Cinta 2 DOA

Cinta 2 DOA
Ch 14 : Pertemuan


__ADS_3

Keesokan paginya


Maria dan Widya segera bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Mereka berdua menyiapkan segala macam perlengkapan yang diperlukan.


"Sudah siap Wid?" tanya Maria yang sudah mengemasi barang-barang miliknya.


"Sebentar Mar, kaca, lipstik sama bedak aku dimana ya?" tanya Widya yang kebingungan membuka semua lemarinya.


"Hmmm... " Maria menghela nafas.


Maria mencoba membantu mencarikan kosmetik Widya dari membuka lemari, dibawah kasur, bahkan kamar mandi.


"Ya Tuhanku... Ini apa." Ucap Maria yang mengangkat lipstik milik Widya dari dalam tas sekolah Widya sendiri.


"Pfttt.." mereka berdua tertawa lepas hingga menangis, karena terlalu konyolnya Widya.


Segera, setelah mereka sudah siap, mereka berdua turun ke lantai satu dan duduk di meja makan untuk sarapan.


Sarapan kali ini adalah roti dan gandum juga susu. Di meja makan, Kakek dan kedua orang tua Widya sudah menunggu untuk sarapan bersama.


"Makan yang kenyang ya Maria" Ucap Ibu Widya dengan halus.


"Iya tante, Terimakasih" jawab Maria dengan menganggukkan kepalanya.


Kedua orang tua Widya dan Kakek hanya tersenyum dan senang, melihat perilaku sopan Maria.


Mereka semua menyantap makanan dengan nikmat. Setelah semua selesai, Maria kemudian berdiri dan mengambil semua piring kotor yang ada di atas meja. Namun Ibuk pembantu yang kemarin menghentikan Maria.


"Sudah.. Biar saya saja, mbak Maria kan mau sekolah, nanti terlambat" pinta Ibuk itu dan mengambil piring kotor dari tangan Maria.


Segera Maria, dan Widya berpamitan ke Orang tua dan juga Kakek. Terlihat Widya memeluk kedua orang tuanya dan tak lupa memeluk Kakeknya juga.


Maria mendapat informasi jika ternyata Widya adalah anak tunggal dan satu-satunya pewaris harta keluarganya. Widya juga seorang gadis pada umumnya yang suka berdandan dan dia suka warna pink.


"Tante, Paman, dan Kakek. Maria mengucapkan terimakasih karena mau menerima Maria dengan baik" ucap Maria sambil membungkukkan badannya.


"Dudu sanak dudu kadang, yen mati melu kelangan". Ucap Kakek sambil tersenyum


( Meskipun tidak ada ikatan darah, namun terasa sudah seperti bagian dari keluarga, yang jika ada duka, ikut merasa sedih dan kehilangan.)


Maria yang mengerti kata-kata itu langsung tersenyum dan mengucapkan banyak terimakasih.


Kemudian Maria dan Widya pergi menuju teras depan dan bergegas masuk ke dalam mobil. Pak supir segera melajukan mobilnya untuk pergi ke sekolah.


Sesampainya di sekolah, Widya meminta tolong kepada Maria untuk membawakan tasnya ke dalam kelas terlebih dahulu karena Widya merasa sakit perut dan ingin buang air besar.


Maria kemudian menuruti keinginan Widya dan membawakan tasnya pergi ke dalam kelas terlebih dahulu dan ia tertawa karena melihat Widya sudah berlari terbirit-birit menuju ke kamar mandi.


Maria kemudian masuk ke dalam kelas dan segera duduk dan merapikan tempat duduknya dan juga tempat duduk milik Widya


Tak lama kemudian terlihat Alex, Roby, dan Jerry terlihat masuk kedalam kelas bersamaan. Maria tidak melihat Ahmad bersama mereka.


Maria lalu mencoba mencari tahu tentang Ahmad Kenapa dia tidak masuk sekolah. Maria sedikit mencondongkan badannya ke belakang untuk mendapatkan informasi


Sedangkan Alex yang menyadarinya cuma bisa tersenyum dan berusaha untuk menggoda Maria


"Aduhh.. Kasihan ya Ahmad gak masuk sekolah nih." Goda Alex dengan suara yang agak lantang supaya terdengar Maria. 2 temannya yang lain hanya bisa menggelengkan kepala mereka.

__ADS_1


Maria yang mendengar itu, berusaha fokus dan hati-hati supaya tidak disadari.


"Dia bilang sih, lagi sakit parah.. Apa bakal masuk rumah sakit ya." Goda Alex sekali lagi.


"Ha.. Sakit apa?" sontak Maria yang mendengar itu, spontan bertanya dan menoleh ke arah Alex.


Alex yang tidak bisa menahan tawanya, tertawa lepas melihat Maria yang begitu khawatir kepada Ahmad.


"Ciye.. Ciye.. Ada yang khawatir nih ya" tawa Alex


"Pandangan pertama.. awal aku berjumpa.. Asikk" Alex menyanyi sambil menggerakkan tangannya tidak jelas.


Maria yang malu langsung mengejek Alex dengan mulut manyun yang imut sambil mengaum lucu dengan pose tangan seperti mau mencakar, lalu berbalik badan. Ketika Maria melakukan hal itu, tiba-tiba saja Alex terdiam dan sedikit merona. Hatinya berdetak cepat untuk sesaat.


Alex kemudian memegangi dadanya dan kebingungan sendiri.


"What is that..?" Gumam Alex dalam hati.


Tak lama, Widya akhirnya balik dari kamar mandi dan mengucapkan terimakasih kepada Maria, lalu segera duduk.


"Eh.. Ahmad gak masuk sekolah?" bisik Widya ke Maria.


"Ndak tau, kok tanya saya." jawab Maria ketus, karena masih kesal dengan Alex yang tadi menggodanya.


"Loh kok marah" kaget Widya dan menggumam dalam hati.


5 menit kemudian bel sekolah berbunyi, dan guru masuk ke kelas, kegiatan belajar mengajar di laksanakan.


[ Di Rumah Ahmad ]


Pagi itu, semua anggota keluarga berkumpul di ruang tamu, termasuk Arumi. Terlihat, ketegangan dan canggung di antara mereka semua. Ahmad duduk di samping Arumi dan menenangkannya. Mereka semua sepakat untuk mengantar Arumi pergi kontrol ke Psikiater.


"Iya kak, Arumi ikut selama ada kak Ahmad yang menemani" balas Arumi tersenyum ke arah Ahmad.


Abi dan Bunda hanya melihat saja dan menunggu persiapan ke rumah sakit selesai. Duduk agak jauh dan ada Izam yang terus memantau situasi.


Semenjak malam itu, Izam terus merenungi semuanya.


"Pak, permisi. Persiapannya sudah selesai" kata seorang pelayan yang datang


"Baik terimakasih. Ayo berangkat semua" perintah Abi.


Segera, semuanya berdiri dan berjalan menuju 3 mobil yang sudah disiapkan. 1 mobil untuk Abi dan Bunda, 1 lagi untuk Izam, dan 1 nya lagi untuk Ahmad dan Arumi.


Membutuhkan waktu setidaknya 30 menit bagi mereka untuk sampai di salah satu Rumah Sakit terbaik di Jakarta. Segera mereka turun dan masuk ke ruang tunggu VVIP.


Tak membutuhkan waktu yang lama, sesi Arumi sudah siap dan memintanya untuk masuk sendirian ke ruang Psikiater.


Untuk sesaat, Arumi melihat Ahmad cemas.


"Jangan khawatir, Kakak menunggu di depan" ucap Ahmad lembut menenangkan adiknya


Semua keluarga menunggu dengan sabar sesi terapi Arumi.


"Tring.. Tring..." suara notif WA milik Ahmad berbunyi. Dilihatnya pesan datang dari Alex yang menggoda Ahmad kalau Maria mencarinya


Ahmad yang membaca pesan itu berdiri dengan cepat, hingga membuat yang lain terkejut. Wajahnya berubah jadi merah dan ia sangat malu.

__ADS_1


Izam sedikit curiga, melihat tingkah laku adiknya itu.


Sesi terapi yang dilalui Arumi merupakan sesi yang panjang. Seluruh keluarga hanya bisa menunggu hasil dan kesimpulan dari sang Psikolog.


Setelah melakukan sesi terapi yang begitu lama, akhirnya selesai dan terlihat Arumi yang lebih mendingan. Dokter memanggil Abi dan Bunda untuk berbincang sejenak.


"Aku pingin jalan-jalan bentar bareng semuanya boleh?" tanya Arumi sedikit manja dan tersenyum.


Ahmad dan yang lain tidak bisa menolak dan pergi ke beberapa tempat wisata hingga menjelang sore.


Sesampainya mereka di rumah, Ahmad teringat janji dia dengan Nek Aisyah untuk mengambil seragam, sekaligus baju yang dipinjamnya.


Namun saat sampai di kamarnya, Ahmad tidak bisa menemukan baju milik Nenek. Ia kebingungan dan membongkar semua lemarinya. Ia duduk sejenak dan mencoba berfikir lebih keras. Tapi sia-sia.


Tetapi Ahmad adalah seorang pria yang mempertanggung jawabkan janji dan kata-katanya. Maka dari itu, ia akan pergi ke rumah Nek Aisyah dan meminta maaf untuk memohon tambahan waktu mencari bajunya.


Karena hari yang sudah semakin sore, Ahmad menggunakan Hoodie hitam, dan celana training panjang melajukan motor sport kesukaannya itu.


[ Maria POV]


"Mar bareng pulang gak?" tanya Widya berjalan menuju mobil jemputannya.


"Gak usah Wid, terimakasih. Naik angkutan saja" jawab lembut Maria.


"Okay kalau begitu. Aku duluan ya bye.. " pamit Widya


Maria melambaikan tangannya.


Dari belakang, terlihat Alex, Jerry dan Roby berjalan keluar menuju parkiran.


"Lagi nunggu Ahmad ya.. Ciye.." goda Alex sambil tersenyum dan menunjuk-nunjuk Maria.


"Alex ya.. Dasar.. Aku gigit nih. Raurr.. " canda Maria berpose seperti harimau yang siap menerkam.


"Astaga.. " Alex tiba-tiba kehilangan keseimbangan melihat Maria melakukan hal itu.


"Hushh.. Huss.." usir Maria dengan tangannya.


"Maaf ya Mar" ucap Jerry sambil merangkul Alex dan membawanya pergi.


Alex yang masih terpesona ditarik paksa Jerry, namun pandangannya masih tertuju ke Maria


"Hati.. Hati.. Nanti suka" ucap Jerry ke Alex


"Busett.. Apaan sih" sangkal Alex.


Maria lalu naik angkutan umum dan sampai di depan gang rumah, ia berjalan pelan menelusuri jalan-jalan sempit menuju rumahnya. Di tengah perjalanan, tetangga Maria mengatakan kalau ada tamu yang datang ke rumahnya.


Maria berjalan dengan cepat dan sampai di depan rumah.


"Nek.. Nenek" panggil Maria masuk.


Dan saat sampai di dalam.


"Nek.. Maria.. Pul.. " terkejut Maria tidak bisa meneruskan kata-katanya karena melihat Ahmad sedang duduk bersama Nenek.


"Ahmad.. " tunjuk Maria terkejut.

__ADS_1


"Mar.. Maria.. " Ahmad berdiri dari tempat duduknya dan terkejut melihat Maria.


__ADS_2