Cinta 2 DOA

Cinta 2 DOA
Ch 21 : Tembok Tinggi


__ADS_3

"Mar... " ucap Ahmad


"Hmmm.. " jawab Maria yang masih mengobati jari Ahmad.


"Look at me.. " ucap lembut Ahmad mengangkat dagu Maria menghadap ke arahnya.


Dengan wajah cantiknya, Maria menatap Ahmad dengan kelembutan.


"Aku... " Ucapan Ahmad tertahan.


[ Kamu tau kan Mad, kalau ada tembok tinggi di antara kalian ] ucapan Jerry waktu itu tiba-tiba muncul di kepala Ahmad


"Ada apa Mad?" tanya Maria yang menunggu ucapan Ahmad.


"Aku... Mau bilang terimakasih mau mengobati lukaku" kata Ahmad tertawa kecil


"Fiuu... Sama-sama " Maria menghela nafas sejenak dan kembali mengobati jari Ahmad.


Setelah jari Ahmad selesai di olesi obat, sekarang Maria menuju bibir Ahmad untuk di obati. Mata Ahmad sama sekali tidak lepas memandang wajah dan bibir Maria.


"Ini akan sedikit sakit, siap ya" Maria mengoleskan obat dengan jari kelingkingnya menyentuh pinggir bibir Ahmad.


"Aku juga mau bilang terimakasih ya Mad" ucap Maria yang masih mengolesi obat.


"Makasih kenapa?" tanya Ahmad dengan polosnya.


Maria kemudian menatap Ahmad dengan heran.


"Astaga.. Terimakasih mau nolong aku tadi, dan juga terimakasih karena kamu udah nyiapin hadiah untuk aku, terimakasih juga karena sudah ajak aku jalan-jalan." ucap Maria tersenyum lebar.


Jantung Ahmad berdetak semakin tidak karuan melihat Maria tersenyum penuh ketulusan. Rasanya dada terasa sesak untuk sesaat.


"Juga aku mau mengucapkan terimakasih atas apa yang sudah kamu lakukan kemarin di sekolah . Dan juga maaf karena aku, kamu. " ucap Maria lagi dan terhenti sejenak


"Sekolah?. Kamu tau darimana?" tanya Ahmad terkejut


"Maaf, aku tidak bisa bilang tau darimana. Hanya saja, kamu jangan sampai melakukan hal yang bakal merugikan diri sendiri" kata Maria lanjut mengobati bibir Ahmad.


"Mar, gak ada yang dirugikan sama sekali. Aku akan memukul bahkan 100 orang sekalipun, jika mereka menghina atau melecehkan seperti itu" Ahmad mengangkat tangan Maria sebentar lalu mengatakannya dengan tatapan serius.


"Pelecehan ya..." mendengar kata-kata itu, untuk sesaat Maria susah bernafas dan memegangi dadanya.


"Mar... Mar... Kenapa?" teriak Ahmad ketakutan.


"I'am okay.. Relax.. Tarik nafas... Keluarkan" ucap Maria untuk menenangkan diri.


Ahmad sangat khawatir dan melihat terus ke arah Maria.


"Mar.. Kamu gak apa-apa?. Mau ke rumah sakit sekarang?" tanya Ahmad yang masih ketakutan.


"Antar pulang saja yuk" ucap Maria berusaha tenang dan tidak panik.

__ADS_1


"Oke.. " jawab Ahmad dengan tegas dan memegangi Maria sampai parkiran dan pulang ke rumah.


Selama perjalanan pulang, Maria sudah merasa tenang dan baikan. Ahmad mengantar Maria sampai depan rumah.


"Kamu beneran sudah gak apa-apa?" tanya Ahmad yang masih terlihat khawatir.


"Aman kok." jawab Maria tersenyum kecil.


"Kalau gitu aku masuk dulu ya" pamit Maria yang melangkah ke depan pintu.


"Terimakasih untuk ini. Nanti aku buka ya" imbuh Maria sebelum masuk kedalam.


"Sama-sama.. Titip salam untuk Nenek" pamit Ahmad kemudian kembali ke motornya dan pergi ke tempat kuliah Kak Izam.


"Ahmad mana?" tanya Nenek yang baru saja keluar dari kamar mandi


"Udah pulang Nek, dia juga pamit ke Nenek" jawab Maria.


"Ya sudah, Alhamdullilah kamu sudah pulang" ucap syukur Nenek.


"Ngomong-ngomong itu apa nduk?" tanya Nenek yang melihat Maria membawa 2 kantong belanja.


"Oh ini.. Yang warna hijau isinya kue-kue. Lalu yang merah aku gak tau isinya. Ini hadiah dari Ahmad" Kata Maria sambil menaruh tas hijau di dapur dan membawa tas merah ke kamarnya.


"Ya Allah... Baik banget nak Ahmad" ucap Nenek senang.


"Ya udah, taruh dulu tasnya, lalu cuci kaki terus makan dulu. Nanti kuenya basi kalau gak dihabiskan." perintah Nenek.


Ahmad akhirnya sampai di tempat kuliah dan jalan menuju kelas Kak Izam. Sudah terlihat Jerry dan Kak Izam yang menunggu di luar kelas.


"Bagaimana lancar?" tanya Kak Izam langsung karena penasaran.


"Ya begitulah.. " jawab Ahmad mengangkat bahunya.


Kak Izam sedikit bingung dengan respon Ahmad dan merasakan sesuatu yang tidak beres.


"Kak Izam, aku boleh ngomong bentar sama Jerry gak?. Kak Izam duluan ke mobil" pinta Ahmad melas ke kakaknya itu.


"Baiklah... Jangan lama-lama, nanti Abi curiga" ucap Kak Izam yang langsung menuju parkiran mobil.


Ahmad hanya mengangguk. Kemudian ia mengajak Jerry untuk duduk di bangku sekitar situ.


Ditemani lampu taman, hati Ahmad sedang gundah gelisah tak menentu.


"Ada apa Mad?" tanya Jerry menatap Ahmad yang lesu.


"Tadi, aku hampir saja mengungkapkan perasaanku pada Maria" ucap Ahmad lembut.


Jerry sontak berdiri terkejut mendengar perkataan temannya ini. Ahmad menarik tangan temennya untuk kembali duduk.


"Terus Mad?" tanya Jerry yang masih shock.

__ADS_1


"Ya gak jadi." jawab Ahmad singkat


"Saat aku ingin ngomong, tiba-tiba saja perkataan mu terngiang di kepalaku. Tembok tinggi itu berdiri di antara kami" imbuh Ahmad.


"Dosa kah Mad, jika aku cinta sama dia?" tiba-tiba suara Ahmad menjadi serak dan ia meneteskan air mata.


Jerry yang melihat, hanya bisa memegang pundak Ahmad.


"Sejenak, aku merasa takut. Jika aku menuruti rasa egois di dalam hatiku, aku takut Maria terluka" imbuh Ahmad yang masih sesenggukan.


"Rasanya seperti di tampar dengan kenyataan" ucapnya lagi.


Jerry tidak bisa berkata-kata. Ia tau jika saat ini, Ahmad hanya ingin di dengarkan.


Tak disangka, selama ini Kak Izam menguping tak jauh dibelakang Ahmad dan Jerry. Kak Izam hanya tertunduk lesuh mendengar untuk pertama kalinya Adiknya seperti itu.


Ahmad kemudian menenangkan dirinya dan mengusap air matanya.


Setelah tenang, Ahmad teringat ucapan Maria dan saat Maria sesak tadi.


"Ngomong-ngomong Jer, bagaimana Maria bisa tau kejadian di sekolah ya" ucap Ahmad


"Ha..? Bagaimana bisa?" Jerry terkejut.


"Hmm.. Pasti ada yang datang ke rumahnya. Karena Maria tidak memiliki HP" Gumam Ahmad dalam hati


"Widya.. Hanya dia dan aku yang tau rumah Maria" Gumam Ahmad sambil menganggukkan kepala.


"Mad.. Ngomong lah.. " Jerry mengguncang badan Ahmad meminta jawaban


"Jer, makasih ya atas motornya. Aku harus pergi ke parkiran dan cepet kembali sebelum Abi curiga" Ucap Ahmad yang langsung berdiri dan berlari menuju parkiran.


"Kampret nih Anak, kan gua penasaran" Grutu Jerry yang masih duduk di bangku itu.


Sesampainya di parkiran Ahmad tidak melihat Kak Izam sama sekali.


Tak lama kemudian, Kak Izam muncul dari belakang dan menghampiri Ahmad.


"Loh, Kak Izam habis darimana?" tanya Ahmad sambil menunjuk ke Kak Izam


"Kamu sih, ditunggu lama. Kakak pergi ke toilet dulu" jawab Kak Izam yang langsung membuka pintu mobilnya.


"Ayo.. Mau pulang gak?" tanya Kak Izam yang tertahan sambil memegang pintu mobilnya.


Ahmad langsung membuka pintu dan masuk kedalam.


Kak Izam tidak bertanya apapun mengenai apa yang ia dengar tadi.


"Ada apa kak? Ayo jalan" tanya Ahmad yang melihat kakaknya melamun.


"Oh iya maaf." Kak Izam tersadar dari lamunannya dan melajukan mobil pulang ke rumah

__ADS_1


__ADS_2