
[ Masa Sekarang]
"Mama... Papa... Tania... Sisca... " teriak Maria terbangun dari tidurnya.
Maria terbangun dengan badan yang sudah basah dengan keringat. Kepalanya terasa pusing dan tangannya sedikit sakit.
Setelah Maria melukai dirinya sendiri di kamar mandi kemarin malam, ia kembali ke kamar tidur dan merebahkan badannya lalu tertidur lelap.
"Mimpi buruk" lirih Maria sambil tersengal-sengal.
"Maria, nak.. Ada apa? " teriak Nenek masuk kedalam kamar mendengar teriakan Maria.
"Mimpi buruk lagi? " tanya Nenek cemas sambil memeluk erat Maria
Maria hanya mengangguk dan memeluk erat Nenek Aisyah. Nenek sekilas melihat sesuatu di kulit tangan Maria, dan Maria yang menyadarinya segera melepaskan pelukannya dan izin untuk pergi mandi dan bersiap masuk sekolah, karena waktu sudah menunjukan pukul 5 pagi.
Nenek hanya menatap Maria dan menaruh curiga kepada cucunya itu, dan beliau pergi keluar kamar menuju dapur
Setelah mandi, Maria segera melapiskan bedak khusus untuk menyamarkan bekas luka sayatan di kedua lengannya. Ia menyisir rambut hitam panjang lurusnya dan memoles bibirnya dengan lipstik merah tipis dan memakai seragam putih abu-abu. Saat semua sudah selesai, terdengar suara ketukan dari pintu.
"Masuk Nek" kata Maria sambil membuka pintu.
"Nak, Nenek mau ngomong sesuatu sama kamu" ujar Nenek sambil meminta Maria untuk duduk disebelahnya
"Apa Nek? " tanya Maria
"Nak, pertama Nenek mau meminta maaf kalau apa yang Nenek katakan bakal melukai hatimu" kata Nek Aisyah dengan raut muka yang cemas.
"ya Tuhan nek, Maria ini kan cucu Nenek, dan Maria sangat menyayangi Nenek. Maria gak akan sakit hati kok " jawab Maria sambil tersenyum.
Nenek kemudian memegang tangan Maria dengan lembut
"Nak, kamu harus berusaha melupakan orang tua sama teman kamu ya. Mereka sudah tenang di atas sana" kata Nenek sambil meneteskan air mata.
Air mata Maria langsung menetes membasahi pipinya. Ia tiba-tiba menangis sesenggukan mengingat hal buruk yang terjadi kepada keluarga dan sahabatnya.
"Gak bisa Nek.. Gak bisa... " tangis Maria pecah sambil memukul dadanya yang terasa sesak.
"Ma.. Maaf Nek" lanjut Maria disela tangisannya
"Mereka cahaya bagi Maria Nek. Disaat semua terasa gelap dan menakutkan, mereka ada disamping Maria" lanjut Maria yang terus menangis
"ya Allah, kasihannya cucuku... Sudah nak jangan nangis. Maafkan Nenek ya.. Nenek gak kuat liat kamu menderita" Nenek yang berusaha menahan tangisnya akhirnya tak kuasa dan air matanya mengalir..
Untuk beberapa saat merkea berdua saling meluapkan kesedihan.
__ADS_1
Setelah semua sudah terasa tenang, Nenek segera mengusap air mata Maria dan memintanya untuk segera bersiap berangkat ke sekolah. Dengan segera, Maria pergi ke kamar mandi untuk membasuh wajah, kemudian memakai make up miliknya lagi.
Waktu sudah menunjukan pukul 06.25 pagi. Maria berpamitan dan pergi menuju pinggir jalan untuk menunggu angkutan. Setelah 5 menit menunggu, angkot datang dan menghabiskan perjalanan selama 15 menit, hingga akhirnya Maria sampai di sekolah dengan selamat.
Maria sedikit merasa tidak enak badan, namun ia harus masuk sekolah, karena ini masih hari ke 2 nya.
Saat ingin masuk kedalam kelas, dari arah samping ia bertatapan langsung dengan Ahmad yang juga hendak masuk kedalam.
Mata Ahmad dan Maria bertemu dan tertegun saling menatap. Untuk waktu yang sedikit lama, Maria menatap Ahmad dengan mata sendu sambil tersenyum. Hal tersebut tentu saja membuat Ahmad tiba-tiba salah tingkah dan membalas senyum Maria dengan senyuman lebar.
Sontak anak kelas yang sudah melihat dari tadi terkejut dan melongo melihat Ahmad salah tingkah dan senyum ke seorang cewek.
Saat melihat Ahmad, yang ada di fikiran Maria adalah rasa penasaran tentang mengapa hatinya terasa tenang dan aman ketika memegang tangan Ahmad. Tanpa fikir panjang, Maria berusaha memegang tangan Ahmad untuk memastikannya sekali lagi.
"Hiya... " tepuk Alex dari belakang mengejutkan Ahmad dan Maria.
Dari belakang 3 teman yang lain muncul.
Maria segera mengurungkan niatnya.
"Ada apa ini, pagi-pagi kok romantis bener" seringai Alex sambil menepuk halus perut Ahmad.
"Ada aja ya lu. Ini pasti belum minum obat " pukul Ahmad ke perut Alex
"Aduhhh. Ampun bos" mundur Alex sambil memegangi perut.
"Lu pelan, tapi sakit anjir" jawab Alex
Maria yang sedari tadi melihat tingkah laku Ahmad dan teman-temannya merasa senang dan juga sedih, karena mengingatkannya akan kenangan dirinya dengan Sisca sahabat karibnya dulu.
Segera Maria masuk ke kelas sebelum air matanya jatuh lagi. Dia harus berusaha tegar demi mendiang sahabatnya dan juga keluarganya.
"Pagi Maria" sapa Widya yang sedang duduk dan memainkan hp miliknya.
Dari belakang 4 Serangkai mengikuti masuk ke kelas. Mereka semua duduk di bangku masing-masing dan mengeluarkan hp. Sedangkan Jery mengeluarkan buku manga yang dia sukai.
"Kamu habis nangis Mar? " celetuk Widya yang segera tau saat melihat mata Maria.
"Ndak kok.. Perasaanmu aja mungkin" jawab Maria tenang
"Jangan bohong.. Aku tau kok ciri-ciri orang habis nangis. sudah jelas dari kelopak matamu" kekeh Widya.
Mendengar hal itu, Ahmad yang sedari tadi memainkan hp, segera mengentikan aktivitasnya. Ia dengan sendirinya berusaha menguping pembicaraan Widya dan Maria.
Maria yang tidak kuasa menahan semuanya, akhirnya menyerah dan meneteskan air mata.
__ADS_1
"Loh Mar.. Kenapa?. Malah nangis beneran" sesal Widya dan panik
"Kamu sih.. Aku sudah berusaha tahan, kamunya nanya-nanya terus" jawab Maria terus menangis menutup mata dengan kedua tangannya
Sontak kegiatan di kelas yang awalnya sedikit ramai, terhenti seketika mendengar tangisan Maria yang bahkan ia berusaha tahan supaya tidak terdengar keras.
Widya yang merasa bersalah, berusaha menenangkan Maria.
"Hayoloh Wid.. Tanggung jawab.. " celetuk Alex dari belakang, menggoda Widya supaya takut.
"Ihh apaan sih.. Kan gua gak bermaksud" ujar Widya dengan wajah sedih karena merasa bersalah.
Ahmad meletakan hpnya, kemudian berdiri dan berjalan menuju Maria.
"Nih.. Buat hapus air mata lu" ucap Ahmad sembari menyodorkan Kain kecil bermotif garuda ke arah Maria.
"Makasih.. Tapi aku udah gpp kok" jawab Maria sopan menolak pemberian Ahmad.
Tanpa basa-basi, Ahmad menarik tangan Maria dan memberikan kepadanya.
"Kalau capek atau gak kuat, bilang. Gak usah ditahan" ujar Ahmad dengan tatapan serius
Maria hanya mengangguk sambil menahan air mata yang sebentar lagi bakal keluar banyak.
Perkataan Ahmad terngiang terus di kepala Maria. Apa selama ini Maria hanyalah berpura-pura untuk kuat. Maria berfikir apa dia butuh seseorang untuk jadi tempat ia cerita keluh kesahnya
Selama ini, Maria menyimpan semua rasa sakit dan penderitaan untuk dirinya sendiri. Ia juga tidak mau membuat Nenek Aisyah ikut kesusahan dan menderita memikul beban yang ia miliki. Meskipun dalam lubuk hati terdalam, ia tau kalau Nenek bakal siap menanggung beban.
Pelajaran hari ini berlangsung dengan lancar, Widya berusaha menghindari obrolan yang dirasa sensitif saat berbicara dengan Maria. Tanpa sadar, Maria melirik ke Ahmad lebih banyak dari kemarin, namun berusaha menghindar jika Ahmad menatapnya balik.
Sekolah telah selesai dilalui. Demi menebus kesalahannya, Widya mengajak Maria untuk menginap di rumahnya dan besok bisa berangkat ke sekolah bareng. Awalnya Maria sedikit ragu, namun pada akhirnya ia setuju.
"Wid, aku harus ijin ke Nenek dulu ya" ujar Maria.
"Oke.. Ayo sekalian naik mobil menuju ke rumahmu dulu terus langsung ke rumahku" jawab Widya
"Ayo.. Nanti aku arahkan jalannya". Sahut Maria
Segera mereka berdua masuk kedalam mobil dan Maria membantu pak supir menunjukan arah. Tak lama kemudian mereka sampai.
Terlihat raut wajah kesedihan Widya saat melihat lingkungan tempat tinggal Maria. Entah kenapa perasaan Widya mengatakan kalau Maria adalah orang yang benar-benar bisa dipercaya dan baik. Walaupun mereka baru kenal 2 hari.
Dari belakang terlihat seseorang sedang mengendarai motor sport berwarna merah dan hitam.
Pria itu kemudian berhenti tidak jauh di belakang mobil Widya. Dibukanya helm miliknya.
__ADS_1
"Fuhhh.. " Helaan nafas dari Ahmad