
Dimitri keluar dari kamar dan merebahkan tubuhnya di sofa, dia terdiam dengan lamunannya sendiri. Tak lama Jasmin beranjak dari kasur, di kenakan pakaiannya kembali dan perlahan menghapus air matanya yang masih sedikit membasahi pipi mulusnya.
Di liriknya jam dinding yang menunjukkan pukul 8 malam, perutnya terasa perih karena sejak pulang kantor dia memang belum makan. Jasmin berjalan ke dapur di lihatnya hanya ada dua bungkus mie instan, dia pun segera memasaknya.
Selesai memasak Jasmin ke ruang tamu dan meletakkan mie itu meja. Di lihatnya Dimitri yang sedang tertidur. Jasmin sesaat memandang lekat wajah suaminya itu, wajah yang tak pernah dia tatap lekat, wajah yang sebenarnya hampir sempurna yang membuat siapa saja yang memandangnya pasti dengan mudah akan mengangguminya, tapi sangatlah berbeda dengan sifat buruknya kepada Jasmin.
"Tuan," Jasmin menepuk pelan lengan suaminya ituv, dengan sedikit gemetar takut jika Dimitri akan marah jika tidurnya terganggu.
Perlahan Dimitri membuka matanya, di lihatnya Jasmin yang sudah ada di hadapannya.
"Ada apa membangunkan ku?" tanyanya yang langsung duduk.
"Makanlah, pasti tuan belum makan, maaf hanya ada ini."
Dimitri melirik dua mie instan di meja yang berada di hadapannya. Dia segera bangkit dari sofa.
"Aku tidak suka mie instan, kita pulang saja, cepat masuk ke mobil." perintahnya yang langsung bergegas ke luar rumah.
Jasmin menghela nafas, padahal dia ingin sekali Dimitri memberikannya waktu untuk Jasmin bisa menghabiskan mie instan tersebut karena perutnya sangat terasa lapar tapi apa daya Jasmin hanya bisa menurut dan masuk ke dalam mobil.
Tak lama Dimitri memberhentikan mobilnya di suatu tempat.
"Kenapa kita berhenti di sini?" tanya Jasmin bingung yang melihat restoran mewah di hadapannya.
"Jangan banyak bicara, cepat turun." Dimitri segera turun dari mobil di susul Jasmin dan mereka mulai memasuki restoran tersebut.
Jasmin memutar pandangannya pada restoran yang tampak mewah dan besar dengan desain yang juga sangat elegan. Mereka segera duduk sampai pelayan datang, Dimitri melihat daftar menu dan memesan makanan di sana.
Mereka hanya saling terdiam tanpa adanya percakapan, tampak Dimitri yang sibuk dengan handphonenya dan Jasmin yang sibuk memperhatikan suasana di sekitarnya. Tak lama pesanan mereka datang, tampak makanan lezat yang menggugah selera.
__ADS_1
Jasmin terpaku dengan beberapa makanan di hadapannya " Apa makanan orang kaya seperti ini? kenapa sangat sedikit sekali porsinya?" batin Jasmin bingung melihat beberapa makanan lezat tapi hanya di sajikan sedikit sekali di setiap macamnya.
"Kenapa diam saja? cepat makan." ucap Dimitri yang melihat Jasmin hanya memandangi makanan di hadapannya.
"Rasanya sayang sekali memakannya, penyajiannya sangat cantik." batin Jasmin.
Tak lama mereka pun makan, dengan lahap Jasmin memakan makanan tersebut. Dimitri yang sedang mengunyah makanannya tertenggun melihat makanan Jasmin sudah habis dalam waktu sekian menit.
"Hey, apa kamu buang makanannya? kenapa sudah habis semua?" tanya Dimitri bingung.
"Aku tidak membuangnya tuan, aku menghabiskannya." ucap Jasmin panik yang takut Dimitri marah.
"Apa kau sangat lapar?"
Jasmin mengangguk pelan dan Dimitri menggelengkan kepalanya. Lalu kembali memanggil pelayanan dan kembali memesan makanan. Tak lama makan tersebut datang, dengan porsi yang semakin banyak.
"Tuan, kenapa memesan makanan lagi?" tanya Jasmin bingung.
"Apa 15 menit?" ucap Jasmin tak percaya.
"Iya, cepat habiskan." perintah Dimitri kembali kemudian fokus kembali pada handphonenya.
Sesaat kemudian Dimitri kembali melirik Jasmin dan makanan di hadapannya yang sudah tersapu bersih.
"Hey, kemana lagi kau buang makanan ini?" tanya Dimitri bingung.
"Aku menghabiskannya tuan, tadi anda menyuruh seperti itu?" Jasmin bertanya balik.
"Astaga, tubuh mu kecil tapi daya tampung mu besar sekali, sudahlah cepat pulang." Dimitri menggelengkan kepalanya dan bergegas ke luar dari restoran tersebut.
__ADS_1
Tak lama mereka kembali ke rumah. Dimitri segera mandi, lalu tidur karena merasa sangat lelah hari itu. Kemudian Jasmin pun mandi dan merebahkan tubuhnya di sofa lalu memejamkan matanya.
Pagi harinya Jasmin pergi kembali ke kantor.
Tok Tok Tok.
Terdengar suara ketukan pintu di ruangan tersebut.
"Maauk."
Tampak bawahannya masuk ke ruangannya.
"Permisi tuan, saya sudah mendapatkan informasi tentang nona Jasmin." ucapnya.
Dimitri menghentikan perkerjaannya dan menyandarkan tubuhnya di kursi kerjanya.
"Informasi apa saja yang kau dapat?" tanyanya menyelidik.
"Noana Jasmin dari keluarga sederhana, ayahnya dulu seorang petugas kebersihan kota namun ayahnya meninggal dunia saat nona Jasmin berumur 7 tahun, karena di tabrak mobil yang tidak bertanggung jawab." jelas bawahannya.
"Di tabrak? apa pelaku penabrakan tersebut di tangkap?" tanya Dimitri.
"Tidak tuan, polisi dan pengadilan menutup kasus itu dan menganggap itu hanya kecelakaan biasa."
"Apa?" ucap Dimitri tak percaya.
"Iya tuan, lalu saat kuliah ibu nona Jasmin mengalami sakit ginjal dan harus melakukan transplantasi ginjal, lalu nona Jasmin menawarkan untuk menjual dirinya pada wanita yang bernama Rena, lalu setelah itu menurut wanita itu nona Jasmin tidak pernah menawarkan tubuhnya kembali dan ibunya meninggal belum lama ini." jelas bawahnya kembali.
Dimitri tertenggun mendengar semua cerita itu, lalu menyuruh bawahnya untuk meninggalkan ruangannya.
__ADS_1
Dimitri memijat pelan keningnya "Jadi dia menjual tubuhnya untuk ibunya? dan itu hanya dengan ku?" batin Dimitri.
Bantu, like, komen dan vote yak cinta 🤗🤗