Cinta 2 DOA

Cinta 2 DOA
Ch 11 : Takdir


__ADS_3

 Perjalanan dari rumah Maria menuju rumah Widya membutuhkan waktu yang cukup lama. Selama di perjalanan Widya sudah tidak tahan dengan segala macam pertanyaan yang ada di kepalanya. 


 " Mar, itu Nenek kandung kamu? " tanya polos Widya


   "Bukan Wid, namanya Nek Aisyah, penolong dan sudah aku anggap seperti Nenek kandung sendiri" jawab Maria


"Ohhh pantesan. Awalnya aku bingung kok Nek Aisyah berkerudung." ujar Widya


     "Wid.. Banyak kok yang dalam satu keluarga berbeda keyakinan" jawab Maria santai


"Oh iya ya.. " senyum Widya


   Obrolan antara Maria dan Widya terus berlanjut selama di perjalanan, hingga 25 menit perjalanan tak terasa dan mereka sampai di rumah Widya. 


  Maria terkejut melihat rumah besar bak istana dari luar pagar. Saat pagar depan dibuka, tambah terkejutnya ia melihat istana itu dari dekat.


Halaman rumah Widya sangat hijau dan penuh dengan tanaman tertata rapi dan ornamen-ornamen halus yang menghiasi tembok rumahnya. 


  Pada umumnya rumah Widya hanyalah rumah orang kaya yang terlihat normal. Namun Maria melihatnya dengan sudut pandang yang berbeda. 


  Melihat Maria yang kagum melihat rumahnya, Widya hanya bisa tersenyum dan menggandeng lengan Maria mengajaknya masuk kedalam. 


   "Yuk masuk Mar" ajak Widya


"Eh iya Wid" sahut Maria dengan wajah yang masih terkagum. 


   Pintu depan dibuka dan terlihat rumah megah milik Widya, terlihat ornamen-ornamen kayu yang terukir dengan rapi dan indahnya. Tak hanya ornamen dan ukiran kayunya, terlihat juga sekumpulan wayang-wayangan dari Jawa Timur yang tertata rapi di atas meja dan lemari kaca. 


  "Wid, Kakek kamu orang Jawa Timur? " tanya Maria 


"Betul.. " Jawab Widya sambil menunjukan jempolnya. 


   "Kalo boleh tau, dari kota mana ya Wid? " tanya Maria penasaran dengan tatapan serius


"Surabaya... " terdengar sahutan suara berat pria tua dari lantai atas.


"Eyang Kakung" seru Widya senang melihat Kakeknya.


Kakek Widya berjalan dengan wibawa menuruni tangga marmer yang sudah menyilaukan mata Maria.


Sesampainya Kakek di bawah, Widya dengan cepat memeluk beliau. Raut senang terpancar dari wajah sang Kakek.


Maria tersenyum melihatnya.


"Sudah sana mandi dulu. Bau cucu kakek tidak sedap" gurau sang Kakek kepada cucunya itu.

__ADS_1


"Kakek.. " Widya merajuk dengan muka yang menggemaskan.


"Maria ayo, kita ke kamarku di atas lalu bersih diri" ajak Widya menarik lengan Maria.


Maria yang sudah ditarik, hanya bisa menundukan kepala sebentar meminta izin kepada Kakek.


Kakek mengangguk kepada Maria, dan beliau berjalan menuju teras depan rumah. Saat di kamar milik Widya, Maria segera menata barang bawaanya baik dari baju dan buku pelajaran. Sementara Widya sedang berada di kamar mandi.


Setelah Widya selesai, gantian Maria untuk mandi. Kamar Widya penuh dengan boneka Hello Kitty yang cantik dan imut, dan suasana yang serba pink. Maria kemudian selesai mandi dan ganti baju, lalu Widya segera mengajaknya untuk turun lagi dan makan terlebih dahulu.


Sesampainya di meja makan, makanan sudah tersedia disana. Para pembantu di rumah Widya sudah menyiapkan segala macam makanan dari sayur-sayuran, lauk ayam dan daging, begitu pula dengan buah-buahan.


Mereka berdua menyantap makanan dengan lahap dan nikmat.


Di waktu yang bersamaan


[ Di rumah Ahmad ]


Ahmad mengendarai motor sportnya dengan laju yang sangat cepat. Ia khawatir dengan kondisi adiknya yang semakin menghawatirkan. Tak butuh waktu lama, Ahmad sampai di depan gerbang rumahnya yang berlokasi di salah satu perumahan elite di Jakarta


"Tinn.. Tinn.. " suara klakson Ahmad meminta satpam untuk membuka gerbang besar rumahnya.


Dengan sigap, pak satpam yang sedang duduk berjaga, kemudian lari dan membukakan gerbang. Dengan segera Ahmad melanjutkan laju motornya memasuki halaman rumah yang luas seperti di kastil Inggris.


Terlihat pembantu baik pria dan wanita memakai setelan jas rapi menunduk kepada Ahmad yang lewat. Saat sampai di kamar, ia melihat orang tua Ahmad dan seorang dokter sedang memeriksa adiknya yang terbaring lemas.


Ahmad melihat Bunda dan Abinya yang sedih melihat kondisi putri mereka yang tak kunjung sembuh. Ahmad lalu memalingkan matanya ke arah tangan adiknya yang penuh dengan luka sayat.


Dokter yang memeriksanya lalu memberi obat penenang dan merekomendasikan putri mereka untuk di Rehabilitasi


"Diam... " teriak Ahmad meninggikan suaranya.


"Adik saya tidak gila.. Jangan seenaknya anda bilang dia butuh rehabilitasi" ucap Ahmad dengan wajah yang sudah memerah penuh dengan emosi.


"Ahmad.. Sudah.. " teriak sang Abi memecah suasana yang mencekam.


"Ini semua terjadi karena Abi dan Bunda memaksa Arumi untuk menjadi apa yang kalian mau." Kata Ahmad sambil menatap kedua orang tuanya.


"Stopp.. Sto.. pp" Ahmad tak kuasa berteriak dan menitihkan air mata.


"Please stop..jangan banding-bandingkan dia dengan aku atau kakak.. Capek dia" pinta Ahmad yang masih menangis.


Lalu ia duduk disamping adik perempuannya yang sudah berumur 14 tahun itu. Ahmad lalu mengelus dengan sayang rambut adiknya itu. Terlihat Arumi yang tidur lemas tidak membuka matanya sama sekali.


Abi dan Umi lalu mengantarkan dokter keluar kamar dan berbincang di luar. Tanpa sadar, Ahmad menyandarkan kepalanya di samping sisi kasur dan tertidur pulas.

__ADS_1


Entah sudah berapa lama Ahmad tertidur, ia terbangun dan dilihatnya ke arah jendela, langit sudah gelap.


"Kak balik sono ke kamar lu" ucap Arumi yang berada di belakang Ahmad.


"Arum.. Kamu udah bangun? " tanya Ahmad yang masih dalam keadaan baru bangun tidur.


Saat kesadarannya sudah kembali, ia sontak terkejut dan memeluk adik perempuannya itu. Arumi lalu memeluk balik kakaknya dengan erat.


"Jangan lakukan itu lagi please.. " pinta Ahmad dengan melas.


"I'll Try" jawan Arumi.


"Kamu udah makan?" tanya Ahmad melepaskan pelukannya.


"Sudah kok. Tadi Bik Ira nganterin makanan, kakak juga dianterin itu makanannya" kata Arumi sambil menunjuk piring di atas meja di kamarnya.


Ahmad yang merasa lapar, segera mengambil piring tersebut lalu duduk bersila di bawah dan makan dengan nikmat.


Arumi melihatnya dengan senyum dan kebahagiaan. Ditengah sikap Bunda dan Abi yang seperti itu, hanya kakaknya inilah satu-satunya yang selalu ada untuk Arumi.


"Btw kakak dapat baju darimana itu? Kayaknya aku gak pernah lihat" tanya Arumi heran


Ahmad lalu menceritakan semua yang dialaminya dari awal. Namun ia tidak mengatakan tentang Maria.


"Apa kamu ingat kak, kejadian 3 tahun yang lalu.? " tanya Arumi dengan tatapan serius.


"Inget.. " jawab Ahmad menatap balik adiknya sambil menghabiskan nasi terakhir di piringnya.


"3 tahun lalu, aku pernah hampir jadi korban penculikan musuh Abi. " ucap Arumi sambil meraba ingatannya.


"Saat itu aku beruntung bertemu dengan seorang dewi penyelamat yang Allah turunkan untukku" tambah Arumi.


"Tanpa dirinya, pasti sekarang aku tidak bisa mengobrol dan bertemu dengan kakak" ucap Arumi sedih hampir meneteskan air mata.


Ahmad langsung menaruh piringnya kembali di atas meja dan menghampiri adiknya itu dan duduk disampingnya.


"Kakak tau kok, dan jika suatu saat kita dipertemukan dengan dia lagi, kakak akan mengucapkan beribu terimakasih dan jika diizinkan, kakak berjanji akan menikahinya. " ucap Ahmad tegas.


"Ya ampun kak. Wkwkwk " tawa bahagia keluar dari adiknya.


"Yahh awas lu ya.. Pasti kamu kira kakak mengada-ada ya " senyum Ahmad sambil mengacak-acak rambut adiknya..


Malam itu setelah sekian lama, Arumi tertawa lepas tanpa halangan.


Untuk sesaat Ahmad bersyukur kepada gadis yang menolong adiknya itu. Karena hari ini, dia sekali lagi menolong Arumi untuk bisa tertawa.

__ADS_1


__ADS_2