
"Arkan?" ucap Jasmin sedikit terkejut.
"Kamu kerja di sini Jasmin?" Arkan kembali bertanya.
"Iya, kamu mau interview?"
Arkan tersenyum "Iya, semoga aku di terima dan bisa satu kantor dengan mu."
"Amin, ya sudah silakan masuk ke ruangan pak Dimitri, Arkan."
Arkan mengangguk dan bergegas masuk ke ruangan Dimitri. Setelah cukup lama Arkan keluar dari ruangan tersebut dan kembali menghampiri Jasmin.
"Jasmin, aku di terima berkerja di sini." ucap Arkan dengan senyum yang mengembang di bibirnya.
"Oh ya, syukurlah aku senang mendengarnya." jawab Jasmin antusias.
Tak lama Dimitri menelepon Jasmin untuk mengantar Arkan ke tempat kerjanya. Setelah mengantar Arkan, Jasmin kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Jasmin, kamu mau makan siang?" ucap Arkan yang kembali menghampiri Jasmin saat jam makan siang.
Jasmin terdiam dan berfikir sesaat, sampai Dimitri keluar dari ruangannya dan melirik mereka, Jasmin dan Arkan menyapa sopan, tapi Dimitri berlalu begitu saja.
"Jasmin, ayo kita makan siang?" ajak Arkan kembali.
"Oh, ayo." Jasmin akhirnya menerima ajakan Arkan.
Sampai mereka makan siang di sebuah cafe tak jauh dari kantor itu.
"Jasmin, bagaimana keadaan ibumu?" tanya Arkan yang mengetahui dulu ibu Jasmin sedang sakit.
Jasmin terdiam dan berhenti mengunyah makanannya.
"Ibu sudah meninggal." jawabnya pelan.
""Apa? meninggal? karena apa?" Arkan tersentak kaget mendengar ucapan gadis itu.
__ADS_1
"Sudahlah, aku tidak ingin membahasnya lagi, itu bisa membuat ku sedih." ucap Jasmin lirih.
"Maafkan aku." sesal Arkan.
Mereka pun kembali melanjutkan makan siang mereka. Selesai jam istirahat Jasmin kembali melanjutkan perkerjaannya.
"Permisi, pak Dimitrinya ada?" tanya seorang wanita yang menghapus meja kerja Jasmin.
Jasmin mendongkakan wajahnya dan melihat wanita dengan paras cantik dan bertubuh seksi di hadapannya.
"Pak, Dimitrinya ada?" Wanita itu kembali bertanya melihat Jasmin yang hanya terdiam sambil memandangnya.
"Oh, iya ada, apa sudah buat janji sebelumnya?"
"Aku tidak perlu membuat janji, ok, terima kasih." ucapnya sambil tersenyum dan bergegas masuk ke ruangan Dimitri.
Sampai saat Jasmin tengah fokus dengan perkerjaannya, terdengar suara telepon di sampingnya dari Dimitri agar Jasmin membawa laporan yang di mintanya ke dalam ruangannya.
Tok, Tok, Tok.
Jasmin perlahan membuka pintu ruangan itu, matanya membulat melihat wanita cantik tersebut tengah duduk di pangkuan Dimitri dengan wajah yang saling berhadapan. wanita itu memeluk tubuh Dimitri yang sebenarnya adalah suami Jasmin saat ini. Jasmin membuang pandangannya dan berusaha tidak memperdulikannya.
"Kenapa diam saja? mana laporan yang ku minta?" ucap Dimitri yang melihat Jasmin hanya terdiam di samping pintu.
Jasmin tersentak, dan bergegas memberikan laporan itu lalu keluar dari ruangan Dimitri. Gadis itu kembali duduk di kursi kerjanya, jantungnya berdetak lebih kencang saat melihat adegan mesra Dimitri dan wanita itu. Memang Dimitri tidak mencintainya tapi harus seperti ini kah sebuah pernikahan yang dia jalani? batin Jasmin.
Sampai sore hari Jasmin sudah pulang ke rumahnya dan hendak bergegas mandi, tapi tiba-tiba saja Dimitri masuk ke kamar yang ternyata baru sampai rumah.
"Pakai ini." Dimitri melemparkan paper bag ke arah Jasmin.
"Apa ini?" tanyanya bingung.
"Itu baju dan sepatu, cepat bersiaplah, aku akan mengajakmu ke acara perusahaan papa." jelas Dimitri.
Jasmin membuka paper bag tersebut dan melihat isi di dalamnya.
__ADS_1
"Pakain ini terlalu seksi tuan?" ucap Jasmin yang melihat pakaian yang di berikan Dimitri sangatlah terbuka.
"Seksi? bukankah kamu sering memakai pakaian itu untuk merayu para lelaki?" Dimitri tersenyum kecut.
Jasmin hanya terdiam.
"Murahan tetap saja murahan, bahkan kamu berhasil merayu karyawan baru tadi kan?" ucap Dimitri yang tadi melihat Jasmin dan Arkan cukup dekat di kantor.
"Karyawan baru? dia teman kuliah ku." jelas Jasmin.
Dimitri mengerutkan keningnya "Teman kuliah? dia sudah memakai jasa mu?" tanyanya dengan nada mengejek.
"Berhenti merendahkan ku!!! " pekik Jasmin yang sudah hilang kesabarannya karena Dimitri selalu merendahkannya.
Dimitri berjalan mendekat ke arah Jasmin, dan memegang dagu gadis itu agar menatapnya.
"Merendahkan? aku tidak boleh merendahkan mu? itu maksud mu?"
Jasmin menepis tangan Dimitri.
"Aku rendah? lalu apa yang tuan lakukan di dalam ruangan tadi bersama wanita itu?" ucap Jasmin menantang.
Dimitri tertawa "Apa yang aku lakukan, aku bebas melakukan apapun, tapi tidak untuk mu, kamu sekarang sudah menjadi istri ku, berhenti lah melakukan hal menjijkan!!!" sentak Dimitri.
"Anda benar-benar egois,"
PLAAKK!!
Tamparan mendarat di pipi Jasmin.
"Berhenti menjawab perkataan ku!! cepat bersiaplah, kita akan segera berangkat." panggil Dimitri dengan penuh emosi dan keluar dari kamar tersebut.
Jasmin memegangi pipinya, bulir air matanya perlahan jatuh. Dia tidak mengerti mengapa dia harus di takdirkan menikah dengan pria yang tak hanya selalu menyakiti batin nya dengan ucapannya tapi juga menyakiti fisiknya saat ini.
Guys , maaf ya mungkin aku belum bisa teratur up date novel ini, karena aku masih agak fokus sama novel MGC yang sebentar lagi akan tamat.. semoga selalu setia menunggu yak 🙏🙏🙏
__ADS_1