
“Kau sudah pulang?” ujar Jasmin saat melihat Dimitri yang baru memasuki rumah dan mencium punggung tangan suaminya itu.
“Sudah, aku mandi dulu ya,” Dimitri melepas jas yang dikenakanya.
“Tunggu,” Jasmin menahan lengan suaminya yang hendak kekamar mandi.
“Ada apa?” Dimitri mengerutkan keningnya.
“Bagaimana, kelanjutan kasus ayahku? apa sudah ada perkembangan?” Jasmin menatap penuh lekat, berharap ada kabar baik yang diberikan Dimitri terkait kasus ayahnya.
Dimitri terdiam, saat Jasmin tiba tiba menaagih janjinya tempo hari.“Aku belum menyelidikinya, masih banyak perkerjaan kantor yang harus kuselesaikan,” jelas Dimitri ditengah tengah rasa dilemanya, disatu sisi ia ingin membantu wanita yang dicintainya, tapi kenyataan mengungkap ayah kandungnya sendiri lah yang menjadi pelaku tabrak lari tersebut.
“Aku harap kamu bisa cepat membantuku,” Jasmin meraih tangan Dimitri, mengenggamnya lembut sorot matanya masih penuh dengan harapan.
“Aku tidak bisa berjanji, tapi aku akan melakukan yang terbaik untukmu,” Dimitri kembali mengucapkan hal yang tak pasti, hanya itu yang bisa dilakukanya sekarang.“Aku mandi dulu,” Dimitri mengecup dahi Jasmin dan bergegas kekamar mandi.
***
Jasmin mengehela nafas, menyandarkan punggungnya disofa, ia menonton malas televisi dihadapanya, hanya itu yang ia lakukan akhir akhir ini semnejak tak lagi berkerja, berdiam dirumah sampai suaminya pulang.“Bosan sekali,” keluh Jasmin melirik jam dinding di sudut ruanganya yang sudah menunjukan pukul 15.00. Jasmin beranjak dari duduknya, ia berjalan menyusuri rumah megah itu, sampai langkah kakinya terhenti disebuah dapur, tampak beberapa pelayan rumah yang tengah sibuk menyiapkan makan malam.
“Nona?” seorang pelayan tampak terkejut melihat Jasmin yang tampak memperhatikan kegiatan meraka, beberapa pelayan pun menoleh seraya memasang wajah tegang, takut jika melakukan kesalahan dimata majikanya itu.
“Tengalah, aku hanya ingin melihat kalian memasak saja,” ujar Jasmin dengan wajah ramah, para pelayan pun merasa lega.
__ADS_1
Jasmin masih memprhatikan para pelayan itu berkutat didapur, dengan bahan bahan dapur yang akan meraka sulap menjadi hidangan lezat, mereka tampak sangat trampil seperti juru masak yang memang ditunjuk khusus untuk berkerja dirumahnya. Jasmin berjalan kepantri, mengambil pisau dan memotong wortel yang ada disana.“Nona jangan,” cegah seorang pelayan.
“Kenapa? aku hanya ingin membantu memasak,”
“Tapi nona jika tuan Dimitri tau dia bisa marah,” pelayan tersebut tertunduk takut.
“Tidak, dia tidaka akan marah, lagiapula ini lebih baik dari pada aku keluar rumah,” jelas Jasmin tersenyunm tipis. Para pelayan pun hanya bisa pasrah dan membiarkan Jasmin ikut memabntu memasak didapur. Jasmin tampak senang melakukanya, setidaknya itu bisa mengusir kejenuhanya dirumah.
Cukup lama Jasmin berkutat didapur, sampai selesai dan ia kmebali kekamarnya.“Kamu sudah pulang?” Jasmin yang hendak mandi menoleh saat pintu kamar terbuka dan Dimitri baru tiba dirumah.
“Iya,” Dimitri menghampiri dan mencium dahi sang istri, Jasmin tersenyum simpul dengan sikap Dimitri yang jauh lebih manis. Dimitri mengerutkan keningnya, ada yang terasa beda dari tubuh istrinya itu, ia mengendus endusakan indra penciumanya pada tubuh Jasmin.“Ada apa?” Jasmin terlihat bingung.
“Kenapa bau aroma dapur?” Dimitri tak mencium aroma vanila, parfum kesuakaanya yang selalu menggoda Dimitri saat mencium tubuhnya.
“Siapa yang mnenyuruhmu melakuakan itu?”
“Aku hanya ingin mengususir kejenuhanku dirumah, lagi pula aku sudah biasa memasak,” terlihat wajah ketidaksukaan dari Dimitri.“Aku mandi dulu,” Jasmin memilih bergegas mandi sebelum suaminya itu benar benar marah. Baru beberapa Jasmin melangkah kepalanya tiba tiba tarasa pusing dan berputar.
“Kamu kenapa?” melihat langkah kaki Jasmin yang tak seimbang seraya memegangi pelipisnya.
“Aku enggak apa apa kok,” Jasmin tetap menlangkah menuju kamar mandi tapi kali ini langkah kakinya semakin terasa berat pandanganya mulai buram dan perlahan menjadi gelap.
“Jasmin!” seru Dimitri yang melihat Jasmin jatuh pingsan diambang pintu.“Jasmin bangunlah,” ia menepuk nepuk pipi Jasmin yang tetap memejamkan matanya, tanpa fikir panjang ia segera menggendongnya keluar rumah, supir pribadi Dimitri yang melihat hal itu pun dengan cekatan membantu memasukan Jasmin ke dalam mobil dan bergegas melajukan mobil tersebut kerumah sakit terdekat.“Lajukan dengan lebih capat!” perintah Dimitri dengan nada panik, ia tak pernah merasakan kepanikan seperti ini sepanjang hidupnya. Supir pribadinya pun segera melajukan mobil tersebut dengan kecepatan tinggi.
__ADS_1
Mereka pun tiba dirumah sakit dan Jasmin segera ditangani petugas medis. Dimitri hanya menunggu diluar ruang IGD dengan cemas.“Bagimana keadaan istri saya dok? apa yang terjadi denganya?” Dimitri langsung mencecar dokter wanita yang baru keluar dari ruang IGD.
“Istri tuan sudah siuman,” ujar sang dokter yang membuat Dimitri menghela nafas lega.“Silakan masuk, saya akan menjelaskanya didalam,” dokter tersebut mempersilakan Dimitri masuk.
“Kamu baik baik saja?” Dimitri mengahampiri Jasmin yang terlihat sudah membuka matanya.
“Tidak, aku baik baik saja, hanya sedikit pusing,” balas Jasmin dengan wajah tanpa dosa padahal Dimitri setengah mati menghkhawatirkanya.
“Kandungan istri tuan lemah, saya harap nona Jasmin bad rest untuk beberapa waktu,” jelas sang dokter, yang sontak saja membuat Jasmin dan Dimitri tampak terkejut mendengarnya.“Saya akan memberikan obat penguat janin dan beberapa vitamin,” sambung sang dokter yang langsung keluar dari runagan tersebut.
“Kamu dengar? kandungan mu lemah, kamu pingsan pasti karena membantu para pelayan tadi, jangan melakukan itu lagi!” tegas Dimitri.
“Maafkan aku,” sesal Jasmin tertunduk. Tak beberapa lama Jasmin mendapatkan obat yang dibutuhkanya dan mereka diperbolehkan pulang.
“Istirahlah,” Dimitri memapah Jasmin masuk kerumah dan membaringkanya diranjang.“Tunggulah, aku ambilkan air hangat untukmu meminum obat,”
“Terima kasih,” Jasmin tersenyum simpul tak bisa menutupi rasa senangnya karena Dimitri sangat mempeerhatikanya saat ini. Dimitri segara keluar kamar , mengambilkan segelasa air hangat untuk Jasmin ia tak ingin hal buruk terjadi pada isrti dan janinya itu. Dimitri kembali masuk ke kamar melihat Jasmin yang sedang bersandar diranjang sambil menatap layar ponseelnya.“Aku menyuruhmu istirahat bukan bermain ponsel.” ujar Dimitri sedikit jengkel meletakan air hangat yang di bawanya di nakas.
“Maaf, aku hanya membaca pesan dari Arkan barusan, katanya ibunya sudah siuman, Arkan pasti senang sekali saat ini,” Jasmin tersenyum mendengar kabar baik tersebut.
“Siuman?” sontak saja Dimitri sangat terkejut mendengar hal tersebut ibu Arkan yang juga ibu kandungnya kini akhirnya sudah melewati masa komanya.
Maaf baru sempat up 🙏 semoga di bulan puasa ini aku bisa up rutin..🤗
__ADS_1