
Setelah mandi Jasmin bergegas memakai pakaian yang di berikan Dimitri. Tak lama Dimitri masuk ke kamarnya dan memandang ke arah Jasmin, gadis itu hanya tertunduk.
"Siapkan air hangat aku mau mandi." perintahnya.
Jasmin mengangguk dan segera menyiapkan air hangat untuk suaminya itu mandi. Tak lama Dimitri mandi, berganti pakaian yang semakin membuatnya tampak terlihat sempurna.
"Ayo pergi." ucapnya saat melihat Jasmin yang duduk di kasur membelakanginya.
Mereka pun pergi ke sebuah hotel tempat di mana acara itu di langsungkan. Tampak orang orang dengan pakaian mewahnya dan wajah angkuh mereka memenuhi ruangan itu.
"Kamu sudah datang?" tanya papa Dimitri yang melihat putranya itu baru tiba di hotel bersama Jasmin.
"Iya." jawab Dimitri datar.
Jasmin pun memberi salam pada mertuanya itu, yang di respon seulas senyum darinya.
"Bersikaplah manis pada istri mu." bisik papa Dimitri di telinga putranya dan berlalu pergi.
Dimitri terdiam dan sadar bahwa papanya sedang mengawasi gerak geriknya.
"Ayo ke sana." ucap Dimitri yang langsung memegang tangan Jasmin dan berjalan menuju beberapa para tamu yang sedang berkumpul.
Jasmin tersentak saat Dimitri memegang tangannya, tapi sesaat kemudian dia sadar pastilah yang di lakukan Dimitri hanyalah sandiwara belaka. Dimitri tampak asik mengobrol tentang bisnisnya dengan beberapa para tamu di sana.
"Aku mau minum." ucap pelan Jasmin.
Dimitri pun melepaskan genggamannya dan menuju meja besar yang terdapat banyak makanan dan minuman.
"Aduh." ucap Jasmin saat seperti menabraknya dan menumpahkan minuman di bajunya.
"Kamu buta kah?!" sentak seorang wanita yang menabrak Jasmin.
Dia yang menabrak kenapa dia yang marah? batin Jasmin.
"Kamu yang menabrak ku." Jasmin mencoba membela diri.
"Aku yang menabrak mu, tapi kamu harus tetap minta maaf pada ku, kamu tidak tau siapa aku?!! " sentaknya dengan nada angkuh.
"Ada apa ini?" tanya Dimitri yang sudah ada di belakang mereka.
"Tuan Dimitri? gadis ini membuat ulah di acara ini." ucap wanita itu pada Dimitri.
__ADS_1
.
Dimitri terdiam dan segera menarik tangan Jasmin meninggalkan tempat itu.
Siapa wanita itu? batin wanita angkuh itu yang masih memperhatikan Dimitri dan Jasmin.
"Kita mau ke mana?" tanya Jasmin saat dengan cepat menariknya keluar dari hotel tersebut.
"Pulang, kau membuat mood ku berantakan." ucapnya geram.
Dimitri segera menuju mobilnya dan menyuruh supirnya untuk keluar karena dia ingin mengendarai sendiri. Sampai Dimitri mengendarai mobil itu dengan kecepatan tinggi.
"Kenapa kamu sangat lemah?" ucapnya di tengah tengah perjalanan.
"Lemah?"tanya Jasmin bingung.
"Iya, saat kau di rendahkan kau hanya menunduk dan tidak bersikap tegas, kamu sangat memalukan untuk di ajak ke acara penting seperti tadi." ucap Dimitri yang tampak menyesal mengajak Jasmin ke acara tersebut.
Jasmin hanya terdiam dan melihat wajah Dimitri yang tampak kesal padanya. Tak lama mereka sampai rumah.
"Tidurlah di kamar tamu, aku muak melihat mu." ucap Dimitri yang langsung menutup pintu kamarnya.
Jasmin menghela nafas dan bergegas menuju kamar tamu. Pagi harinya Jasmin berangkat ke kantor seperti biasanya.
Jasmin menoleh ke arah suara tersebut, terlihat Arkan yang berjalan ke arahnya.
"Baru datang?" tanya Jasmin.
"Iya," sahut Arkan sambil tersenyum.
"Mata mu kenapa?!" tanya Arkan yang melihat mata Jasmin tampak sembab akibat menangis setelah di tampar Dimitri kemarin.
"Tidak apa apa, aku hanya kurang tidur." kilah Jasmin seraya berusaha tersenyum.
Sedangkan di ruang kerjanya Dimitri tampak sedang menikmati cofenya pagi itu, sambil memperhatikan Arkan dan Jasmin yang masih mengobrol dari jendela ruang kerjanya.
Siang itu Jasmin sedang di lantai satu untuk mengambil berkas berkas yang di butuhkannya pada pegawai yang lain, Jasmin hendak menaiki lift menuju ruang kerjanya kembali, lalu tampak Dimitri yang juga hendak menaiki lift yang sepertinya dari luar kantor.
Mereka menaiki lift bersama, dan hanya ada mereka berdua di dalamnya.
"Sudah ku bilang bukan, berhentilah melakukan hal menjijikan." ucap Dimitri dengan nada dingin.
__ADS_1
Jasmin mengerutkan keningnya "menjijikan bagaimana?" tanyanya bingung.
"Berhentilah mendekati karyawan baru itu." tegas Dimitri.
"Aku tidak mendekatinya, dia teman ku." bantah Jasmin.
Dimitri menoleh ke arah Jasmin dan mendorongnya ke sudut lift, mengunci tubuh Jasmin dengan lengan kekarnya.
"Sakit." Rintih Jasmin saat Dimitri menekan tangannya agar tidak bergerak.
"Seperti apa cara mu menggoda pria sampai karyawan baru itu terlihat sangat menyukai mu?!! " geram Dimitri.
" Aku tidak menggodanya." bantah Jasmin kembali.
"Apa kamu merindukan sentuhan pria jadi seperti ini?"
"Berhentilah menilai ku buruk!!" pekik Jasmin.
Tapi Dimitri segera mencium Kasar bibir Jasmin, sangat kasar membuat Jasmin sangat merasa kehilangan oksigen saat Dimitri menciumnya dengan sangat agresif. Tangan sebelah Dimitri terus menekan tombol lift agar lift tersebut tidak cepat terbuka sehingga dia bisa lebih lama mencium bibir Jasmin yang sudah membuat bibirnya sedikit terluka.
"Hentikan!!" Jasmin mendorong tubuh Dimitri dan mencoba pergi, namun Dimitri lebih dulu menahan lengannya, keluar dari lift dan menarik kasar tangan Jasmin menuju ruangannya. Tanpa disadari Arkan yang sedang berada di sana melihat pemandangan itu.
Dimitri mengunci pintu ruangannya, kembali mendorong kasar tubuh Jasmin ke sofa.
"Hentikan, apa yang tuan lakukan?" ucap Jasmin dengan bulir air mata yang membasahi pipinya.
"Memberikan mu sentuhan, agar kamu tidak lagi melakukan hal menjijikan pada pria lain!! " sentaknya yang langsung menindih tubuh Jasmin dan kembali menciumnya kasar, menciumi bibir dan lehernya, membuka paksa kancing kemejanya.
"Hentikan!! jangan perlakuan aku seperti ini." rintihnya sambil menangis.
Sampai terdengar suara ketukan pintu di ruangan Dimitri. awalnya Dimitri tidak memperdulikannya tapi terus terdengar suara ketukan pintu yang membuat dia harus menghentikan aksinya.
Dimitri beranjak dari tubuh Jasmin dan Jasmin bergegas merapihkan pakaiannya.
.
"Permisi pak, saya ingin menanyakan beberapa perkerjaan yang tidak saya mengerti." ucap Arkan di balik pintu.
Dimitri menarik nafas "Tidak bisa kamu bertanya pada yang lain?" geram Dimitri.
Arkan sedikit melirik ruangan tersebut, tampak Jasmin yang sedang duduk di sofa, menundukan kepalanya dan terlihat seperti menangis.
__ADS_1
"Kenapa Jasmin?" gumam Arkan yang tampak bingung.