
[ Di rumah Widya ]
"Gimana rasanya Mar? " tanya Widya disela-sela santapan mereka.
"Enak Wid. Bener-bener Woahh.. " jawab Widya dengan raut muka yang merasakan nikmat.
Widya tersenyum bahagia melihat Maria menikmati makanannya.
Setelah menyantap, Maria berdiri lalu membawa semua piring yang kotor ke dapur.
"Maria, jangan. Sudah taruh aja, nanti ada yang bersihin" pinta Widya sambil memegang tangan Maria.
Maria kemudian mengerutkan dahi dan dengan tegas menolak perintah Widya. Widya mengerti, lalu dengan lembut ia melepas genggaman tangannya. Maria tersenyum lalu pergi ke dapur.
"Non, biar saya saja" pinta ibu tua mengenakan baju daster di dapur.
"Ibuk, ndak apa-apa. Biar saya saja" jawab Maria dengan senyum, sembari mencuci piring-piring kotor.
"Jangan non, ini sudah tugas saya" pinta ibu tua itu sekali lagi.
"Ibuk, tidak apa-apa kok. Ibuk kan bekerja untuk keluarga Widya, sedangkan saya kan tamu dan juga saya sudah biasa seperti ini. Ini emang kemauan saya" jawab Maria tegas dan tersenyum menenangkan hati Ibuk itu yang cemas
Ibu tua tersebut mengelus dada dan tersenyum melihat perilaku Maria yang baik hati ditengah-tengah zaman anak jaman sekarang yang sudah berubah.
Ibuk tua itu dengan sigap, membantu mengeringkan piring dan menatanya di rak. Semuanya terjadi dengan rapi dan cepat.
"Terimakasih ya Non" ucap Ibuk itu
"Ibuk, jangan panggil saya non ya, nama saya Maria" pinta Maria sambil memegang tangan Ibuk tua itu.
"Sama-sama" jawab Maria dengan senyum tulusnya.
Maria lalu kembali dari dapur dan menuju meja makan. Widya menunggu sambil memainkan hp miliknya.
"Widya.. Ayok belajar" cletuk Maria.
"Ya Allah.. Kaget aku. " kaget Widya karena terlalu fokus dengan hp miliknya.
"Kamu sih.. Serius amat lihat hpnya" ucap Maria.
"Iya ayok Mar" jawab Widya berdiri dari kursi.
Saat Maria dan Widya mau naik ke lantai 2, pintu depan terbuka dan masuk 2 orang yang tak lain adalah orang tua Widya.
"Assalamualaikum" salam pria dengan setelan jas memakai kacamata.
"Wallaikumsalam" jawab Widya spontan.
Saat Widya sadar kalau itu adalah orang tuanya, ia lari sekencang-kencangnya dan menyambut mereka seperti anak kecil yang berumur 8 tahun.
Dipeluknya kedua orang tua Widya dan mereka membalas dengan pelukan dan kasih sayang.
Tanpa sadar, air mata Maria jatuh di pipinya. Melihat kebahagiaan yang ada didepannya adalah mimpi yang ia dambakan dan berharap bisa ada untuk selamanya.
Dengan sigap, Maria berjalan menuju dapur dan mencuci mukanya. Kakek yang berdiri di samping, melihat Maria dan air matanya.
Widya yang sudah teralihkan kepada orang tuanya seperti lupa jika ada Maria. Widya dengan girangnya mengajak kedua orangtuanya untuk duduk dan ngobrol di ruang tamu.
__ADS_1
Setelah membasuh mukanya, Maria lalu kembali ke tempat asalnya tadi dan melihat Widya sudah menggandeng orang tuanya untuk ke ruang tamu.
"Mohon maklumi ya kelakuan Widya" cletuk Kakek yang menghampiri Maria
"Eh Kakek.. Iya kek" jawab Maria sambil menganggukkan kepalanya
"Udah 3 bulan, mereka tidak bertemu, karena Asnan dan Mutia bekerja di luar negeri" imbuh Kakek menjelaskan.
Maria hanya tersenyum mengerti betapa rindunya Widya terhadap orang tuanya.
"Ikut Kakek ke teras depan boleh? " tanya Kakek.
"I... Iya kek" jawab Maria grogi.
Kakek mengajak Maria untuk pergi ke depan teras rumah dan duduk di satu meja kayu dengan 2 kursi kayu lainnya di samping kanan dan kiri.
Terlihat langit yang sudah gelap dan lampu taman yang sudah menyala, siap menjadi saksi cerita
"Duduk... " perintah Kakek
Maria lalu duduk dan melihat ke arah Kakek.
Kakek melihat Maria sejenak lalu mengalihkan pandangannya ke arah taman yang ada di depan.
"Kowe duduk asli Jakarta kan? " tanya Kakek
(Kamu bukan asli Jakarta kan?)
Maria yang terkejut karena Kakek tiba-tiba menggunakan bahasa jawa.
(Iya Kek)
"Totok kuto endi? " tanya kakek sembari menyeduh kopi yang ada di meja
(Dari Kota Mana?)
"Kulo saking Blitar" jawab Maria menatap Kakek serius
(Saya dari Blitar)
"Kakek perhatikno, kowe akeh pikiran ta nduk?"
(Kakek perhatikan, kamu banyak fikiran ya?)
"Mboten, kulo sae mawon" jawab Maria menunduk
(Tidak, saya baik-baik saja)
"Lek mung kowe pendem, bakal ngerusak uripmu nduk" kata Kakek yang masih menatap taman di depannya
(Kalo tetep kamu pendam, bakal merusak hidupmu)
Maria hanya terdiam menahan supaya air matanya tidak jatuh.
"Kakek ngerti, lek iki duduk urusan kakek. Nanging kakek gak iso ndelok wong susah ati"
(Kakek mengerti ini bukan urusan kakek. Tapu kakek tidak bisa lihat orang yang sedang susah hati)
__ADS_1
"Mboten nopo-nopo kek, Maria pun kuat ngadepi masalah" jawab Maria yang tanpa sadar meneteskan air mata
(Tidak apa-apa Kek, Maria sudah kuat menghadapi masalah)
"Becik ketitik, ala ketara". Nasihat Kakek dengan menatap Maria serius.
(Perbuatan baik akan selalu dikenali, dan perbuatan buruk nantinya juga akan diketahui juga)
"Opo ae masalah sing mbok hadepi, Kakek percoyo yen perbuatan buruk bakal ketauan. Ojok kuatir, sing sabar" imbuh Kakek
(Apa saja masalah yang kamu hadapi, Kakek percaya kalau perbuatan buruk bakal ketahuan. Jangan khawatir, yang sabar)
Maria yang mendengar nasihat itu langsung tak kuasa menahan air matanya. Rasa kesal dan sakit hati, ia pendam dan simpan dalam-dalam. Kejadian mengerikan yang pernah ia rasakan dan kehilangan orang tersayang karenanya.
Kakek yang melihat hanya bisa terdiam dan membiarkan Maria meluapkan semua tangisannya.
Widya dan kedua orang tuanya tiba-tiba datang dan lari menuju ke arah suara tangisan dan Widya terkejut melihat Maria.
"Ada apa ini kek? " tanya Widya heran
Kakek hanya mengangkat jari telunjuknya di depan mulut, menunjukan gestur supaya Widya diam dahulu, untuk membiarkan Maria melepas semuanya.
Setelah Maria sudah merasa baikan, ia dibawa Widya untuk naik ke atas dan duduk istirahat. Saat di kamar tidur, Widya hanya bisa menenangkan Maria dan memberi dia semangat.
Di dalam hati Maria, ia merasa yakin kalau Widya dan keluarga adalah orang yang baik. Perasaannya mengatakan untuk bercerita tentang beban hidupnya kepada Widya.
Maria lalu menarik Widya untuk duduk di depannya. Mereka berdua saling bertatapan.
"Wid, boleh aku cerita masa lalu ku? " tatap Maria serius dengan mata sembab
"Gua siap Mar" jawab Widya siap mendengar
Maria kemudian bercerita dari awal kehidupannya hingga ia sampai di Jakarta.
Mata Widya berlinang air mata. Air matanya tanpa henti keluar dan membuat Widya sesenggukan mendengar betapa pahit kisah yang dilaluinya.
Namun Maria meminta maaf kalau ia belum bisa mengatakan nama para pelakunya, dan Widya sangat memahami hal itu. Widya bahkan mengatakan kalau Maria siap melawan mereka di jalur hukum, Widya bakal minta Mamanya yang seorang Pengacara untuk membantunya.
Maria sangat bersyukur akan hal itu. Lalu mereka berdua segera membasuh muka dan melanjutkan tugas kelompok bersama.
Disaat yang sama di lantai bawah, Kakek dan kedua orang tua Widya duduk untuk makan malam bersama.
"Pak ada apa tadi? " Tanya Mutia
"Bapak liat wanita hebat dan kuat yang siap melawan kejamnya dunia" jawab Kakek tegas
"Namun ada keraguan dan sakit hati yang sedikit demi sedikit mekikis mental dan kehidupannya" imbuh Kakek.
"Tapi dia wanita kuat dan Bapak senang, karena Widya punya teman seperti dia" tambah Kakek lagi dengan tegas.
"Baru kali ini Bapak tertarik sama temen main Widya. Yang berarti anak itu emang sosok hebat yang hanya bisa dilihat Bapak" sahut Asnan menantunya.
"Bapak sudah hidup 75 tahun. Dan Bapak bisa melihat karakter orang tanpa tau masa lalunya" Kata Kakek sambil melihat ke Mutia dan Asnan.
"Dhuwur wekasane, endhek wiwitane".
...(Kesengsaraan yang membuahkan kemuliaan)...
__ADS_1