
"Kamu?" Dimtitri terbelalak kaget melihat wanita yang di hadapannya adalah Jasmin.
"Kalian sepertinya sudah saling mengenal?" tanya papa Dimitri yang melihat ekspresi wajah keduanya.
"Kenapa aku harus menikah dengannya?" geram Dimitri.
"Memangnya kenapa? gadis ini gadis yang baik." sahut sang papa.
Dimitri tersenyum kecut" Darimana papa tau gadis ini gadis yang baik?" ucapnya merendahkan.
"Sudahlah, jangan membantah papa sudah menyiapkan pesta pernikahan untuk kalian." tegas papa.
"Baiklah aku akan menikah dengannya, tapi aku tidak ingin teman teman dan orang perusahaan ku tau tentang hal ini, ini sangat memalukan untuk ku, cukup kolega bisnis papa saja kalau papa mau mengundang tamu." ucap Dimitri dengan kata-kata yang seolah lagi lagi merendahkan Jasmin.
"Baiklah, terserah kamu saja." pasrah papa, karena tujuan utamanya menikahkan nya dengan Jasmin agar hidup gadis itu tidak sendiri dan ada yang menjamin kebutuhannya.
Sedngkan Jasmin hanya terdiam dan menundukkan kepalanya seakan tidak punya pilihan untuk menghindar apa lagi menolak rencana tersebut.
***
2 minggu kemudian.
Hari ini adalah hari pernikahan Jasmin dan Dimitri. Pernikahan tersebut di langsungkan di sebuah hotel mewah, tampak Dimitri yang tampan dan gagah dengan jaa pengantin yang di kenakakannya tampak juga Jasmin yang cantik dan anggun dengan gaun pengantin yang di kenakakannya. Tapi pernikahan tersebut berlangsung tertutup sesuai dengan permintaan Dimitri, hanya kolega bisnis papanya saja yang menghadiri pernikahan tersebut.
__ADS_1
Sampai acara itu selesai. Mereka menuju rumah pribadi Dimitri yang telah di siapkan papanya. Mobil mewah itu berhenti tepat di depan sebuah rumah mewah dan bagus. Mereka bergegas masuk, tampak beberapa pelayan menyapa mereka ramah.
"Aku mau mandi, cepat siapkan air untuk ku." perintah Dimitri.
Jasmin pun bergegas ke kamar mandi dan menyiapkan air hangat dengan aroma terapi untuk Dimitri mandi.
"Sudah siap tuan." ucap Jasmin yang keluar dari kamar mandi.
Dimitri bergegas mandi. Selesai mandi Dimitri keluar dengan telanjang dada dan rambutnya yang sedikit basah. otot otot kekar terlihat jelas di tubuh putihnya. Jasmin sedikit melirik dan kemudian membuang pandangannya saat Dimitri meliriknya kembali dengan tatapan dingin.
Jasmin beranjak dari sofa dan bergegas untuk mandi juga. Selesai mandi Jasmin melihat Dimitri yang sedang bersandar di ranjang dan sibuk dengan handphonenya.
"Tidurlah di sofa." ucap Dimitri dengan nada dingin.
"Apa?" Jasmin mendelik kaget dengan ucapan pria itu
"Jangan pernah tidur di ranjang ini, ini bukan tempat mu, dan ingat status mu tetaplah sekretaris ku jangan sampai ada yang tau tentang pernikahan ini, satu lagi, aku sudah pernah mencicipi tubuh mu dan pasti bukan hanya aku saja yang seperti itu pada mu kan? kamu menjijikan untuk ku, aku tidak pernah menganggap mu sebagai istri." ucap Dimitri dengan tatapan dan perkataan yang lagi lagi merendahkan.
Jasmin mengepal tangannya, dadanya begitu sesak mendengar ucapan pria di hadapannya saat ini.
"Aku tidak seperti itu." bantah Jasmin dengan mata yang berkaca kaca dan nada yang bergetar.
Dimitri menunjukkan senyum menyebalkannya. "Apanya yang seperti itu? aku bahkan tidak pernah berfikir untuk menikah dengan wanita penghibur seperti mu, ini mimpi buruk untuk ku."
__ADS_1
Jasmin hendak membuka mulutnya untuk kembali menangkis ucapan Dimitri.
Jangan bicara lagi!!." Dimitri lebih dulu berbicara membuat Jasmin terdiam.
Dimitri segera menuju ranjang dan memejamkan matanya. Jasmin perlahan menuju sofa di ruangan tersebut dan berbaring di sana. Bulir air mata perlahan membasahi pipinya, entah apakah dia sanggup menjalani pernikahan ini sampai waktu yang di tentukan dengan berbagai macam perkataan Dimitri yang sangat merendahkannya. tapi Jasmin tidak punya alasan untuk membatahnya karena menjual tubuhnya dengan Dimitri memanglah sebuah kenyataan.
***
Pagi hari Jasmin sudah bangun dan menyiapkan pakaian untuk suaminya. Tak lama Dimitri bangun dan bersiap pergi ke kantor.
"Kamu pergi naik taxi saja." ucap Dimitri seraya memperhatikan penampilannya di cermin.
"Kenapa?" tanya Jasmin heran.
"Kenapa? apa tidak aneh seorang sekretaris di antar ke kantor dengan mobil mewah? dasar bodoh." ucap Dimitri yang langsung keluar dari kamar dan bergegas ke kantor.
Tak lama Jasmin pun sampai di kantor dengan taxi yang di tumpanginya. Jasmin bergegas memulai perkerjaannya seperti biasa. Dia melihat map berisi perkerjaan apa saja yang harus dia kerjakan hari itu.
"Jadwal interview?" gumam Jasmin saat melihat hari ini akan ada karyawan baru yang akan interview dengan Dimitri.
"Permisi nona, saya ada jadwal interview di mana ruangannya?" sapa seorang pria yang menghampiri meja kerjanya.
Jasmin yang sedang fokus membaca mebdongkakan wajahnya. Matanya membulat saat melihat sosok pria yang tak asing untuknya telah berdiri di hadapannya.
__ADS_1
"Arkan?" ucap Jasmin yang melihat teman kuliah sekaligus pria yang pernah mencintainya tengah berdiri di hadapannya.
"Jasmin?" Arkan tersenyum melihat paras cantik gadis itu ada di hadapannya.