Cinta Dalam Masalalu

Cinta Dalam Masalalu
Berkata jujur


__ADS_3

"Pergilah, sebelum aku marah." ucap Dimitri yang tau Arkan sedang melirik Jasmin yang ada di ruangan tersebut.


"Permisi," Arkan melangkah kembali ke meja kerjanya.


Jasmin bangkit dari sofa dan bergegas ke luar dari ruangan itu.


"Mau kemana kamu?" Dimitri menahan lengan Jasmin.


"Keluar,"


"Tetap di sini." perintahnya tegas.


Jasmin mencoba menatap tajam pria di hadapannya itu " Bukankah tuan tidak ingin pernikahan ini di ketahui orang kantor? kalau aku tetap di sini mereka akan curiga dan perlahan akan mengetahuinya sendiri." sahut Jasmin yang langsung melepaskan tangan Dimitri dan keluar dari ruang tersebut.


Saat jam makan siang, Arkan menghampiri meja kerja Jasmin, terlihat Jasmin yang masih fokus dengan perkerjaannya.


"Jasmin, ayo kita makan." ajak Arkan siang itu.


Jasmin menggeleng "Aku tidak ingin makan." tolaknya.


Arkan mengerutkan keningnya "Kenapa?"


"Tidak apa apa, hanya merasa tidak lapar."


Arkan terdiam dan memandang Jasmin yang tampak fokus dengan laptopnya, namun mata Arkan melirik sisi leher Jasmin yang terdapat tanda merah atau kecupan kepemilikan. Arkan membuang pandangannya entah kenapa dirinya merasa marah melihat itu.

__ADS_1


"Makanlah, ada yang ingin aku bicarakan." ajaknya kembali.


"Jasmin kembali menggeleng" Aku benar-benar tidak ingin makan." tolaknya kembali.


Arkan mengehela nafas" Baiklah." ucapnya dengan nada kecewa dan meninggalkan Jasmin.


Jasmin mematikan laptopnya dan menyandarkan kepalanya di meja kerja. Dirinya masih teringat perbuatan kasar Dimitri tadi pagi, hatinya terasa sakit dan tidak mengerti mengapa Dimitri selalu kasar padanya.


Dimitri yang baru keluar dari ruangannya dan hendak keluar kantor melihat Jasmin yang tampak lemas di meja kerjanya.


"Kamu tidak makan?" ucap Dimitri yang menghampiri Jasmin.


Jasmin tersentak kaget dari lamunannya dan segera mendongkakan wajahnya.


"Baguslah, kalau sakit jangan sampai menyusahkan ku." ucap Dimitri yang langsung berlalu pergi.


Sore harinya Jasmin bergegas ke luar kantor untuk pulang.


"Jasmin." panggil Arkan yang setengah berlari mengejarnya.


Jasmin menoleh" Ada apa?" tanyanya.


"Pulanglah dengan ku, ada yang ingin aku bicarakan." ajak Arkan.


"Maaf, aku naik taxi saja." tolak Jasmin yang bergegas pergi, namun Arkan menahan lengannya.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan di ruangan pak Dimitri tadi pagi?" tanya Arkan yang tidak dapat menahan rasa penasarannya..


Jasmin tersentak dan tampak bingung harus menjawab apa " Aku tidak melakukan apa-apa, hanya melakukan perkerjaan ku." kilah Jasmin.


Arkan menyibakan rambut panjang Jasmin yang menutupi lehernya.


"Tanda apa ini? apa perkerjaan yang kamu lakukan dengannya?" tanya Arkan yang menujuk tanda merah di leher jenjang Jasmin.


Jasmin benar benar terkejut dan tidak mengira ciuman kasar Dimitri di lehernya meninggalkan jejak sampai Arkan melihatnya.


"Aku harus pulang." ucap Jasmin gugup dan bergegas meninggalkan Arkan.


Namun Arkan semakin menahan lengannya erat. "Katakan pada ku, apa hubungan mu dengannya?" sentak Arkan.


Jasmin tertenggun dan tidak menyangka kenapa Arkan terlihat semarah itu. "Pak Dimitri, suami ku." ucap Jasmin yang lebih memilih berkata jujur dari pada Arkan menuduhnya yang tidak tidak.


Arkan kaget bukan kepalang mendengar ucapan Jasmin "Apa? suami mu? bagaimana bisa?" tanyanya tidak percaya.


Jasmin terdiam, dan tak tau bagaimana menjelaskannya, semuanya terlalu rumit di jelaskan baginya.


"Ayo pulang." ucap seorang pria seraya melepaskan tangan Arkan yang masih memegang lengan Jasmin.


Mereka menoleh, tampak Dimitri yang sudah berdiri di hadapan mereka.


"Ayo pulang." Dimitri mengulangi ucapnya dan menarik tangan Jasmin untuk masuk ke mobilnya, meninggalkan Arkan yang masih diam mematung.

__ADS_1


__ADS_2