maria lembut dan serius menjawab pertanyaan Ahmad.


"Begitu ya... Apa berarti perjuangan seseorang yang jatuh cinta tadi sia-sia?" tanya Ahmad lagi dengan nada yang pelan sekali.


"Ahmad... Tidak ada yang sia-sia dari kata perjuangan. Apapun itu, jika kita berjuang akan mendapatkan hasil. Entah memuaskan atau tidak, itu tergantung pilihan kita"


"Saat kamu berbicara, seolah-olah kamu sudah mengalami banyak asam dan pahitnya dunia. Aku merasakannya waktu kamu cerita saat kita kehujanan beberapa waktu yang lalu"


"Benarkah?. Aku tidak menyadarinya. Hanya saja, aku melihat gelapnya dunia lebih banyak daripada terang dunia itu sendiri." jawab Maria dengan nada yang tegas namun terdengar kesedihan dan sakit di dalamnya.


"Oh iya, ngomong-ngomong kamu tau aku tidak memiliki ponsel dari Widya ya?" tebak Maria


"Iya... Apa kamu marah?" tanya Ahmad khawatir.


"Enggak sama sekali kok, aku sudah terbiasa dengan situasi seperti ini. Dan aku yakin sesuatu terjadi hingga membuat Widya mengatakannya" Jawab Maria dengan tenang.


"Untuk sesaat, aku merasa kamu memiliki banyak rahasia yang entahlah, rasanya membuatku penasaran" ucap Ahmad tanpa basa-basi


"Maaf, jika aku asal bicara" imbuh Ahmad


"Tidak ada hal baik yang bisa kamu ambil dan ketahui, dari rahasia dan masa lalu ku. Semuanya hanya lautan kegelapan yang siap melahap kapan saja. Jadi jangan khawatir, apalagi penasaran" kata Maria sembari menatap pantulan dirinya dari balik kaca.


"Sekarang, kamu malah membuatku semakin penasaran" gumam Ahmad dalam hati.


"Oh iya, ada hal yang ingin aku tanyakan antara kamu dan Nek Aisyah. Is that okay?" tanya Ahmad lembut.


"Ohh.. Gak apa-apa kok. Widya juga menanyakan hal yang sama"


"Nek Aisyah adalah orang hebat yang menolongku dan menjagaku di saat banyak hal buruk menimpa dan berusaha menghancurkanku. Ia sudah Maria anggap seperti Nenek kandung sendiri. And I love her so much" kata-kata Maria penuh dengan rasa kebanggaan saat menceritakan tentang Nenek.


"I see.. She's a great person" timpa Ahmad


"I know" jawab singkat Maria.


"Ahmad... " panggil Maria halus


"Hmmm.. " sahut Ahmad

__ADS_1


"Kalau kamu lagi ada masalah, cerita ke aku ya. Jangan dipendam, nanti sakit." pinta Maria


"Kalau emang sesuatu yang gak bisa kamu ceritakan ke aku, lebih baik Ahmad sholat ya. Jangan lupa bahwa Tuhan itu pendengar yang jauh lebih baik dari siapapun. Maaf kalau Maria seperti menggurui, tapi Ahmad jangan lupa sholat ya" pinta Maria dengan lembut.


"Iya Mar, makasih ya." Ucap Ahmad sambil tersenyum menatap langit kamarnya.


"Kalau gitu, Maria harus segera tidur. Besok pagi Maria harus datang ke Gereja, karena besok adalah hari pertama aku ke Gereja dekat sini." ucap Maria


"Ohh.. Iya maaf, karena nyita waktu kamu" Ahmad meminta maaf.


"Enggak kok Mad, aku suka ngobrol sama kamu. Kamu teman yang hebat"


Kata-kata teman itu, serasa menusuk ke paling dalam hati Ahmad


"Ya udah Mar, sampai nanti ya" Ahmad menunggu Maria menutup telfonnya lebih dulu.


"Iya Mad, bye.. " Maria menutup telfonnya.


Waktu menunjukan pukul 11 malam, Ahmad masih dalam keadaan terlentang di tempat tidur sambil memikirkan banyak hal.


"Hanya kamu Mar, yang bisa bikin aku jadi gila seperti ini" gumam Ahmad sembari menutup mata dengan lengannya


Ahmad hanya terdiam tidak melakukan apapun dan hanya menatap pada gambar ia dan Maria saat berada di rumah Nek Aisyah.


Lalu foto saat mereka sedang jalan-jalan di Taman Kota sambil menikmati berbagai kuliner. Tak hanya foto, Ahmad bahkan mengabadikan video Maria jalan di sebelahnya dan mencoba jajanan pinggir jalan.


Ahmad senyum-senyum sendiri melihatnya. Ahmad kemudian menaruh ponsel dan dilihatnya waktu sudah menunjukan pukul 12 malam. Ahmad segera beranjak dari tempat tidur dan pergi mengambil wudhu.


Lalu ia membentangkan sajadah, dan menghadapkan dirinya kepada Allah dan melakukan kewajibannya untuk sholat.


Ahmad melakukan sholat dengan khusyu' dan merendahkan diri di hadapan sang pencipta.


"Ya Allah, ya Tuhanku. hamba berserah kepadamu atas hidup dan segalanya ke dalam tangan-Mu. hamba tidak tau apa yang harus hamba lakukan dengan gejolak yang timbul di hati hamba. biarlah takdir yang Engkau siapkan, terjadi sesuai kehendak Mu.. Amin.. "


Lalu Ahmad mulai merapikan sajadah miliknya dan berganti baju tidur. Ia berjalan menuju lemari kecil yang ada di pojok, dekat jendela dan membukanya.


Terlihat baju abu-abu bergambar Naruto dan Hinata di sana, juga handuk pemberian Maria. Ahmad menatap sebentar dan menutup lagi lemari itu.


"Sepertinya, besok aku harus pergi menemui Widya. Sekarang sudah larut malam, untuk menghubunginya. Lebih baik langsung menuju rumahnya". Ucap Ahmad

__ADS_1


"Maafkan aku Maria. Tapi sepertinya, aku akan terjun ke lautan gelap itu" gumam Ahmad dalam hati


__ADS_2