
Jasmin setengah berlari seakan memburu waktu, dia tidak perduli walau hujan menguyur seluruh tubuhnya, dia terus berlari menuju halte bus.
Teeeetttt... Teeeetttt.
Suara klakson tertuju padanya saat dirinya hampir tertarbak mobil mewah yang berhenti di hadapannya membuatnya jatuh terduduk.
"Aakkhhhhh." pekik Jasmin saat mobil itu hampir saja menabraknya.
"Ada apa?" tanya pria yang duduk di bangku belakang.
"Ada wanita ceroboh tuan." sahut sang supir.
Pria itu tersenyum kecut " cepat bereskan." perintahnya.
Sang supir mengangguk pelan dan bergegas keluar dari mobil. Di lihatnya wanita muda yang masih terduduk di depan mobinya dengan wajah yang masih syok.
"Apa kamu tidak punya mata?"
Gadis itu segera bangun.
"Maafkan aku, aku sedang buru buru." ucapnya lirih seraya menundukkan kepalanya.
"Cepat menyingkir!"
Gadis itu segera memundurkan langkah kakinya sedikit menjauh dari mobil tersebut. Sampai mobil mewah itu kembali berjan dan memberi cipratan air kotor tepat di wajah gadis itu.
"Ya ampun! " pekik Jasmin yang langsung mengusap wajah kotornya dengan tangan.
Orang kaya memang menyebalkan, sial sekali aku. batin Jasmin.
Jasmin tersentak yang tiba-tiba teringat dia harus segera ke rumah sakit saat itu. Jasmin berlari kembali menuju halte bus dan segera menaiki bus menuju rumah sakit. Jasmin mempercepat langkahnya menuju ruang ICU tempat ibunya di rawat.
"Dokter, bagaimana keadaan ibu saya?" serunya saat dokter baru saja keluar dari ruangan tersebut.
"Ibu anda kritis, kami harus segera melakukan transplantasi ginjal padanya."
"Apa? transplantasi ginjal?" ucapnya yang tampak terkejut.
"Iya, hanya itu satu satunya cara untuk menyelamatkan hidupnya."
__ADS_1
"Dokter berapa biaya untuk transplantasi ginjal?"
"Biayanya sekitar 750 juta nona."
"Apa? 750 juta?" Jasmin semakin terkejut dengan ucapan dokter tersebut.
"Iya, hanya itu satu satunya cara untuk menyelamatkan hidup pasien."
Tubuh Jasmin terasa sangat lemas dengan tangannya yang sedikit bergetar.
"Lakukan dokter, lakukan apa saja untuk menyelamatkan ibu ku." ucapnya lirih.
"Baik kalau begitu kami tunggu di ruang administrasi, ada beberpa berkas yang nona harus tanda tangani." jelas dokter tersebut yang kemudian berlalu pergi.
Jasmin bergegas menuju ruang ICU. Dilihatnya ibunya yang terbaring lemah dengan berbagai alat medis di tubuhnya. Langkah gontainya semakin terasa melihat orang tua satu satunya yang dia miliki kini dalam keadaan kritis.
"Ibu.. Ibu harus kuat, Jasmin akan melakukan apa pun untuk kesembuhan ibu." ucapnya dengan air mata yang mulai membasahi pipinya.
Tapi bagaimana aku dapat uang sebanyak itu? gaji ku sebagai perkerja part time pun kadang tidak cukup untuk memenuhi biaya makan dan kuliah. batinnya bingung.
"Apa pun caranya aku pasti akan menyelamatkan ibu." ucapnya lirih seraya membelai lembut rambut ibunya.
Keesokan harinya Jasmin mulai berusaha mencari uang atau pinjaman pada tenan atau bahkan mencoba menjual rumah sederhananya tapi hasilnya nihil, dia tidak mendapatkan bantuan apapun.
Sampai malam hari langkahnya mulai terasa lelah, dia pun duduk di depan sebuah bar yang sudah mulai ramai pengunjungnya.
Dari mana aku mendapatkan uang? tidak ada yang percaya kalau aku meminjam sebanyak itu, bahkan harga rumah ku pun sangat tidak bisa menutupi kekurangannya. batinnya resah.
Sampai matanya tertuju pada beberapa wanita sexy yang sedang bermesraan pada pria di bar tersebut.
"Sepertinya mereka itu wanita nakal." gumamnya sambil terus memperhatikan wanita cantik di sana yang tampak tersenyum gembira dengan uang yang di pegangnya.
"Uang mereka banyak sekali, dari mana mereka mendapatkan itu? apa mereka menjual diri?" menjual diri? "
Jasmin termenung sendiri dengan gumamnya.
Dengan menjual diri pasti akan dengan mudah mendapatkan banyak uang.
Seaat kemudian gadis itu menggelengkan kepalanya
__ADS_1
Astaga.. apa yang aku fikirkan! batinnya seraya memukul mukul kepalanya sendiri.
Tak lama Jasmin melihat wanita seksi yang tadi di lihatnya di bar dari kejauhan kini duduk di sebelahnya seraya menyalahkan sepuntung rokok. Jasmin memperhatikan dengan seksama wanita seksi tersebut.
"Kenapa melihat ku saja? mau? " tanya wanita tersebut seraya menawarkan rokok yang di pegangnya.
"Tidak."' Jasmin menggelengkan kepalanya.
Wanita itu tersenyum simpul sambil terus menghisap rokoknya.
"Apa perkerjaan kakak?" tanya Jasmin polos.
"Wanita penghibur." sahutnya santai.
Jasmin tidak kaget mendengar jawaban tersebut karena memang pasti itulah perkerjaan wanita di sampingnya itu.
"Apa menjadi wanita penghibur itu bisa cepat mendapatkan uang banyak?"
Wanita itu tertawa mendengar pertanyaan Jasmin.
"Apa kamu masih sekolah?" tanyanya saat geli mendengar pertanyaan polos dan tidak berguna untuknya.
"Tidak, aku sudah kuliah, baru masuk kuliah."
"Oh pantas."
Jasmin pun terdiam.
"Menjadi wanita penghibur tentu bisa langsung mendapatkan uang tapi uang di hasilkan ya pasti sebanding dengan barang
yang di tawarkan." sambung wanita tersebut.
Jasmin mengerjapkan matanya berulang kali yang sedikit tidak mengerti dengan ucapan wanita di hadapannya.
"Tidak mengerti ya, kamu cantik, masih perawan?" tanya wanita itu sambil memperhatikan wajah cantik Jasmin.
Jasmin mengangguk " Iya aku masih perawan."
"Oh, kamu mau berkerja seperti ku? akan ada pengusaha kaya yang berani membayar mahal mu."' ucap wanita tersebut sambil tersenyum.
__ADS_1
"Apa?" Jasmin tersentak kaget mendengar tawaran tersebut.