
4 tahun kemudian..
Saat ini Jasmin baru saja menyelesaikan kuliahnya di salah satu universitas swasta. Dengan uang pemberian pria yang telah membeli harga dirinya Jasmin menyisihkan untuk biaya kuliahnya walaupun sampai sekarang sang ibu tidak pernah tau apa yang telah terjadi dengan sang putri, begitu juga Jasmin yang cukup trauma dan tidak ingin menikah karena takut suaminya kelak akan kecewa jika mendapati dia sudah tidak perawan bahkan dengan sengaja menjual keperawannya.
"Jasmin." terdengar suara pria saat Jasmin hendak keluar kampus karena masih ada urusan yang harus di selesaikannya di kampus.
Jasmin menoleh terlihat Arkan teman kuliahnya yang menghampirinya.
"Jasmin kamu mau pulang?" sambung Arkan.
"Iya, kenapa menangnya?" Jasmin mengerutkan keningnya.
"Makan di cafe dulu yuk sebentar, ada yang ingin aku bicarakan."
"Bicara apa?" tanya Jasmin penasaran.
"Nanti kamu akan tau sendiri, ayo."
Jasmin mengangguk dan masuk ke dalam cafe tempat tak jauh dari tempat mereka berada, Arkan memesan makanan di sana.
"Mau bicara apa?" tanya Jasmin memulai percakapan.
"Eheeemmm.. Setelah lulus apa rencana kamu Jasmin?" tanya Arkan.
"Aku akan berkerja, bahkan aku sudah mengirim email ke beberapa perusahaan, tapi belum ada panggilan." jawab Jasmin antusias dengan senyum di bibirnya.
"Oh begitu, Jasmin ada yang ingin aku berikan padamu."
Jasmin kembali mengerutkan keningnya " Apa?"
__ADS_1
Arkan mengeluarkan sesuatu dari sakunya dan membuka kotak kecil di tangannya.
"Aku ingin menikah dengan mu Jasmin." ucap Arkan seraya memperlihatkan cincin cantik di dalamnya.
Jasmin tersentak mendengar ucapan Arkan, dia memang sudah cukup lama mengenal Arkan dan tau jika pria itu memang menyukainya, tapi Jasmin tidak ingin berhubungan atau bahkan menikah dengan pria setelah dia kehilangan keperawannya pasti akan mengecewakan suaminya kalau suaminya sampai tau.
"Maaf Arkan, aku tidak bisa." tolak Jasmin lirih.
"Kenapa Jasmin? kalau kamu tidak ingin berpacaran aku ingin melamar mu." jelas Arkan mengutarakan maksudnya.
"Aku tidak bisa menjelaskannya, tapi aku benar-benar tidak bisa." ucap Jasmin yang beranjak dari kursinya dan meninggalkan Arkan yang terlihat sangat kecewa.
Jasmin pun bergegas ke rumahnya.
"Assalamualaikum." ucapnya seraya masuk ke dalam rumah.
"Walaikumsalam, kamu sudah pulang sayang. " sahut ibunya yang berjalan menghampirinya.
"Jasmin kamu kenapa?" tanya ibu yang melihat wajah Jasmin tampak sedih.
"enggak apa-apa kok, aku hanya sedikit lelah, aku ke kamar dulu ya bu." Jasmin berusaha tersenyum dan bergegas ke kamarnya.
Di rebahkan tubuhnya di ranjang.
"Maafkan aku Arkan, maafkan aku, aku tidak bisa menjelaskan yang sebenarnya." gumam nya sedih.
***
Pagi itu Jamsin mengecek email yang masuk di laptopnya, matanya membulat saat melihat panggilan interview di sebuah perusahaan dalam email tersebut.
__ADS_1
"Apa ini? aku di panggil interview?" gumamnya tidak percaya.
Jasmin bergegas menghampiri ibunya.
"Ibu!! " ucapnya seraya memeluk sang ibu.
"Kenapa sayang?" tanya ibu yang melihat Jasmin tampak senang.
"Jasmin dapat panggilan interview di perusahaan besar, besok bu." ucapnya dengan binar mata yang tampak senang.
"Alhamdulillah, semoga lancar ya sayang." sang ibu membelai lembut rambut Jasmin.
"Iya bu, semoga kali ini aku di terima berkerja ya." ucap Jasmin penuh harap mengingat dia selalu gagal saat panggilan interview.
"Iya, semoga kamu di terima ya sayang." jawab ibu Jasmin sambil tersenyum.
Keesokan harinya pagi hari Jasmin sudah berpakaian rapih dan bergegas ke perusahaan tersebut. Jantungnya berdegup kencang tapi hatinya sangat berharap usahanya kali ini akan membuahkan hasil.
"Permisi, saya Jasmin, saya ada jadwal interview hari ini." ucap Jasmin pada respsionis di sana.
"Oia silahkan tunggu di depan ruangan pak Dimitri, di lantai 3 nona." sahut respsionis tersebut dengan senyum ramahnya.
Jasmin mengangguk, dan bergegas menuju lift.
"Apa nama atasan itu Dimitri?" gumamnya.
Sampai lift tersebut sampai di lantai 3 dan Jasmin menunggu di depan ruangan yang di bertahukan karyawan di sana.
"Nona Jasmin, silakan masuk." ucap seorang wanita yang keluar dari ruangan tersebut.
__ADS_1
Jasmin mengangguk dan berjalan perlahan memasuki ruangan tersebut. Jasmin memicingkan matanya melihat sosok pria muda dengan wajah sempurna sedang duduk di kursi kerjanya. Mata pria itu menatapnya tajam. Pria yang membuat mengingatnya suatu kejadian di masa lalu yang ingin di lupakannya.
"Pria itu? bukankah dia yang sudah membeli harga diriku dulu?" gumamnya yang tampak terkejut