Cinta Dalam Masalalu

Cinta Dalam Masalalu
Tidak punya harga diri lagi


__ADS_3

Pria itu berjalan mendekati Jasmin yang masih duduk dengan wajah bingung karena tak tau harus bagaimana melayaninya dan memulai seperti apa.


Pria itu mendekatkan wajahnya ke arah Jasmin.


"Kenapa diam saja? kamu tidak mau melayani ku?" ucapnya geram karena sudah membeli gadis itu tapi gadis di hadapannya hanya diam mematung.


"Maaf tuan." bibir gadis itu bergetar.


Mata pria itu menyerangai, melihat tubuh putih Jasmin dan wajah cantiknya masih menduduk takut. Pria itu memegang dagu Jasmin dan menciumnya kasar. Jasmin hanya memejamkan matanya pasrah dengan air mata yang berusaha sekuat tenaga dia tahan membiarkan pria itu mencium bibirnya semakin kasar.


"Apa kau tidak tau caranya memulai? aku akan mengajarimu." ucapnya saat melepaskan ciumannya dengan tatapan penuh nafsu.


Lalu mendorong tubuh Jasmin ke ranjang menciumi leher dan telinganya, membuka paksa dress yang di pakainya dan ******* buah dadanya, serta mengigit pucuknya kasar.


"Aakkh." pekik Jasmin yang merasa sakit saat pria itu mengigit buah dadanya.


Pria itu tidak memperdulikan rintihan Jasmin dan terus menjamah tubuhnya dengan kasar. Sampai hasrat sudah tak terbendung pria itu melakukan penyatuan di tubuh Jasmin, memasukannya dengan kasar, dan merobek paksa selaput darah itu.


"Sakit!" pekik Jasmin kembali saat measakan benda asing menusuk area intinya dengan sangat kasar, rasa perih terasa beriringan darah segar yang mengalir dari area intinya, darah keperawannya.


Air mata terus membasahi pipinya saat pria itu terus mengerakan tubuhnya, mempercepat gerakannya merasakan milik Jasmin yang begiu nikmat untuknya erangan terdengar saat pria itu mendapat puncak kenikmatannya, dan jatuh terkulai dalam tubuh Jasmin yang sudah polos tanpa menggunakan apapun. Tak lama pria itu segera bangkit dari ranjang untuk membersihkan tubuhnya dan kembali mengenakan pakaiannya.


Jasmin hanya bersandar di ranjang berbalut selimut dengan air mata yang perlahan masih jatuh membasahi pipinya.


"Kamu menangisi keperawan mu? bukankah kamu sendiri yang ingin menjualnya? bodoh sekali." ucap pria itu seraya kembali memakai Jasnya.


"Tidak tuan, aku tidak apa-apa." Jasmin bergegas memghapus air matanya.

__ADS_1


"Ini untuk mu." pria itu melemparkan selembar cek ke wajah Jasmin.


Mata Jasmin membulat saat melihat nominal yang di berikan pria itu sangatlah besar bahkan dua kali lipat dari biaya pengobatan ibunya.


"Tuan, ini besar sekali jumlahnya?" ucapnya bingung.


"Ambil saja, aku tidak mau besetubuh dengan mu lagi, sangat kaku dan tidak menyenangkan." keluhnya dengan wajah dingin.


"Maafkan aku tuan." Jasmin menundukkan kepalanya.


Pria itu tidak menjawab apapun dan bergegas pergi keluar kamar. Gadis itu kembali menangis seraya meremas selimut tebal yang membalut tubuhnya.


"Aku sudah kotor, sangat kotor." ucapnya lirih.


Tak lama ada yang membuka pintu kamarnya, seorang wanita berjalan menghampirinya. Jasmin bergegas menghapus air matanya.


"Sudah kak." jawab Jasmin melihat wanita itu sudah berdiri di hadapannya.


"Kamu melayaninya dengan baik?"


Jasmin mengangguk ragu, mengingat dia hanya pasrah dan mendapat keluhan dari pria tersebut.


"Baguslah, aku juga sudah mendapatkan uang darinya, kalau kamu masih mau berkerja lagi, hubungi aku saja." ucap wanita tersebut yang langsung berlalu pergi meninggalkan kamar Jasmin.


"Aku tidak ingin melakukan hal ini lagi, tidak mau." ucapnya sambil terus menangis.


Tak lama Jasmin melirik jam dinding di sudut kamar hotel itu, yang sudah menunjukkan pukul 11 malam, Jasmin bergegas turun dari ranjang dan membersihkan dirinya lalu segera menuju rumah sakit.

__ADS_1


Keesokan harinya Jasmin bergegas ke bank menyerahkan cek yang di dapatnya dengan uang dia pun kembali bergegas menuju rumah sakit dan menuju bagian administrasi.


"Maafkan saya, saya terlambat membayarnya." ucapnya dengan nada terbata bata.


"Tidak apa-apa nona." petugas administrasi menghitung kembali uang yang di serahkan Jasmin dan memberikan beberapa berkas yang harus kembali di tanda tanganinya.


"Baiklah nona kami akan segera melakukan transplantasi ginjal untuk pasien."


Jasmin mengangguk.


Tak lama dokter dan petugas medis pun segera melakukan transplantasi ginjal untuk menyelamatkan nyawa ibunya. setelah operasi selesai Jasmin menemui ibunya yang masih terbaring lemah di ruang ICU.


"ibu, cepat sadar, Jasmin rindu." ucap lirih Jasmin seraya mengusap wajah ibunya.


Jasmin terus menjaga ibunya menemaninya sepanjang hari, sampai pagi itu ibunya perlahan mulai membukamatanya.


"Ibu?? " seru Jasmin yang melihat ibunya membuka matanya semakin lebar.


Ibu Jasmin menoleh ke arah sang putri yang tersenyum sumringah dengan binar mata yang tampan bahagia.


"Jasmin" ucapnya seraya mencoba memegang tangan sang putri.


"Ibu syukurlah ibu sudah sadar." haru Jasmin yang sedikit meneteskan air mata.


"Jasmin siapa yang membayar rumah sakit ini?" tanya ibu Jasmin mengingat sang putri pasti tak punya uang untuk membayar rumah sakit.


"Ibu, ibu tidak usah memikirkan  yang macam macam dulu, yang penting sekarang ibu sudah membaik." ucap Jasmin seraya memeluk ibunya yang masih berbaring lemah.

__ADS_1


__ADS_2