
Dimitri menutup latopnya, ia memijat pelan pelipisnya, fikiranya masih belum bisa mencerna tentang apa yang dilihatnya, tentang papa yang seperti sengaja menabrak ayah Jasmin, tetang wanita yang seakan melindungi ayah Jasmin yang jelas jelas itu adalah ibu Arkan, dan seharusnya mereaka tak ada hubungan darah ataupun ikatan saudara, karena Dimitri tau pria itu menyukai Jasmin.
“Aku ingin kau mencari tau tentang pasien wanita itu dan apa hubungnya dengan papa,” titah Dimitri pada asisten pribadinya yang masih diam mematung.
“Baik tuan,” balasnya sopan.
“Aku ingin kau mencari informasinya dalam waktu dua hari,” titahnya kembali lebih menekan, rasa penasaran di benaknya sudah sangat memuncak tak dapat menunggu lama.
“Baik tuan,” asisten pribadinya kembali menurut patuh dan keluar dari ruanganya.
***
“Sudah pulang?” Jasmin melihat Dimitri yang baru masuk kekamrnya, bergegas menghampiri dan mencium punggung tangan suaminya itu.“Aku sudah menyiapakan makaan malam untukmu,”
“Aku tidak ingin makan,” tolaknya seraya melepas jas yang melekat ditubuhnya, fakta tentang papanya dan teka teki dibalik semuanya membuat nafsu makanya hilang, diperhatikanya wajah Jasmin yang tampak cemberut.“Baiklah aku akan makan,” Dimitri mengubah ucapanya , rasanya saat ini ia tak bisa melihat wajah istrinya itu murung.
Senyum merekah dibibirnya.“Mandilah dulu, aku sudah menyiapkan air hangat untukmu,” Dimitri pun segera membersihkan tubuhnya terlebih dahulu sebelum makan malam.
“Makanlah,” ujar Jasmin pada Dimitri yang menuju meja makan, mengambilkan nasi dan lauk pauk untuknya.
“Terima kasih,” Dinitri mengambil hidangan makan malamnya yang disiapkan Jasmin, dan tanpa ragu menyantapnya.“Boleh aku bertanya sesuatu?” ujar Dimitri disela sela makanya.
__ADS_1
“Bertanya apa?”
“Apa kau mengenal ibu Arkan? apa dia sudah sakit sejak lama?”
“Ya,” Jasmin mengangguk.“Arkan teman kuliahku, sejak aku mengenalnya ibunya sudah koma, aku tidak pernah bertanya sejak kapan ibunya seperti itu, Arkan hanya berkata ia yakin suatu saaat keadaanya ibunya akan membaik,” jelas Jasmin.“Memangnya kenapa?” Jasmin memandang heran Dimitri yang tiba tiba seperti tertarik pada kehidupan Arkan.
“Tidak, hanya ingin bertanya saja,” Dimitri kembali menyantap makan malamnya.
***
Tok Tok Tok.
“Masuk,”
“Oh masuklah,” Dimitri menutup berkas yang sedang dibacanya.“Kau sudah dapat informasinya?”
“Sudah tuan,” asisiten peribadinya memberikan sebuah berkas pada Dimitri.
Dimitri membuka dan membaca dengan teliti isi berkas tersebut.“Apa ini?!” uajrnya tak percaya., melihat berkas tentang pernikahan papanya.
“Itu adalah berkas pernikahan tuan Anthony, dengan ibu Lili yang tak lain adalah korban wanita dalam kecelakaan tersebut,” jelas asisiten pribadinya.
__ADS_1
“Apa yang kau katakan?!” Dimitri mengebrak meja kerjanya dengan keras, itu terdengar seperti omong kosong untuknya, karena papanya menagatakan dengan tegas ibunya telah meninggal walaupn ia tak pernah tau seperti apa sosok ibunya itu.
“Benar tuan, wanita itu adalah istri pak Anthony mereka telah lama bercerai,”
“Kenapa mereka bercerai?” tanyanya menyelidik.
“Maaf, saya tidak mendapatkan informasi tentang itu,” jawab asisten pribadinya sedikit menunduk.
“Apa dia ibu kandung ku?”
“Iya tuan, wanita itu ibu kandung anda,”
Dimitri mengusap kasar wajahnya.“Aku ingin melakukan tes DNA dengan wanita itu segera,” Dimitri tak bisa dengan mudah untuk percaya, walaupun hal itu dikatakatan oleh orang kepercayaanya.
“Baik tuan, kita bisa memeriksakanya sekarang juga,”
“Baiklah,” Dimitri beranjak dari duduknya, bergegas keluar dari kantor, melajukan mobilnya ke rumah sakit tempat ibu Arkan dirawat.
***
“Tunggu sebentar ya tuan,” ujar seorang petugas medis usai menagambil sampel darah Dimitri dan menintanya untuk menunggu beberapa saat. Dimitri meminta hasilnya dengan segera, lagi lagi rasa penasaran tak bisa membuatnya menunggu lama.
Setelah menunggu cukup lama seorang dokter wanita pun mempersilakan Dimitri untuk masuk keruanganya.“Silakan duduk tuan,” ucapnya ramah, Dimitri pun duduk dihadapan dokter wanita tersebut.“Ini hasil pemerikasaanya tuan,” dokter itu meberikan secarik kertas hasil pemerikasaanya pada Dimitri.
__ADS_1
Dimitri segara membaca dengan teliti hasil pemeriksaan tersebut.“Ini?” matanya mendelik tak percaya.
“Dari hasil pemerikasaan sampel darah keduanya cocok, anda memiliki hubungan darah dengan wanita itu,” jelas sang dokter. Dimitri meremas hasil pemerikasaan yang masih dipegangnya, ini terlalu sulit untuk diterimanya, wanita yang sudah lama dianggapnya meninggal ternyata masih bernafas walau dengan masa kritis.