
Ahmad melajukan motornya dan segera membawa Maria ke Rumah Sakit terlebih dahulu.
"Loh, kenapa kamu membawa aku kesini?" tanya Maria
"Kamu harus diberi obat yang terbaik. Kalau sudah,nanti kamu aku antar pulang" jawab Ahmad sambil memegang dahi Maria.
"Suhumu panas sekali" ucap Ahmad.
"Mas Ahmad" ucap pak Satpam yang keluar dari posnya
"Pak Indra, tolong panggilkan suster kemari. Bantu bawa temen saya" pinta Ahmad.
"Baik mas." jawab Pak Indra dan segera berlari masuk kedalam untuk memanggil suster.
"Kamu kok bisa nyuruh satpam ya?. Apa kamu yang punya rumah sakit?" tanya Maria lemas
"Udah ngelantur nih" ucap Ahmad yang masih memegangi Maria.
Secepat kilat, 4 orang suster sudah berlari menuju Ahmad sambil membawa tempat tidur pasien. Segera Maria dibaringkan dan dibawa masuk.
Kemudian Ahmad akan pergi memarkirkan motor miliknya.
"Ahmad.. Jangan pergi" pinta Maria
"Kamu masuk dulu, nanti aku nyusul" jawab Ahmad tersenyum, supaya Maria tidak takut
Ahmad segera memarkirkan motor miliknya dan berlari mengejar Maria.
Tak ingat berapa lama Maria tertidur, yang ia ingat hanyalah suster membawanya menggunakan kasur rumah sakit, lalu ia pingsan.
"Ini dimana?. Ruangan kok besar sekali" heran Maria yang terbangun dan melihat ruangan dia berada sebesar ruang tamu rumahnya. Lalu ia melihat di meja sebelahnya ada alat yang mengeluarkan bau aromaterapi.
Maria menoleh ke kiri dan ia tidak melihat Ahmad sama sekali. Ia melihat tangannya sudah dalam keadaan di infus.
Kriet...
Pintu terbuka dan dilihatnya Ahmad masuk membawa makanan, buah dan minuman.
"Kamu udah bangun" ucap Ahmad yang melihat Maria sudah siuman bergegas menghampirinya.
Maria hanya mengangguk saja.
"Btw, ini ruangan kok besar banget ya, dan juga di ruangan ini aku sendirian " bingung Maria
"Gak usah bingung, kamu ada di ruangan VIP" jawab Ahmad dengan enteng sembari menata makanan dan minuman.
"VIP...?" terkejut Maria mendengarnya.
"Ahmad please, aku sakitnya gak parah, aku gak mau ngerepotin kamu" imbuh Maria.
"Ngerepotin?. Nope.. Ini kemauanku. Please diterima" pinta Ahmad melas menatap Maria
"Tapi.. " ucap Maria tidak bisa melanjutkan kata-katanya.
"Udah sini makan. Aaaa.. " ucap Ahmad menyuapi Maria makanan.
"Kalau kamu mau, besok gak usah masuk sekolah dulu. Kamu bisa disini sampai sembuh" Ujar Ahmad memberi minuman ke Maria.
__ADS_1
"Jangan.. Habis ini pulang aja. Kasihan Nenek" kata Maria serius menatap Ahmad.
Ahmad menghela nafas
"Baiklah, nunggu sampai infus habis dulu, baru pulang" kata Ahmad
Maria mengangguk setuju.
Setelah selesai semuanya, Ahmad meminta izin dokter untuk pulang dan minta resep obat. Setelah itu, Ahmad mengantar Maria pulang sampai depan rumah.
"Maria.. Ahmad.. " Ucap Nenek khawatir karena Maria pulang telat.
"Kamu gak apa-apa nduk?" tanya Nenek ke Maria.
"Tadi Maria.. " kata-kata Ahmad terputus oleh omongan Maria.
"Gak apa-apa Nek, Maria cuma capek sama pusing aja. Tadi mampir beli obat di apotik" jelas Maria memotong pembicaraan Ahmad.
"Ohh ya sudah, ayo masuk terus istrirahat. Besok ndak usah masuk sekolah dulu" pinta Nenek.
"Iya Nek" jawab Maria yang masih lemas namun lebih mendingan.
"Nak Ahmad, gak mau masuk dulu?" tanya Nenek.
"Ndak usah Nek, sudah malam. Terimakasih atas tawarannya" jawab Ahmad tersenyum dan mohon pamit.
"Oh iya Mar, kamu... " ucapan Ahmad terhenti
"Kamu apa?" tanya Maria bingung
"Hmm... Nomer telfon mu berapa?" tanya Ahmad sembari memegangi kepala belakangnya
"Maaf, aku ndak punya HP" ucap Maria.
Ahmad yang terkejut, masih dalam keadaan tersenyum dan terdiam. Maria lalu masuk kedalam rumah bersama Nenek.
Sejenak Ahmad berdiri lalu tersadar dengan suara klakson motor yang terhadang jalannya oleh Ahmad
"Maaf bang.. Maaf" ucap Ahmad kepada pengendara motor.
Tring...
Suara Hp Ahmad berbunyi dan terlihat Jerry mengirim pesan padanya untuk bertemu di taman kota.
Segera, Ahmad pergi dan menuju lokasi.
Saat sudah sampai, Ahmad melihat Jerry sedang duduk sendirian di bangku taman.
"Ada apa Jer?" tanya Ahmad yang langsung duduk disebelahnya
"Nggak ada apa-apa, cuma pengen ketemu sama ngobrol aja" jawab Jerry dengan santai memandangi langit malam.
"Kalau kamu ngomongnya begitu, pasti terjadi sesuatu di rumah ya?" tanya Ahamad curiga
"Memang ya, kita gak bisa menyembunyikan sesuatu ke sahabat" Jawab Jerry menatap ke arah Ahmad
"Apa Papa sama Mamamu masih mendesakmu?" tanya Ahmad.
__ADS_1
"Benar, mereka masih tidak bisa berubah" jawab Jerry
"Masih mengharapkan sesuatu yang lebih" imbuh Jerry
"Serasa menyerah adalah pilihan yang tepat" ucap Jerry menatap Ahmad serius.
"Apa-apaan sih, gua tonjok lu ya kalau ngomong gitu lagi" ucap Ahmad sembari memukul pundak Jerry
"Owww... " rintih Jerry sambil tertawa.
"Daripada ngomongin gua terus, gua penasaran sama hubungan lu itu apa sih dengan Maria?" tanya Jerry kembali menatap Ahmad.
Ahmad diam sejenak dan merelax kan badannya sambil menatap langit.
"Entahlah Jer, gua juga gak tau" jawab Ahmad.
"Muncul perasaan yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya. Dan aku sampai sekarang masih bingung" imbuh Ahmad.
"Apa karena ciuman yang waktu itu?" tanya Jerry sambil tersenyum tipis
"Kayaknya sih iya. Karena dari situ, semuanya terjadi" jawab Ahmad.
"Saat aku semakin dekat dengannya, aku merasa waktu berjalan sangat lambat dan tak ingin berakhir dengan cepat" imbuh Ahmad yang membayangkan situasi perasaannya.
"Ada perasaan untuk selalu melindungi dan dekat dengannya" tambah Ahmad.
"Kalau gitu, menurutmu Maria anak yang seperti apa?" tanya Jerry yang masih penasaran
"Dia itu wanita yang hebat dan kuat dan seperti sudah melewati badai yang besar dan menakutkan " jawab Ahmad.
"Susah menjelaskannya" imbuh Ahmad
"Ternyata, aku melihat hari dimana Ahmad pada akhirnya menyukai seseorang" ucap Jerry merangkul pundak Ahmad.
Ahmad hanya diam tersenyum seolah setuju dengan apa kata Jerry.
"Tapi sepertinya akan ada kompetisi nih" cletuk Jerry
"Kompetisi? " tanya Ahmad heran.
"Y.. ada lah" Ucap Jerry menyeringai.
"Ada-ada aja loh ya" ucap Ahmad memukul pelan sahabatnya itu.
Mereka berdua tertawa terbahak-bahak hingga perut mereka sakit.
"Sis, ada pasangan gay. Kasihan padahal ganteng" ucap salah seorang gadis yang lewat bersama temannya di depan Ahmad dan Jerry.
"Ohh dasar cewek gila.. Lu kira 2 cowok yang saling tertawa, itu gay" teriak Ahmad berdiri dari bangku dan membuat lari 2 gadis tadi..
"Sudah... Sudah.. Bocil kok kamu urusin" suruh Jerry menarik Ahmad untuk kembali duduk.
"Tapi Mad, gua mau nanya lebih dalam boleh?" tanya Jerry serius.
"Apaan serius amat muka lu" ejek Ahmad menatap Jerry geli
"Kau sadar kan kalau tembok kalian berdua itu begitu tinggi. Kau yakin sanggup?" tanya Jerry serius menatap Ahmad
__ADS_1
Ahmad terdiam sejenak mendengar kata-kata itu, karena ia tau apa yang dimaksud Jerry.