Cinta Dalam Masalalu

Cinta Dalam Masalalu
Berhenti merendahkan ku


__ADS_3

Dimitri segera masuk ke mobil, duduk di samping Jasmin dan membiarkan supir pribadinya melajukan mobil tersebut. Sepanjang perjalanan mereka hanya terlihat guratan ekspresi jengkel di wajah Dimitri.


Dimitri hanya fokus menetapkan ke arah luar jendela sepanjang perjalanan. Sampai mobil itu berhenti di depan rumah mereka. Jasmin segera masuk, tampak beberapa pelayan menyapa ramah mereka. Jasmin bergegas masuk ke kamar di susul Dimitri yang langsung menahan lengannya erat.


"Ada apa?" tanya Jasmin bingung.


Dimitri menatap tajam gadis di hadapannya itu "Apa teman mu itu pernah memakai jasa mu?" tanyanya yang selalu beranggapan Jasmin hanyalah gadis yang suka menjajahkan tubuhnya pada sembarang pria.


"Tidak, aku hanya sekali menjual tubuh ku karena suatu alasan, dan itu hanya dengan tuan." ucap Jasmin yang lebih memilih mengatakan yang sebenarnya dari pada Dimitri selalu merendahkannya.


Dimitri tersenyum kecut "Alasan macam apa itu?" ucapnya tak percaya.


"Aku berkata yang sebenarnya," tegas Jasmin.


"Selalu seperti itu alasan klasik wanita malam, meninggikan harga dirinya yang memang sudah rendah." ketus Dimitri.


Jasmin melepaskan tangan Dimitri darinya, sungguh dia tidak mengerti isi fikiran pria di hadapannya itu.


"Aku sudah menjelaskannya, berhentilah merendahkan ku!" geram Jasmin yang sudah tidak sanggup lagi menerima semua hinaan dari Dimitri.


"Berhentilah bicara dengan karyawan baru itu." pinta Dimitri.


Jasmin mengerutkan keningnya "Arkan teman ku, aku hanya bicara dengannya dan tidak melakukan apa pun, apakah itu salah?" ucap Jasmin yang menganggap sikap Dimitri sangat berlebihan.


"Berhentilah, membantahku!!" sentak Dimitri.


"Berhentilah merendahkan ku." sahut Jasmin.


"Dasar wanita murahan!" sentak kembali Dimitri.


PLAAKK!!


Tamparan kembali mendarat di pipi Jasmin karena Dimitri telah habis kesabarannya.

__ADS_1


"Wanita liar memang selalu membangkang." ucapnya yang langsung bergegas keluar kamar.


Jasmin hanya memeganggi pipinya, yang sepertinya lebih perih perasaannya yang harus menjalani pernikahan dengan Dimitri. Jasmin duduk di ranjang, di bukanya laci di samping ranjang dan di ambilnya selembar foto yang terus dia pandangi sambil menangis.


"Ibu, Jasmin rindu ibu, kembali lah ibu.. tidak ada lagi yang menyayangi Jasmin." ucapnya yang semakin terisak menangis.


Sesaat kemudian, Jasmin bangkit dari ranjangnya. Dia keluar kamar, tampak rumah besar yang sepi, Jasmin memutar pandangannya yang tidak sama sekali melihat Dimitri di seluruh ruangan. Jasmin pun bergegas ke luar rumah, menaiki taxi dan menuju suatu tempat.


Sampai taxi itu berhenti di tempat tujuan, dimana terdapat rumah sederhana di depannya. Jasmin bergegas turun dan melangkahkan kakinya yang cukup lama tidak berkunjung ke rumah sederhana miliknya itu.


Tampak rumah yang sepi, tapi penuh kenangan untuk nya terutama kenangan bersama orang tuanya.


***


Malam hari Dimitri kembali ke rumahnya, dan langsung bergegas menuju kamar, tapi dia tidak mendapati Jasmin di dalam kamar. Dimitri mencari ke seluruh ruangan.


"Kamu lihat istri ku?" tanya Dimitri pada seorang pelayan di rumahnya.


"Tidak tuan, saya tidak melihat nona." jawabannya seraya menundukan kepalanya.


""Kemana dia? berani. beraninya dia keluar tanpa seijin ku!!" geramnya.


"Permisi tuan, tadi saya mengikuti nona." ucap salah seorang bawahan Dimitri.


"Kemana dia pergi?" tanyanya antusias.


"Ke rumah lamanya tuan,"


"Antarkan aku sekarang ke sana." perintahnya dengan wajah yang sudah sangat marah.


Pria itu pun mengangguk dan mengantar Dimitri ke rumah Jasmin. Tak lama mereka sampai dan Dimitri meminta bawahannya itu untuk pulang. Terlihat rumah sederhana yang sudah tua termakan usia.


"Ini rumahnya? pantas saja dia menjual diri, uang lebih penting baginya." batin Dimitri.

__ADS_1


Dimitri mengetuk pintu dan tak lama Jasmin membukanya.


"Tuan?" ucapnya yang tampak terkejut.


Dimitri bergegas mendorong Jasmin ke dalam dan menutup pintu.


"Berani sekali kau je luar rumah tanpa seijin ku!!" sentaknya yang sudah tampak marah.


"Maafkan aku, aku hanya rindu rumah ku." lirih Jasmin.


"Rindu rumah? atau kau memang mengundang para lelaki untuk melayani mu di sini?"


PLAAKK!!


Jasmin menampar Dimitri cepat, ucapannya kali ini benar-benar menusuk hati Jasmin.


"Berani sekali kau!" geram Dimitri.


"Pergilah, aku sangat membenci mu." ucap Jasmin dengan bulir air mata di pipinya.


"Kau menyuruhku pergi agar kamu bisa di datangi pria lain, itu maksudmu?" Dimitri mengangkat dagu Jasmin agar menatapnya.


"Aku tidak seperti itu!!" pekik Jasmin.


Dimitri menarik kasar tubuh Jasmin ke kamar mendorongnya, dan menciumnya kasar.


"Hentikan!!" pekik Jasmin yang mencoba mendorong tubuh kekar Dimitri.


"Kamu melayani banyak pria tapi kamu tidak mau melayani suami mu?"


Dimitri kembali mencium Jasmin kasar, menjamah tubuhnya dengan buas, melucuti pakaiannya dengan sangat memaksa. Sampai Dimitri hendak melakukan penyatuan, entah kenapa terasa sangat sulit, tidak seperti wanita malam yang biasanya sangat mudah untuk di pakai.


"Aaakkhh." pekik Jasmin yang merasa perih di bagian intinya karena sudah lama dia tidak berhubungan badan dan itu pun hanya sekali dengan Dimitri.

__ADS_1


Dimitri terdiam dan menatap wajah sendu Jasmin yang menangis .


"Apa benar dia hanya melayani ku?" batin Dimitri yang langsung menghentikan aksinya, merapihkan pakaiannya dan pergi keluar kamar meninggalkan Jasmin yang masih menangis.


__ADS_2