Cinta Dalam Masalalu

Cinta Dalam Masalalu
Mulai perhatian


__ADS_3

Pagi itu Jasmin bergegas mandi dan memakai kemeja kerjanya.


"Kamu mau berkerja?" tanya Dimitri yang bersandar di ranjang seraya memperhatikan Jasmin yang tengah menyisir rambut panjangnya di meja rias.


"Iya,"


"Mulai sekarang berhentilah berkerja," titahnya.


"Apa?" Jasmin menoleh dengan ekspresi bingung.


Dimitri beranjak dari ranjangnya."Kamu tidak boleh berkerja lagi detik ini, perhatikan saja kandungan mu, nanti malam kita periksakan ke dokter." Memegang lembut bahu Jasmin dan bergegas ke dalam toilet.


Jasmin hanya terdiam dan pasrah dengan perintah suaminya.


***


Malam hari setelah pulang dari kantor Dimitri ke rumah sakit untuk memeriksan kandungannya.


"Janinnya sehat, usianya sudah 5 minggu, jaga pola makan ya nona, saya akan memberikan vitamin," ucap seorang dokter wanita dengan senyum ramahnya.


Jasmin tersenyum dan tak lama keluar dari rumah sakit bersama Dimitri.


"Apa kau ingin makan sesuatu?" tanyanya di tengah tengah perjalanan mereka.


Jasmin menggeleng."Tidak, aku tidak nafsu makan," tolaknya.


"Terserah kau tidak mau makan, tapi anak ku harus makan,"


Dimitri memberhentikan mobilnya di sebuah warung makan pinggir jalan.


"Turunlah,"


Jasmin turun dan Dimitri memesan satu porsi pecel ayam.


"Makanlah, kau bilang ini makanan kesukaan mu," titahnya saat makanan tersebut selesai di buat.


"Tuan tidak makan?" melihat hanya ada satu porsi makanan di sana.


"Aku tidak lapar,"


Jasmin menyuap nasi dengan tangannya lalu mendekatkannya ke bibir Dimitri.


"Makanlah," ucap pelan Jasmin.


"Aku bilang aku tidak lapar," tolak Dimitri.

__ADS_1


"Aku tidak perduli jika tuan tidak makan, tapi aku tidak mau ayah dari anak ku sakit karena tidak makan."


Dimitri tersenyum tipis mendengar ucapan Jasmin, membuka mulutnya dan membiarkan Jasmin menyuapinya.


"Mulai sekarang, berhentilah memanggil ku tuan,"


Uhuk.. Uhuk.


Jasmin tersendak mendengar ucapan Dimitri.


"Apa?"


"Apa kau tuli?"


"Kalau tidak tuan, aku harus memanggil apa?" Jasmin memasang wajah heran.


"Heeemmm.. mungkin, suamiku, sayang, atau baby?"


Jasmin tertawa kecil mendengar ucapan Dimitri."Apa tidak apa?".


"Memang seperti itu kan seharusnya panggilan suami istri?" Dimitri balik bertanya.


"Iya, memang harus seperti itu,"


"Lalu?"


"Kedengaranya bagus." Dimitri tersenyum dan tak lama mereka pulang ke rumah malam itu.


***


Pagi harinya Jasmin tengah sibuk di dapur usai Dimitri pergi ke kantornya.


"Kalau aku mengantar makan siang ke kantornya sepertinya tidak buruk," gumam Jasmin dengan seulas senyum di bibirnya.


Jasmin segera menaruh masakannya ke kotak makan, lalu bergegas menuju kantor Dimitri. Tak lama Jasmin sampai.


Tok, Tok, Tok.


"Masuk,"


"Kamu?" ucap Dimitri yang melihat Jasmin di balik pintu dengan senyum manisnya.


"Apa.. aku menganggu?" tanyanya dengan nada ragu.


"Tidak, masuklah." Dimitri tersenyum dan mempersilahkan Jasmin duduk di sofa.

__ADS_1


"Aku tadi memasak dan membawa masakan ku," memberikan kotak makan pada Dimitri.


Tuan muda itu terdiam, sepanjang hidupnya dia tidak pernah di bawakan masakan seorang wanita untuk dirinya.


"Terima kasih," ucapnya lembut.


"Semoga kamu menyukainya," Jasmin tersenyum lega.


Dimitri pun segera menyantap makanan tersebut.


"Uweeekk," terdengar suara mual dari bibir Jasmin yang sudah tak tertahankan.


"Kamu mual?" Dimitri menghentikan makanya.


"Iya, maaf, aku pasti menghilangkan selera makan mu." sesal Jasmin yang seharusnya tidak seperti itu di hadapan suaminya yang sedang makan.


"Apa kau ingin sesuatu?"


"Ingin sesuatu?" Jasmin mengerutkan keningnya.


"Maksud aku apa kau ingin sesuatu untuk menghilangkan rasa mual mu, semacam mengidam?"


Jasmin tertenggun dengan ucapan tak biasa dari Dimitri.


"Aku akan membelikan nya untuk ku, katakan saja,"


"Apa boleh?" tanya Jasmin ragu.


"Aku yang menawari mu mana mungkin tidak boleh, cepat katakan?" ucapnya gemas.


"Rasanya ingin sekali strawberry," ucapnya pelan.


"Strawberry lagi? kau ini sedang mengidam atau memang suka dengan buah itu?" ucap heran Dimitri yang mendengar kata strawberry dari bibir Jasmin untuk kesekian kalinya.


Jasmin hanya terdiam.


"Baiklah, aku akan membelikannya untuk mu, tunggu di sini," Dimitri segera beranjak dari sofanya dan hendak berjalan keluar dari ruangannya.


"Terima kasih.. suamiku," ucap Jasmin pelan yang membuat Dimitri menoleh dan tersenyum tipis mendengarnya.


Sekian menit Jasmin menunggu Dimitri yang sedang membelikan strawberry untuknya. Jasmin beranjak dari duduknya dan berjalan melihat ruang kerja Dimitri yang tertata rapih. Jasmin memicingkan matanya melihat tumpukan buku di meja kerjanya dan terselip koran yang telah usang di sana.


"Sepertinya ini koran lama?" Jasmin mengambil koran tersebut dan matanya terbelalak kaget melihat suatu berita di sana.


"Bukankah? ini berita tentang kematian ayah?" melihat berita beberapa tahun silam tentang kecelakaan yang menimpah ayahnya.

__ADS_1


"Kenapa Dimitri mempunyai koran ini? dan menyimpannya?" gumam Jasmin dengan wajah bingung dan tidak percaya.


Guys. maaf yak aku baru up.. semoga aku bisa lebih fokus menulis novel ini, terima kasih dukungannya ❤️❤️


__ADS_2