
Ahmad dan kakaknya Izam, sepakat untuk bekerja sama di sabtu malam.
[ Sabtu Pagi ]
Di pagi hari, semua keluarga melaksanakan sholat subuh bersama-sama dan melanjutkan aktifitas mereka masing-masing.
"Kamu kemarin jadi gak bisa sholat jum'at" tegur sang Abi menepuk pundak Ahmad.
"Ya.. Maaf Abi" Jawab Ahmad menatap Abi dengan wajah sendu.
"Minta maaf ke Allah, bukan ke Abi" kata Abi
"Iya.. Iya.. " jawab Ahmad bersiap untuk sarapan pagi.
"Hari ini sarapan apa Bi?" tanya Arumi.
"Hari ini spesial, karena kita akan makan masakan Bunda." ucap Abi semangat
"Woahhh.. " seru Arumi.
Semua sangat bersemangat menantikan hasil masakan Bunda mereka. Selama ini, hanya para ART yang memasak.
"Makanan sudah sampai" ucap Bunda yang datang dari dapur sambil membawa satu mangkok besar di tangan.
"Woahh.. Masak apa Bun?" tanya Izam yang juga bersemangat melihatnya.
"Tada... Hasil Chef Bunda." seru Bunda sembari membuka tutup makanan itu.
Semua terkejut dan terdiam melihat masakan yang mereka kira masakan khusus khas Ukraina atau apalah.
"Nasi Goreng..." terkejut semuanya dan mengatakan hal yang sama bersamaan.
"Ini Nasi Goreng spesial khusus buatan Bunda de.. ngan cinta." ucap Bunda bahagia sambil menari kecil.
Terlihat Nasi Goreng biasa dengan 2 telur tersenyum di atasnya, dan sayur yang dibuat seperti mulut.
"Kenapa?.. Gak suka ya" tanya sang Bunda yang sedih melihat reaksi mereka yang diam dan tak berkata apapun.
"Oh gak kok Bun, kita semua senang sekali dengan masakan spesial dari Bunda" ucap Abi dengan senyuman dan memberi lirikan seperti kode kepada Ahmad, Izam, dan Arumi untuk ikut bahagia.
Menyadari kode dari sang Abi, mereka bertiga tertawa bahagia dan memuji Bunda. Bunda yang tersanjung dengan pujian itu, tersenyum bahagia dan senang.
[ Rumah Maria di waktu yang sama ]
"Lagi masak apa Nek?" tanya Maria yang datang ke dapur untuk membantu Nenek.
"Mau masak Sop. Kamu mau bantuin?" Ucap Nek Aisyah
"Iya dong.. Kalau gitu biar aku potong kentang sama wortel" ucap Maria sembari mengambil kentang dan memotongnya.
"Nduk, Nenek mau tanya sama kamu" ucap Nenek membersihkan sayur-sayuran.
"Tanya apa Nek?" tanya Maria
"Menurutmu, Nak Ahmad itu orangnya bagaimana?" tanya Nenek tiba-tiba
Maria yang mendengar pertanyaan itu, langsung menatap ke arah Nenek.
"Kenapa tiba-tiba Nek?" tanya Maria bingung.
"Enggak ada apa-apa nduk. Nenek cuma penasaran aja. Soalnya dia tamu yang paling sering datang" ucap Nenek tersenyum membayangkannya
"Dia aja yang kurang kerjaan" kata Maria
"Tapi kamu ndak boleh gitu. Nak Ahmad sudah perhatian dan menolong kamu loh" ucap Nenek langsung menatap Maria.
"Iya Maria tau kok."
Tok... Tok.. Tok..
Suara ketukan pintu terdengar dari luar rumah.
"Permisi.. Maria" panggil seseorang dengan suara wanita dari luar.
"Eh Widya.. Tumben" Maria senang melihat sahabatnya itu dan menyuruhnya masuk ke dalam.
"Oh neng Widya..." senang Nenek yang menghampiri Widya di ruang tamu.
"Nek.. Pagi.." ucap Widya sambil mencium tangan Nenek.
"Ada apa, pagi-pagi kesini?" tanya Nenek.
"Widya mau jenguk Maria nek, soalnya kemarin sore ndak sempat" jawab Widya
__ADS_1
"Oh iya... Silahkan duduk ya, Nenek masih masak di dapur" ucap Nenek pergi ke dapur.
"Tumben kesini pagi-pagi Wid." ucap Maria menyiapkan air putih untuk Widya
"Kebetulan, aku ada acara kumpul dan rekreasi di salah satu kantor Ayah, karena searah, sekalian mampir" Widya meneguk air putih di depannya
"Loh... Berarti kamu sama Ayah dan Ibu kamu?" tanya Maria berjalan keluar dan menoleh kanan-kiri
"Enggak kok Mar, aku sendiri sama supir" jawab Widya
"Ayah dan Ibu sudah kesana terlebih dahulu" imbuh Widya
"Ngomong-ngomong sini duduk sebentar Mar" suruh Widya sambil menepuk kursi disebelahnya
"Ada apa?. Serius banget. Jangan bikin takut ya" tanya Maria khawatir.
"Sedikit sih.. Ini tentang kejadian yang menggemparkan sekolah kemarin hari jum'at." Kata Widya serius.
"Menggemparkan sekolah?" Maria terdiam sejenak
"Memang ada apa?" tanyanya lagi melanjutkan
"Ini tentang Ahmad Mar" jelas Widya yang semakin serius.
"Ahmad kenapa Wid?" tanya Maria yang semakin serius.
Nenek sedari tadi menguping pembicaraan Widya dan Maria dari balik tembok.
Widya lalu menceritakan semua hal yang terjadi.
"Kebetulan saat itu ada 1 temanku dari IPS yang mendengar pembicaraan mereka. Yang lain sudah pada kabur" Terang Widya
"Sepertinya baik 4 Serangkai dan 5 Elang sama-sama menyembunyikan fakta ini" imbuh Widya.
Maria sedari tadi hanya diam mendengarkan semua cerita Widya.
Tiba-tiba HP milik Widya berbunyi tanda telefon masuk. Dan ternyata itu dari Ayahnya.
"Sepertinya, aku harus pergi Mar, Nenek mana ya?" ucap Widya yang terburu-buru
"Sudah mau pulang?" sahut Nenek yang keluar dari balik tembok mengantar Widya keluar rumah.
Widya terus berpamitan dan pergi keluar.
[ Sore hari di rumah Ahmad ]
"Abi, Izam mau kuliah dulu. Ada presentasi kelas." izin Izam kepada Abi.
"Dan Izam butuh bantuan Ahmad untuk mengoperasikan laptop di kelas" imbuh Izam.
Abi menatap tajam karena mendengar hal itu. Namun Izam terus memohon kepada Abi dengan alasan jika ia meminta temannya yang mengoperasikan laptop, data-data di laptop bakal diambil.
Abi yang tidak kuasa menahan rengekan anak pertamanya, menyetujui permohonan Izam. Lalu Izam dan Ahmad segera berpamitan dan pergi.
"Ya Allah.. Ampuni dosa hamba" ucap Izam
"Saya juga.. " sahut Ahmad dan ia kena pukul kakaknya.
"Rencana kamu bagaimana?" tanya Izam kepada Ahmad
"Aku sudah janjian sama Jerry untuk bertemu di tempat kuliah kak Izam untuk meminjam motornya. Lalu Jerry yang akan membantu presentasi kakak". Jawab Ahmad
"Baiklah kalau begitu... Jam 9 harus sudah pulang ke rumah" ucap Kak Izam tegas
"Oke" jawab Ahmad.
Sesampainya di tempat kuliah, mereka bertemu Jerry dan segera melaksanakan rencana mereka.
Waktu tepat menunjukan pukul 5 sore
Ahmad melajukan motor milik Jerry menuju rumah Maria.
Sesampainya di depan rumah Maria dan tepat sebelum Ahmad mengetuk, pintu tiba-tiba terbuka dan terlihat Maria yang membukanya.
"Astaga... " Maria terkejut melihat Ahmad sudah ada di depannya. Ahmad terlihat keren dengan jaket kulit warna hitam dan kaos putih polos di dalamnya, juga memakai celana jeans hitam yang keren.
"Bikin kaget aja lu." ucap Maria yang kaget dengan kedatangan Ahmad.
Ahmad hanya tersenyum lebar dan membuka kedua tangannya seakan seperti dalam pertunjukan.
"Ada apa?" tanya Maria
"Aku menagih janjimu untuk jalan bareng" jawab Ahmad yang masih senyum-senyum.
__ADS_1
"Emang janjinya sekarang?" tanya Maria ketus
"Hmmm.. Gak juga sih, karena emang pengen sekarang aja." ucap Ahmad yang masih menebar senyuman.
"Baiklah, karena aku sudah janji, kamu tunggu di dalam aja" jawab Maria mempersilahkan Ahmad masuk.
"Siapa Mar?" tanya Nenek yang keluar dari kamarnya.
Ahmad kemudian masuk dan mencium tangan Nenek.
"Eh nak Ahmad. Rapi sekali, habis darimana? " tanya Nenek.
"Nek, Ahmad mau minta ijin buat jalan-jalan sebentar sama Maria. Boleh?" tanya Ahmad.
Saat mendengar pertanyaan itu, sekilas Nenek merasa takut, kejadian masa lalu terulang kembali. Namun entah kenapa Nenek merasa Maria aman bersama Ahmad.
"Nak Ahmad, Nenek mau ngomong sebentar. Duduk dulu"pinta Nenek dengan serius.
"Nak Ahmad harus janji buat jaga Maria dan tak melepasnya sedikitpun. Jangan jauh dari jangkauan pandanganmu saat kalian jalan-jalan" pinta Nenek menatap Ahmad serius.
Ahmad dengan tegas menyanggupi pinta Nenek tanpa keraguan. Nek Aisyah senang melihat tekad dan jawaban Ahmad.
25 menit kemudian, Maria turun menggunakan Dress berwarna merah yang sesuai dengan lipstik merah lembut di bibirnya dan rambut panjang bergelombang di tempatkan disisi kanan bahunya
"Ayo, Maria sudah siap" ucap Maria.
"Astaga Nduk.. Cantik e" Nenek tanpa sadar meneteskan air mata melihat kecantikan Maria.
Ahmad hanya terdiam dan terkejut sampai mulutnya tidak tertutup olehnya.
"Hei... " tepuk Maria menyadarkan Ahmad.
"Oh.. Hei.. Heii" ucap Ahmad yang kaget.
"Jadi jalan gak?" tanya Maria
"Jadi ayo.. " ajak Ahmad yang tidak bisa melepas pandangannya dari Maria.
Maria dan Ahmad berpamitan kepada Nenek sebelum berangkat dan mereka berdua sampai di salah satu taman kota yang lumayan rame dan penuh keceriaan.
Maria dan Ahmad menghabiskan banyak waktu dengan bersenda gurau dan bermain serta melihat banyak hal.
"Kamu mau tunggu sebentar di sini. Aku mau ambilkan sesuatu" ucap Ahmad sambil berlari ke arah dia memarkirkan motornya.
Selang beberapa menit, ada seorang pria yang tiba-tiba mendekat ke Maria dan mencoba menyentuhnya. Maria menepis dan menampar pria asing itu.
Orang-orang disekitar bersikap acuh dengan apa yang terjadi pada Maria. Namun Maria tidak takut, ia menampar sekali lagi pria itu. Hingga pria itu marah dan menggenggam tangan Maria dengan erat, hingga membuat Maria kesakitan.
Orang-orang yang disekitar tadi lari menjauh takut kena amukan pria asing itu. Dari jauh terdengar teriakan marah seseorang.
Ahmad berlari kencang membawa kantong belanja ke arah Maria dan menendang pria itu sampai tengkurap. Ia lalu menerjang pria itu dan memukulnya sampai berdarah.
Maria berlari dan melerai Ahmad. Maria memegang kedua pipi Ahmad dan menarik pandangannya untuk melihat ke Maria. Disaat itu, Ahmad langsung melepas pukulannya. Namun pria asing itu pingsan dan petugas keamanan datang.
Setelah mendengar penjelasan Maria, Ahmad dan orang sekitar, petugas membawa pria asing yang pingsan tadi untuk dibawa ke pos penjagaan, lalu diserahkan kepada polisi.
"Kamu tidak apa-apa.. Ha??" cemas Ahmad memegangi rambut, pipi, tangan bahkan kaki Maria.
"Aku gak apa-apa. Makasih" Maria memegang lembut tangan Ahmad.
"Yang sakit itu kamu" Pandangan Maria melihat ke arah jari jemari dan bibir Ahmad yang berdarah.
Maria bangun sebentar untuk membeli obat-obatan dan kembali ke Ahmad lalu mengobatinya.
"Aku akan menggantinya" ucap Ahmad.
"You should. Gua miskin soalnya" jawab Maria sambil tersenyum lembut.
"Ini untukmu.. " Ahmad menyerahkan tas belanjaan yang jatuh tadi
"Tapi bukanya nanti kalau kamu sudah pulang ya" pinta Ahmad lembut.
Maria mengangguk setuju dan masih mengobati Ahmad. Ahmad hanya menatap lurus ke arah Maria tanpa menoleh sama sekali. Serasa jantung dia berdetak kencang dan waktu berjalan lambat.
Sesekali, Ahmad melirik ke arah bibir lembut Maria dan kembali menatap mata Maria lagi.
"Mar... " ucap Ahmad
"Hmmm.. " jawab Maria yang masih mengobati jari Ahmad.
"Look at me.. " ucap lembut Ahmad mengangkat dagu Maria menghadap ke arahnya.
Dengan wajah cantiknya, Maria menatap Ahmad dengan kelembutan.
__ADS_1
"Aku... "