
Jasmin duduk kembali disofa, batinya bertanya tanya mengapa Dimitri menyimpan koran usang tentang kecelakaan ayahnya. Sampai cukup lama Jasmin termenung terdengar suara pintu ruangan tersebut terbuka. Dimitri kembali dengan membawa strawberry segar ditanganya.
“Apa aku terlalu lama?” menghampiri Jasmin yang masih terduduk dengan wajah risaunya. Jasmin menggeleng.“Ini untukmu,” memberikan strawberry tersebut pada Jasmin.
“Terima kasih,” Jasmin tersenyum simpul.
“Apa ada yang salah?” Dimitri duduk disebelah Jasmin yang masih tampak risau.
“Tentang koran, kenapa ada koran lama tentang kecelakaan ayahku dimeja kerjamu?”
Dimitri mendadak gugup, ia lupa menyembunyikan koran tersebut, ia sejenak terdiam, tak tau harus berkata ap“Oh, aku memang suka menyipan koran koran lama, kebetulan aku menemukan koran yang memuat tentang ayahmu,” Dimitri memberi alasan. Jasmin hanya terdiam masih dengan wajah murungnya.“Apa kau tidak percaya?”
Jasmin menggeleng.“Aku percaya,” Dimitri mengehela nafas laga, istrinya itu ternyata cukup mudah dibohongi.“Tapi.. boleh aku meminta tolong padamu?” Jasmin melajutkan ucapanya.
“Minta tolong apa?” Dimitri mengerutkan kening.
“Banyak yang bilang orang kaya bisa melakukan apapun dengan uangnya, bisakah kau membantuku untuk mengungkap kematian ayahku?” pinta Jasmin walau dengan tegas Arkan pernah mengatakan jika keluarga Antony lah dalang dari kematian ayahnya, Jasmin tak sedikitpun mempercayainya.
Dimitri tertengun, memandang wajah Jasmin yang tampak mengiba.“Kau mau membantuku?” pinta Jasmin kembali.
“Aku tak bisa berjanji, tapi aku akan melakukan yang terbaik untukmu,”
Jasmin tersenyum sumringah, walaupun jawaban Dimitri belum cukup jelas.
“Sekaranng makanlah,” Dimitri menyuapi buah strawberry yang sudah dibelinya pada istrinya itu.
***
"Jasmin, bisa temui aku di taman kota siang ini?" tulis Arkan dalam pesanya.
Jasmin tediam sesaat membaca pesan tersebut."Aku harus menemuinya," gumamya yang langsung bergegas menuju cafe tersebut.
Tak lama Jasmin sampai terlihat Arkan yang sudah menunggu di sana.
"Aku kira kamu tidak akan datang," ucap Arkan yang langsung memesan makanan setelah Jasmin duduk di hadapannya.
"Apa yang ingin kamu bicarakan?"
"Apa lagi selain permintaan ku tempo hari, bantu aku mencari tau siapa pembuhun ayah kita." Arkan menekan suaranya.
"Bagaimana aku membantu mu, apa yang harus aku lakukan? aku tidak mengerti."
"Cari barang bukti di rumah keluarga besar tuan Anthony," perintah Arkan.
"Arkan, kenapa kamu begitu yakin kalau dia lah pelakunya?"
Arkan tersenyum kecut mendengar ucapan Jasmin."Karena hanya dia yang bisa menjelaskan tentang foto ini! dan aku yakin dia pun tau penyebab kematian ayah!!"
"Jasmin, kamu menantunya, pasti kamu punya akses lebih besar untuk masuk ke rumahnya, pergilah dan cari barang bukti di ruang kerjanya." sambung Arkan dengan nada yang sedikit emosi.
"Aku sudah meminta bantuan Dimitri untuk menyelesaikan kasus ini," sahut Jasmin dengan nada pelan.
__ADS_1
BRAAAAKHH.
Arkan memukul keras meja di hadapannya membuat Jasmin telonjak kaget dan pengunjung di sana memperhatikan mereka.
"Apa kata mu? kamu meminta bantuan Dimitri?" tanyanya dengan nada mengejek.
Jasmin mengangguk pelan.
"Apa kamu lupa mereka satu darah? kalau memang mertua kesayangan mu itu pelakunya kamu yakin Dimitri bisa menyeretnya ke penjara?" Arkan mendekatkan wajahnya dengan tatapan penuh kemarahan atas tindakan Jasmin yang menurutnya sangat konyol.
"Aku yakin tuan Anthony bukan pelakunya," lirih Jasmin menundukan kepalanya.
Arkan menghela nafas dan mencoba mengatur emosinya.
"Aku tidak butuh bantuanmu lagi, aku akan membunuh atau menyeretnya sendiri ke penjara dengan tangan ku." bisik Arkan yang langsung beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan Jasmin.
Jasmin memegang dadanya yang sempat berdegup kencang melihat ekspresi Arkan yang sangat menakutkan untuknya, tidak lagi Arkan yang lembut seperti dulu, dia sangat berbeda di mata Jasmin saat ini.
***
Malam hari Dimitri pulang dan masuk ke kamarnya.
"Mandilah, aku sudah menyiapkan air hangat untuk mu," ucap Jasmin yang melihat Dimitri baru memasuki kamarnya.
"Aku mandi dulu," Dimitri bergegas membersihkan tubuhnya malam itu.
Setelah selesai Dimitri menghampiri Jasmin yang sedang duduk di ranjang dengan wajah risaunya.
"Kenapa wajah mu? apa kau sakit?" tanyanya dengan nada khawatir.
"Bertanya apa?"
"Apa kamu benar benar akan menepati janji mu, untuk membantu ku mencari pelaku yang telah menabrak ayahku?" tanya Jasmin yang selalu teringat perkataan Arkan hari itu.
Dimitri terdiam.
"Kamu benar-benar akan menepati janji mu?" Jasmin kembali bertanya dengan sorot mata penuh harap.
"Aku tidak pernah berjanji pada seseorang, aku akan melakukan yang terbaik, tidurlah sudah malam." sahut Dimitri yang mengusap pelan rambut Jasmin dan pergi keluar kamar.
"Aku percaya kamu akan membantu ku." batin Jasmin.
***
"Kau akan melakukannya hari ini?" tanya Dimitri pada Alex asisten pribadinya pagi itu di kantornya via telepon.
"Iya tuan, saya akan melakukannya hari ini."
"Baiklah, kau sudah mengecek situasi di sana?"
"Sudah, semuanya aman,"
__ADS_1
"Baguslah, berhati hatilah." Dimitri menutup teleponnya.
"Kalian sudah siap?" tanya Alex pada dua pria yang duduk di kursi belakang mobilnya.
"Siap tuan," jawab mereka bersamaan.
"Baguslah, aku sudah mematikan semua cctv di rumah itu, tetaplah berhati hati.
Mereka pun turun dari mobil dan berjalan perlahan menuju pintu utama rumah megah tersebut.
"Kalian siapa?" tanya seorang pria dengan tubuh tegap yang berdiri di sana.
"Kami cleaning service, tuan Anthony menugaskan kami untuk membersihkan ruang kerjanya hari ini,"
Pria kekar itu menelepon seseorang untuk menanyakan kebenaran yang di ucapkan dua orang pria di hadapannya tersebut.
"Baiklah, silakan masuk, aku akan mengantar kalian,"
Dua pria itu tersenyum tipis setelah menghabisi cleaning service sebenarnya dan ucapannya di percaya.
"Ini ruangannya, bersihkan lah, jangan mengambil apa pun CCTV memantau kalian."ancam pria kekar tersebut.
Mereka berdua mengangguk dan memasuki ruangan tersebut lalu mencari sesuatu di sana. Tak lama mereka berdua keluar dan kembali ke mobil.
"Kalian menemukan apa?" tanya Alex saat mereka masuk ke mobil.
"Kami menemukan ini," Mencerahkan sebuah hardisk CCTV.
"Rekaman CCTV?"
Mereka mengangguk.
"Kerja yang bagus," menyerahkan uang yang cukup banyak pada mereka.
Kemudian Alex bergegas melajukan mobilnya ke kantor Dimitri.
"Sudah selesai?" tanya Dimitri begitu Alex mengetuk pintu dan menampakkan wajahnya.
"Sudah tuan, mereka menemukan ini," menyerahkan barang tersebut pada Dimitri.
Dimitri tersenyum tipis."Rekaman CCTV?"
Dimitri pun segera memutar rekaman tersebut di laptopnya dan terbelalak kaget melihat isi rekaman tersebut adalah CCTV yang berada di taman kota. Terlihat jelas di sana mobil mewah yang melesat dengan kecepatan tinggi dengan sengaja menabrak pria petugas kebersihan kota dan wanita di sana.
"Ini, ayahnya Jasmin?" ucapnya dengan nada tidak percaya.
"Iya tuan, itu ayahnya nona Jasmin dan pria di mobil itu pasti tuan besar." sahut Alex. Dimitri memperjelas wajah orang orang di sana.
"Benar dia papa." gumamya.
Dimitri memicingkan matanya melihat korban wanita di sana dan memperjelasnya.
__ADS_1
"Siapa wanita ini? dia juga korban? sepertinya aku pernah melihat wajahnya?" batinya seraya mengingat ingat sesuatu.
"Wanita itu, bukankah ibunya Arkan yang pernah aku lihat di rumah sakit?" gumam Dimitri yang semakin merasa terkejut dengan semua yang di lihatnya hari itu.