Cinta Dalam Masalalu

Cinta Dalam Masalalu
Alasan yang tidak jelas


__ADS_3

Saat jam makan siang.


"Jasmin perkerjaan mu sudah selesai?" tanya Arkan saat menghampiri meja kerja Jasmin.


"Sudah," Jasmin tersenyum.


Tak lama tampak Dimitri yang baru saja keluar dari ruangannya. Dimitri melirik Jasmin dan Arkan, lalu pergi begitu saja. Jasmin yang melihat itu hanya terdiam dan merasa mungkin Dimitri tak lagi mempermasalahkan jika Jasmin mengobrol dengan Arkan.


"Jasmin, ayo kita makan siang." ajak Arkan.


Jasmin mengangguk dan berjalan beriringan dengan Arkan menuju sebuah cafe dekat dengan kantor mereka. Dan memesan makanan di sana.


"Jasmin kamu belum bercerita pada ku." ucap Arkan yang menatap lekat Jasmin.


Jasmin mengerutkan keningnya" Cerita? cerita tentang apa?" tanyanya bingung.


"Kenapa kamu bisa menikah dengan pak Dimitri?"


Jasmin terdiam dan berhenti mengunyah makanannya.


"Aku tidak bisa menceritakannya," ucap Jasmin yang merasa terlalu rumit jika menceritakan hal itu pada Arkan.


"Begitu, lalu apa dia bersikap baik padamu?" Arkan merasa jika Dimitri berbuat kasar pada Jasmin saat melihat Dimitri menarik paksa Jasmin untuk masuk ke ruangannya.


Jasmin kembali terdiam tergurat kesedihan di wajahnya.


"Dia tidak bersikap baik pada mu?" Arkan mencoba memegang tangan Jasmin.


"Sejak dulu aku mencintaimu, aku tidak bisa melihat mu bersedih seperti ini." sambung Arkan.


Jasmin melepaskan genggaman tagan Arkan.


"Aku sudah menikah." ucapnya lirih.


Arkan tersenyum kecut "Pernikahan seperti apa yang kamu jalani? apa itu menyenangkan?"


"Sebentar lagi waktu istirahat akan selesai, aku ke dalam dulu." Jasmin berajak dari kusinya dan bergegas keluar cafe meninggalkanmu Arkan.


Arkan menghela nafas dan kembali meminum cofenya. Sore hari Dimitri memanggil Arkan ke ruangannya.


Tok Tok Tok.

__ADS_1


"Masuk."


Arkan melangkahkan kakinya ke dalam, di lihatnya Dimitri yang sedang menyandarkan tubuhnya di kursi kerjanya. Arkan segera duduk di hadapan atasannya itu.


"Ada apa memanggil ku?" tanya Arkan.


"Mulai besok kamu tidak usah berkerja di sini lagi." ucap Dimitri santai.


Arkan tersenyum kecut "Apa kinerja ku tidak baik?" tanyanya mendengar keputusan atasannya itu.


"Menurut mu?" Dimitri balik bertanya.


"Aku sudah berkerja dengan sangat baik, aku tau Jasmin di balik alasan ini." Akan seakan tau isi fikiran Dimitri.


Dimitri memperlihatkan senyum menyebalkannya mendengar ucapan Arkan.


"Ini perusahaan ku, aku berhak memutuskan apa saja, apapun alasannya."


"Baiklah, aku mengerti dan merasa bersyukur bisa keluar dari perusahaan ini, selanjutnya aku akan membuat Jasmin pergi juga dari sini." ucap Arksn menantang yang langsung bangkit dari kusinya.


"Kau mengancam ku?" geram Dimitri.


Arkan tersenyum dan bergegas keluar dari ruangan tersebut.


"Ada apa?"


"Kenapa kamu di panggil ke dalam?" tanya Jasmin penasaran.


"Mulai besok aku tidak berkerja di sini lagi." jawab singkat Arkan.


"Apa? kenapa?" tanya Jasmin yang cukup terkejut.


"Entahlah,"


Apa ini karena aku? batin Jasmin.


"Aku akan selalu, memperhatikan mu, aku tidak akan membiarkan pria itu melukai mu." bisik Arkan di telinga Jasmin dan berlalu pergi.


Jasmin bergegas menuju ke ruangan Dimitri.


Tok Tok Tok.

__ADS_1


"Masuk." ucap Dimitri dari dalam ruangan dan melihat Jasmin di balik pintu.


"Ada apa ke sini?" tanyanya dengan nada dingin.


"Aku ingin bicara,"


"Oh, bicaralah."


Jasmin segera masuk dan duduk di hadapan Dimitri.


"Kenapa mengeluarkan Arkan begitu saja? apa salahnya?" tanya Jasmin tanpa basa basi.


Dimitri tertawa "Apa kalian inj sepasang kekasih? kenapa kompak sekali?" tanyanya dengan nada mengejek.


"Kami hanya berteman, aku hanya ingin tau alasannya Arkan di keluarkan begitu saja."


Dimitri menghela nafas dan bangkit dari kursi kerjanya lalu berdiri di hadapan Jasmin yang masih terduduk.


"Apa aku harus mempunyai alasan untuk mengeluarkan seseorang dari perusahaan ini?" tanyanya dengan sorot mata tajam.


"Apa ini karena ku?" Jasmin menerka nerka.


"Keluarlah," usir Dimitri yang enggan menjawab pertanyaan Jasmin.


Jasmin bangkit dari kusinya.


"Arkan tidak salah, jika tuan tidak menyukainya tidak perlu melakukan hal seperti ini."


"Kau lebih memilih membela pria lain dari pada suami mu?" sentak Dimitri yang terpancing emosi.


"Bukan seperti itu maksud ku.. aku.." Dimitri menarik tangan Jasmin ke tubuhnya, memeluknya dan menciumnya kasar.


Jasmin meronta, memukul punggung Dimitri berulang kali, dirinya merasa kehilangan oksigen saat Dimitri terus mencium bibirnya dengan kasar.


"Hentikan!! " Jasmin mendorong kuat tubuh Dimitri.


"Kenapa harus seperti ini pada ku? apa seperti ini cara tuan memperlakukan wanita?" ucap lirih Jasmin.


"Karena kau selalu memancing emosi ku!!" sentak Dimitri.


Jasmin menggeleng kan kepalanya dan bergegas ke luar ruangan tersebut. Dimitri kembali duduk di kursi kerjanya, mengusap kasar wajahnya dengan perasaan yang tidak dapat dia mengerti.

__ADS_1


Jangan lupa, tinggalkan like, komen dan vote yak cinta ❤️❤️❤️


__ADS_2