
Keesokan paginya, Maria bangun dengan badan lemas dan mata yang sembab. Semalam, ia tidak bisa tidur dengan nyenyak sama sekali. Rasa trauma untuk tidur diatas tempat tidur, selalu membayangi fikirannya. Ingatan-ingatan buruk itu selalu datang saat Maria menutup mata dan berusaha tidur.
Sesekali tidur hanya 5-10 menit, ia terbangun lagi dan seterusnya seperti itu. Waktu menunjukan tepat pukul 4 pagi. Dengan badan yang capek dan sedikit sakit, Maria berlutut dan melipat tangannya.
"Tuhann... Tuhanku.. Mengapa Tuhan..?. Apa dosaku sehingga Engkau menghukumku seperti ini" pilu Maria dalam doanya.
"Aku benci diriku, aku membenci semua yang ada dihidupku, aku ingin mati.. Aku ingin mati.. " tangis Maria yang tidak bisa dibendung. Suara doanya samar-samar menahan sesak di dada.
Rasa takut, marah dan jijik ia lampiaskan kepada dirinya. Sesekali muncul rasa ingin membunuh Rudi dan 3 orang yang menodainya. Namun hati lembut Maria selalu menahan dan menguatkan hati nuraninya.
Waktu terus berjalan dan jam menunjukan pukul 7 pagi. Maria tidak keluar dari kamar sama sekali.
Tok.. Tokk..
Suara ketukan terdengar dari pintu kamarnya. Kemudian Maria membuka pintu dan dilihatnya Mama sedang berdiri sambil membawa makanan.
"Mar, ayo makan dulu. Mau Mama suapin?
Pinta Mama dengan kata yang lembut.
"Iya ma" jawab Maria lembut dan tetesan air mata jatuh mengenai pipinya
Perasaan apa ini?. Rasa bahagia bercampur rasa sedih sedang bergejolak di dalam hati Maria. Apa karena Mama yang selama ini kasar dan tidak peduli padanya, tiba-tiba menyuapinya makanan.
Air mata mengalir tak henti selama Maria makan. Sesekali Mama mengusap air mata anak perempuannya.
Tiba-tiba Maria terkejut saat melihat air mata menetes dari mamanya.
"Ma kenapa nangis?. Maria kuat kok" ujar Maria sembari mengusap air mata di pipi Mama.
"Nak.. Ma.. ma.. " suara mama terputus-putus menahan tangis.
" minta maaf ya.. " tangis Mama pecah saat mengatakannya.
Maria yang mendengar perkataan itu, ikut menangis begitu kerasnya. Mendengar kata maaf dari mamanya seperti sebuah keajaiban yang menyegarkan.
"Mama gak kuat liat kamu seperti ini nduk. Saat Mama mendengar apa yang terjadi sama kamu, hati Mama hancur sekali." pilu Mama.
"Maafin Mama ya nak, belakangan ini Mama sedikit gundah dan resah. Betapa pengecutnya mamamu ini untuk mengakui kesalahan". Tangis Mama sambil memukul dadanya
"Maafkan Mama yang melampiaskan semua kebencian kepadamu. Maaf ya nak" tangis Mama sambil menunduk, tak berani menatap wajah anaknya.
"Ma, Maria gak pernah benci Mama, Papa, atau siapapun. Maria sadar dan mengerti kalau Mama lagi banyak tekanan dan fikiran". Jawab Maria sembari mengangkat wajah mamanya dan memeluknya.
Hari itu adalah hari yang tidak bisa Maria lupakan. Karena kejadian ini, Papa dan Mama yang sering bertengkar akhirnya bisa berdamai dan bersatu memperjuangkan Maria.
Hari itu berjalan dengan tenang, Papa dan Mama, mendiskusikan permasalahan ini dengan Bu Tika yg merupakan perwakilan dari Dinas Perlindungan Wanita & Anak.
Keesokan harinya, teman sebangku kelas 1 Maria datang berkunjung. Ia adalah satu-satunya teman yang selalu ada untuknya.
"Mar.. Maria.. " panggil Sisca sambil mengetuk pintu rumah Maria.
__ADS_1
Tak lama kemudian, Mama membukakan pintu.
"Siapa? " tanya Mama.
"Permisi tante, saya Sisca. Teman sekolah Maria"
"Marianya ada di rumah te? tanya Sisca kembali
"Ada di dalam.. Kamu pasti temen Maria pas kelas 1 ya? " tanya Mama memastikan
"Bener te, saya temen sebangku waktu kelas 1 dulu" jawab Sisca sedikit takut.
Dulu, Maria menceritakan semuanya ke Sisca. Semua kesedihan, masa lalu bahkan sikap orang tuanya yang tidak peduli.
Karena hal itulah, Sisca sedikit takut ketika akhirnya ketemu secara langsung dengan Mama.
Untungnya dulu, Sisca pernah sekali pulang bareng Maria untuk lihat tempat tinggalny Maria. Namun ia tidak berani masuk. Namun karena hal itu, Sisca bisa tahu tempat tinggal Maria.
"Maria ada di kamar atas, kamu langsung aja kesana. Kamar no 2 di samping kanan". Suruh mama sembari menunjuk ke arah tangga.
"Iya te, makasih. Saya masuk ya" izin Sisca naik ke atas tangga.
Mama hanya mengangguk dan menutup pintu. Dengan cepat , Sisca naik dan mengetuk pintu Maria. Maria segera membuka pintu dan memeluk erat sahabat satu-satunya itu sambil menangis sesenggukan
"Loh Mar, kamu kenapa?. Sakit keras kah?. Disiksa?? " tanya Sisca khawatir.
Maria hanya bisa menangis dan marah.
5 menit kemudian, Maria akhirnya bisa sedikit tenang dan sanggup menceritakan semuanya ke Sisca. Sepanjang percakapan, Maria selalu menangis dan tak kuasa menahan semuanya. Sisca yang mendengar itu berusaha tegar dan tidak menangis dihadapan sahabatnya.
"Maafin aku ya Sis, saat itu aku ndak bilang atau pamit sama kamu" sesal Maria.
"Sudah-sudah" jawab Sisca sambil mengelus pundak Maria, menenangkannya.
"Trus rencanamu apa Mar? " tanya Sisca
"Besok aku, kedua orang tuaku dan bu Tika . dari dinas akan pergi ke sekolah dan menemui Kepala Sekolah"
"Gua ikut boleh gak? "
"Ndak perlu Sis, kamu belajar seperti biasanya aja."
"Ya udah, tapi gua akan selalu standby dukung lu Mar" dukung Sisca dan ia memeluk Maria.
Tak terasa, matahari sudah tenggelam, dan waktunya Sisca untuk pulang dan bersiap buat besok.
Keesokan harinya, Maria dan orang tuanya beserta Bu Tika datang ke sekolah. Segera mereka menuju ke ruang kepala sekolah untuk bertemu dengan Pak Anji.
Gumamam-gumaman siswa terdengar sepanjang lorong sekolah. Tak ada satupun murid yang berbelas kasih dan berusaha mendukung Maria. Maria bingung dan gelisah.
"Apa berita ini sudah tersebar di lingkungan sekolah" fikir Maria.
__ADS_1
Sesampainya di depan ruang kepala sekolah, betapa terkejutnya mereka sudah melihat Rudi dan ayahnya duduk dan tertawa bersama pak Anji.
Suasana berubah saat Maria masuk. Raut wajah pak Anji menjadi serius dan mencekam.
Perasaan Maria tidak enak. Seolah-olah ia tau apa yang akan terjadi. Badannya sedikit gemetar saat melihat dan bahkan satu ruangan dengan Rudi.
Maria, Mama, dan Papa terkejut saat mengetahui Ayah Rudi adalah Kuncoro seorang anggota dewan dan memiliki posisi yang tinggi. Terlebih lagi, ayahnya adalah donatur SMP Cendana.
Namun hal tersebut tidak membuat Bu Tika gentar. Beliau dengan tegas meminta supaya diskusi segera dilaksanakan. Terlihat sekali raut wajah Pak Kuncoro yang fokus dan mengintimidasi Bu Tika.
"Baik semua, perkenalkan saya Tika Rahayu, perwakilan dari Dinas Perlindungan Anak & Wanita, pada hari ini meminta izin untuk membuka diskusi mengenai pelecehan atas saudara Rudi terhadap saudari Maria" ucap Bu Tika.
"Bentar-bentar. Apa saya gak salah dengar. Bagaimana ibu bisa bilang dengan enteng kalau anak saya melakukan pelecehan? " tanya Kuncoro memotong pembicaraan dengan nada yang kasar
"Pertama-tama, saya minta supaya bapak tidak memotong pembicaraan saya dan biarkan saya menjelaskan semuanya sebelum masuk ke duduk perkara " jawab Bu Tika tegas tak gentar sama sekali
"Berani-beraninya kamu ya. Dasar petugas rendahan, seenaknya nyuruh saya diam" bentak Kuncoro dan memukul meja di depannya dengan keras.
Sontak semua terkejut, namun Bu Tika tak bergeming sedikitpun
"Sudah Pak Kuncoro, mari kita dengar dulu" pinta sopan Kepala Sekolah dengan rasa takut.
Tanpa fikir panjang, Bu Tika menjelaskan semua duduk perkara dari awal hingga akhir. Namun Kuncoro hanya tersenyum dan menanyakan dimana bukti kalo anaknya telah melecehkan Maria. Bu Tika sadar, kalau mereka tidak memiliki bukti fisik pelecehan seperti rekaman atau video.
Dan sekalipun, Maria melakukan visum dan berhasil membuktikan kekerasan seksual yang menimpanya. Itu tidak akan memberi bukti kuat kalau Rudi atau ketiga orang yang bersamanya malam itu melakukannya.
Sepanjang percakapan, Mama dan Papa tidak mengatakan apapun. Mereka berusaha tenang dan memahami segalanya sebelum bertindak jauh. Diskusi hari itu, tidak menghasilkan apapun. Saat mereka keluar dari ruang KepSek, Rudi dan ayahnya masih berada di dalam. Maria sekilas melihat Rudi tersenyum tipis kepadanya
"Bagaimana ini Bu? " tanya Mama
"Sabar ya bu, setidaknya kita sudah mengatakan poin penting" jawab Bu Tika
"Namun saya sedikit khawatir,melihat KepSek yang sepertinya berat sebelah" tambah Bu Tika.
"Apa Ibu sudah tau kalau ayah Rudi adalah seorang anggota dewan?" tanya Maria curiga.
"Lalu apakah ini alasan kenapa hanya Bu Tika seorang yang mendampingi saya? " tanya Maria lagi
"Iya Maria. Betul.. Walaupun tingkat keberhasilan kita hanya 1%, namun ibuk tidak menyerah ya nak. Kita serahkan semua kepada Tuhan" jawab Bu Tika sambil menenangkan Maria.
Di sisi lain sekolah..
Toilet Wanita.
Seorang siswi sedang berada di dalam bilik toilet sedang duduk sambil memegangi Handphone dengan tangan sedikit gemetar.
"Apa yang harus aku lakukan dengan Video ini. Aku tidak menyangka saat mengikuti Rudi akan mendapatkan kejadian keji ini" fikir cemas siswi ini.
"Anjani ayo, ngapain lu lama banget di dalem. Cepetan.!! " teriak gadis lain dari luar.
"Iya tunggu"
__ADS_1
Segera Anjani mematikan video dan keluar dari toilet.