Cinta Dalam Masalalu

Cinta Dalam Masalalu
Menerima tawaran


__ADS_3

"Ini kartu nama ku, kalau sudah berminat kamu bisa hubungin aku." Wanita sexy itu memberikan kartu namanya pada Jasmin dan berlau pergi.


Jasmin hanya terdiam sambil terus memandangi kartu nama yang di pegangnya. Tak lama Jasmin ke rumah sakit dan hendak menuju ke ruang ICU.


"Maaf nona Jasmin, di panggil ke ruang administrasi segera." ucap seorang perawat yang baru saja keluar dari ruang ICU tersebut.


"Oh, iya."


Jasmin pun bergegas menuju ruang administrasi dan menemui pegawai di sana.


"Maaf nona sebelumnya, kami tidak dapat melakukan transplantasi ginjal sekarang, nona harus membayar setengah administrasinya dahulu." jelas pegawai tersebut.


Jasmin tersentak bagaimana dia bisa membayar setengah administrasi tersebut bahkan sekarang pun dia sama sekali tidak memiliki uang.


"Bagaimana nona Jasmin?" tanya kembali pegawai tersebut  yang melihat Jasmin hanya melamun.


"Oh iya, saya pasti akan membayarnya, bisa beri saya sedikit waktu?" pinta gadis itu.


"Baiklah, kami beri waktu 2 hari karena kondisi pasien juga tidak dapat menunggu lama."


"Baik,saya akan membayarnya segera." Jasmin mengangguk dan berlalu pergi.


Langkah kaki gadis itu terasa lemas dan terhenti di sebuah bangku kosong di lorong rumah sakit. Jasmin mengambil kartu nama itu kembali dari sakunya dan kembali terdiam sambil memandangnya.

__ADS_1


Tak ada pilihan lain, aku tidak mau kehilangan ibu. gumamnya lirih.


Jasmin pun segera mengeluarkan handphonenya.


"Kakak, bisa aku bertemu kakak besok?" ucapnya dari balik telepon.


Keseson harinya pukul 19.00 Jasmin tengah menunggu seorang wanita di sebuah cafe dengan gelisah.


"Sudah lama menunggu? " tanya seorang wanita sexy yang menghampiri mejanya.


"Oh, belum kok kak." jawab gadis itu sambil tersenyum.


Wanita itu pun memesan minum, tak lama lemon tea yang dia pesan datang.


"Sudah, aku harap bisa secepatnya." jawab Jasmin penuh keyakinan.


Wanita itu tertawa mendengar ucapan gadis polos di hadapannya.


"Buru buru sekali." ucapnya sambil sedikit tertawa.


"Ibu ku harus segera melakukan transplantasi ginjal." sahut Jasmin lirih.


"Oh begitu."

__ADS_1


Wanita itu memandang wajah Jasmin yang terlihat sedih.


"Baiklah besok pengusaha itu akan menemui mu di sebuah hotel, tapi kamu tidak bohong kan kalau kamu masih perawan?" tanyanya sedikit ragu.


"Aku benar-benar masih perawan, bahkan berciuman pun aku belum pernah." jawab Jasmin yang memang sebenarnya sangat menjaga dirinya dari sentuhan lelaki tapi situasi sulit ini membuatnya tidak punya pilihan lain.


"Polos sekali." Wanita itu kembali tersenyum tipis.


"Baiklah besok malam temui aku di sebuah hotel aku akan memberitahukan alamatnya besok." sambung wanita tersebut.


Jasmin mengangguk dan tak lama wanita itu berlalu pergi. Keesokan harinya Jasmin bertemu kembali dengan wanita itu di sebuah hotel, wanita itu pun mengantar Jasmin ke sebuah kamar yang sudah di pesannya.


"Sebentar lagi pria itu datang, layani lah dia dengan baik, kamu mengerti?"


Jasmin mengangguk pelan dan wanita itu meninggalkannya sediruan di kamar. Gadis itu meremas dress yang di kenakakannya, jantungnya berdegup kencang dan tak dapat membayangkan hal apa yang akan terjadi padanya setelah ini.


Setelah ini aku akan jadi wanita kotor, sangat kotor. ucapnya lirih seraya meneteskan air mata.


Perasaannya semakin gelisah bercampur takut menanti pria yang akan membeli harga dirinya. Tak lama terdengar suara pintu kamarnya terbuka, Jasmin menoleh tampak pria muda dan tampan memasuki kamarnya.


Apa ini pria tersebut, kenapa dia sangat tampan? seharusnya dia bisa mendapatkan wanita yang di inginkannya dengan mudah tanpa harus membelinya. batin Jasmin bingung seraya terus melihat ke arah pria tampan tersebut yang memang wajahnya mendekati sempurna.


Pria itu bergegas menutup pintu kamarnya dan sekilas memperhatikan Jasmin yang tengah duduk di kasur dengan wajah gelisahnya.

__ADS_1


"Kenapa diam saja? cepat layani aku! " perintah pria tersebut.


__ADS_2