
Mobil mewah itu berhenti tepat di depan kedamaiannya. Jasmin bergegas turun, di susul Dimitri yang menarik paksa tangan Jasmin menuju kamar dan menghempaskan tubuhnya di ranjang.
Dimitri mencengkram pipi Jasmin." Apa yang sudah kamu lakukan dengannya?" tubuhnya dengan tatapan peuh emosi.
"Apa maksud tuan? aku tidak melakukan apapun." bantah Jasmin.
"Kalau kamu tidak melakukan apa pun untuk apa kamu diam diam menemuinya!!!!" sentak Dimitri.
"Aku hanya ingin menemuinya dia teman baik ku," jelas Jasmin.
"Teman baik? untuk wanita murahan seperti mu, apa semua pria kau anggap teman baik?"
PLAAAAKK!!
Jasmin menampar keras wajah Dimitri.
"Berhentilah merendahkan ku, apa selama ini tuan menganggap ku ada? menganggap ku istri? apa tugas ku? hanya melayani? apa pernah memperhatikan ku?" ucap Jasmin dengan air mata yang sedikit terjatuh di pelupuk matanya.
Dimitri melepaskan cengkramannya dan pergi keluar dari kamarnya.
.
***
Seorang pria berjalan di depan ruang ICU, di pandangnya seorang wanita yang tengah berbalik lemah di sana.
__ADS_1
"Apa bapak mengenal ibuku?" tanya Arkan yang baru datang ke rumah sakit dan melihat pria paruh baya itu terus memandangi ibunya dari balik kaca.
Pria itu menoleh memandang lekat tubuh dan wajah Arkan yang berdiri di hadapannya.
"Oh, maaf saya habis menjenguk teman saya di sini, dan berjalan jalan sebentar, lalu tidak sengaja melihat pasien ini." ucapnya sedikit gugup.
"Oh begitu." Arkan tersenyum.
"Apa dia ibu mu?" tanya pria itu kembali.
"Iya, dia ibu ku."
"Oh, kamu tidak mempunyai keluarga lagi selain ibu mu?"
"Begitu, baguslah.. semoga ibu mu cepat sembuh, saya permisi dulu." sambil menepuk punggung Arkan dan tersenyum ramah.
"Terima kasih." Arkan tersenyum dan pria itu pun berlalu pergi.
***
Papa Dimitri kembali ke rumahnya, menuju ruang kerjanya, menghela nafas sejenak dengan wajah Arkan yang masih ada di fikirannya.
Tok Tok Tok.
Seseorang mengetuk pintu ruangannya.
__ADS_1
"Masuk."
Tampak seorang bawahannya dari balik pintu dan berjalan masuk ke ruangan tersebut.
"Bagaimana, sudah kau dapatkan informasinya?" tanyanya
"Sudah tuan, pria muda itu bernama Arkan putra dari nyoya besar."
"Sudah kuduga." papa Dimitri tersenyum kecut.
"Bagaimana kehidupannya?" tanyanya kembali.
"Tuan Arkan sekarang berkerja di sebuah restoran dan sebelumnya berkerja di perusahaan tuan Dimitri, tetapi sudah di pecat."
"Apa? berkerja dengan Dimitri?" papa Dimitri tampak terkejut
"Iya tuan, Tapi tuan Dimitri sudah memecatnya tanpa alasan yang jelas, karena kinerja kerja pun cukup baik." jelas bawahnya.
"Begitu, awasi terus keadaan ibunya, jangan sampai ada perkembangan untuk kesehatannya, kamu mengerti apa yang harus kamu lakukan?"
"Mengerti tuan." bawahannya mengangguk dan bergegas pergi dari ruangan tersebut.
Papa Dimitri menyandarkan tubuhnya di kursi kerjanya, memijat pelan keningnya.
"Nyawa mu terpaksa jadi taruhan untuk kesalahan mu di masa lalu, Liliana." ucapnya lirih.
__ADS_1