
"Bagaimana nona apa kamu bersedia?" tanya pria di hadapan Jasmin.
"Kenapa saya harus menikah dengan putra anda tuan?" sahut Jasmin tidak mengerti.
"Karena itu permintaan saya." pria itu memberikan alasan yang tidak jelas.
Jasmin hanya terdiam dan mencoba berfikir.
"Kalau anda tidak mau tidak apa-apa silakan keluar dari rumah anda." ucapnya memaksa.
"Baiklah saya akan menikah dengan putra anda tuan, tapi hanya sampai hutang saya lunas saya harap di hitung perharinya atas pernikahan saya." pinta Jasmin.
Pria itu tertawa "Apa anda sedang membuat lelucon? ini pernikahan bukan permainan." tolaknya.
"Saya tau, tapi saya tidak mencintai putra anda dan mungkin putra anda juga tidak mencintai saya, saya tidak bisa menikah tanpa di dasari rasa cinta tuan, tapi kalau untuk waktu tertentu mungkin saya anak mencobanya." pinta Jasmin kembali.
"Baiklah, menikahlah sampai 100 hari dengan putra ku." pria itu akhirnya menyetujui permintaan konyol Jasmin.
"Terima kasih tuan, saya harap anda bisa membuat surat perjanjian itu."
"Akan saya buat satu hari sebelum kalian menikah, sekarang pulanglah dan kembali lagi mendekati hari pernikahan kalian."
Jasmin mengangguk dan keluar dari ruangan tersebut.
***
Malam itu Dimitri baru saja pulang ke rumah selesai berkerja.
"Dimitri, papa mau bicara." ucap papanya yang sudah menunggunya di ruang tamu saat Dimitri baru memasuki rumah.
__ADS_1
Dimitri mengerutkan keningnya dan mengikuti langkah kaki papanya yang menuju ruang kerjanya.
"Mau bicara apa?" tanyanya saat sudah duduk berhadapan dengan papanya.
"Kamu harus segera menikah."
Dimitri tersentak kaget dengan ucapan papanya dalam benaknya tidak ada niat sedikit pun untuk menikah, dia merasa tidak memerlukan wanita kalau pun perlu hanya untuk di ajak berkencan saja.
"Kenapa aku harus menikah?" tanyanya heran.
"Karena papa menginginkan itu, lagi pula kamu sudah seharusnya menikah." tegas papa.
"Tidak, aku tidak mau." tolaknya mentah mentah.
"Yasudah, silakan angkat kaki dari sini, ingat Dimitri papa masih memegang semua kendali atas harta, rumah dan perusahaan." ucapnya dengan nada menekan.
Dimitri terdiam, dia sadar semua yang dia miliki memang masih di atas kendali papanya walaupun nantinya semua harta itu akan mutlak jatuh padanya selaku putra tunggal tapi sampai saat ini papanya belum menyerahkan apa pun untuknya.
"Dengan seorang wanita yang baik tentunya."
Dimitri tersenyum kecut" Memangnya masih ada wanita baik di jaman sekarang ini?" tanyanya menyepelekan.
"Sudahlah, lusa kamu akan bertemu dengan wanita itu."
"Terserah saja." ketus Dimitri yang langsung bangkit dari kursinya dan meninggalkan ruangan papanya .
***
Tok Tok Tok.
__ADS_1
Terdengar suara ketukan pintu di rumah Jasmin pagi itu. Jasmin bergegas membukanya.
"Selamat pagi nona Jasmin, tuan memerintahkan agar nona menemuinya sekarang." ucap seorang pria dengan badan tinggi dan tegap di hadapannya
"Baiklah."
Jasmin pun menaiki mobil dan menuju pria yang masih asing untuknya. Sampai mereka di rumah megah tersebut Jasmin kembali di tuntun ke ruang kerja pria itu.
"Permisi tuan, nona Jasmin sudah datang."
"Persilahkan masuk." perintahnya.
Jasmin masuk ke ruangan tersebut dan duduk di hadapan pria itu.
"Ini, Surat perjanjian yang kau inginkan, tanda tangani lah." ucapnya seraya memberikan beberapa lembar kertas pada Jasmin.
Jasmin membaca dengan seksama isi perjanjian itu kalau dia harus menikah dengan putra pria itu selama 100hr sesuai dengan keinginannya dan bisa mendapatkan rumahnya kembali. Jasmin segera menandatanganinya.
"Sudah tuan." Jasmin memberikan surat perjanjian itu.
"Baiklah, hari ini kamu akan bertemu dengan calon suami mu, sekaligus putra tunggal saya.
Tak lama terdengar suara langkah kaki mendekat ke arah ruangan itu dan memperlihatkan wajah pria yang akan menjadi suaminya.
.
"Ini putra saya, Dimitri Anthony." ucap pria tersebut.
Jasmin terbelalak kaget melihat wajah pria itu, wajah yang sangat tak asing untuknya.
__ADS_1
"Pak Dimitri?" ucapnya saat tau pria itu ada
adalah atasan di tempat kerjanya sekaligus pria yang pernah membeli harga dirinya dulu.