Cinta Dalam Masalalu

Cinta Dalam Masalalu
Bantu aku


__ADS_3

Dimitri melangkahkan kakinya masuk ke dalam sebuah restoran. Terlihat asisten pribadinya tengah menunggu di sana. Dimitri duduk di kursinya lalu memesan makanan di sana.


"Siapa yang membuat keributan?" tanya Dimitri tanpa basa basi.


"Pria muda bernama Arkan."


"Apa? Arkan? kau tidak salah dengar?" tanyanya tidak percaya.


"Tidak tuan, saya sempat memfotonya saat dia hendak keluar." memberikan beberapa lembar foto pada Dimitri.


Dimitri memicingkan matanya memperjelas pria di foto tersebut."Ini benar Arkan, pria yang dekat dengan Jasmin?" batinya.


"Kenapa dia membuat keributan?" tanya kembali Dimitri.


"Dia mempunyai foto tuan besar bersama seorang pria yang dis sebut ibunya."


"Apa maksudmu?" Dimitri semakin tidak mengerti dengan ucapan asisten pribadinya itu.


"Saya juga tidak mengerti, tuan besar tidak memberikan penjelasan apapun dan mengusir paksa pria muda itu."


Dimitri memijat pelan keningnya."Selidiki terus, aku yakin ada yang dia sembunyikan." perintahnya yang di respon anggukan dari asisten pribadinya itu.


***


Malam itu Jasmin merasakan perutnya sangat mual dan tak terhitung sudah beberapa kali dia keluar masuk toilet. Kepalanya terasa di penuhi pertanyaan terutama perkataan Arkan yang mengatakan ayahnya juga adalah ayah Arkan.


"Perut ku mual sekali.. apa aku hamil?" batinya risau seraya mengelus pelan perutnya.


Jasmin merebahkan tubuhnya di ranjang, bergulat dengan fikirannya sendiri. Tanpa Dimitri yang seharusnya ada di sisinya tapi pria itu tidak pulang malam itu, entah ke mana. Jasmin tak pernah punya hak untuk melarang atau hanya sekedar untuk bertanya.


Pagi harinya Jasmin sudah memegang sebuah tespek di tangannya. Dia perlahan mencelupkan tespek tersebut ke urinenya seraya memejamkan matanya. Tak lama Jasmin perlahan membuka matanya melihat dua garis yang awalnya terlihat samar namun tak lama semakin jelas dan nyata. Tangannya kian gemetar dan tubuhnya jatuh terkulai di lantai toilet.


"Aku hamil?" ucapnya lirih.


"Bagaimana ini? aku hamil dengan suami yang sama sekali tidak mencintai ku." ucapnya kemudian dengan air mata yang membasahi pipinya.


Tak lama terdengar suara pintu kamarnya terbuka. Jasmin bergegas ke luar dari toilet dan melihat Dimitri yang baru saja pulang dan entah dari mana.

__ADS_1


"Tuan, sudah pulang?" berjalan menghampiri Dimitri.


"Iya." jawabannya singkat yang langsung membuka jas dan dasi yang masih melekat di tubuhnya.


"Dari mana saja semalam?" mencoba bertanya dengan suara yang sedikit bergetar.


"Untuk apa bertanya seperti itu?" sambil melirik Jasmin yang sedikit menundukan kepalanya.


"Aku hanya ingin bertanya."


"Oh, aku tidak ingin menjawabnya." hendak berjalan menuju toilet tapi Jasmin menahan lengannya.


"Aku hamil." ucapnya pelan.


Dimitri menoleh dengan ekspresi kaget."Jangan bercanda kamu." ucapnya tidak percaya.


"Aku tidak bercanda, waktu itu kita melakukannya saat aku tidak meminum pil kontrasepsi." jelas Jasmin seraya memberikan tespek pada Dimitri.


Dimitri melihat tespek tersebut."Sudahlah, hamil pun kau memiliki suami." jawabannya dengan nada enteng yang langsung bergegas menuju toilet.


Tak lama Dimitri keluar dari toilet dan bergegas memakai pakaiannya seraya terus memandangi pantulan tubuhnya di cermin.


"Tuan, mau pergi?" tanya Jasmin yang hanya duduk melihat tubuh belakang suaminya itu.


"Iya."


"Kemana? ini. kan hari libur?"


"Aku punya banyak urusan." ucapnya ketus yang langsung keluar kamar meninggalkan Jasmin.


Jasmin menghela nafas panjang mencoba menerima semua itu. Sampai handphonenya berbunyi.


Jasmin, temui aku di taman kota. tulis Arkan dalam pesannya.


"Arkan? sebaiknya aku temui Arkan ada banyak hal yang ingin aku bicarakan dengannya." batinya yang langsung mengambil tas dan bergegas keluar rumah menemui Arkan pagi itu.


Tak lama Jasmin sampai dan melihat Arkan yang sudah menunggu di kursi kosong di sana.

__ADS_1


"Arkan?" panggilnya yang perlahan mendekati Arkan.


Arkan menoleh melihat gadis cantik dengan mata yang sedikit sembab berjalan menghampirinya.


"Jasmin apa kamu habis menangis?" tanya Arkan yang melihat mata sembab Jasmin.


Jasmin menggeleng."Tidak, cepat katakan saja yang ingin kamu bicarakan." mencoba duduk di samping Arkan.


"Jasmin, apa ayah mu petugas kebersihan kota?" tanyanya menatap tajam gadis itu.


Jasmin mengangguk.


, "Siapa namanya?"


"Surya Irawan."


Arkan memalingkan wajah gusarnya dan menarik nafas panjang.


"Itu juga nama ayah ku."


"Aku tidak mengerti." Jasmin menggelengkan kepalanya.


"Jasmin aku pun tidak mengerti dengan apa yang terjadi tapi yang jelas kita satu ayah dan kamu adalah saudara ku." jelas Arkan.


"Aku tidak percaya." Jasmin beranjak dari duduknya.


"Kamu fikir mudah untuk ku percaya dengan ini semua? wanita yang aku cintai ternyata adalah saudara ku!!" ucap lantag Arkan.


Jasmin menoleh."Apa maksud mu?"


"Maksud ku? kamu tau kan aku dari dulu mencintai mu? tapi kamu lebih memilih menikah dengan pria angkuh itu, karena dia kaya?!" ucap Arkan dengan pertanyaan menohok.


"Kamu tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi." bantah Jasmin.


"Sudahlah, apa pun alasannya aku tidak akan pernah mengerti, sekarang cukup kamu yang harus mengerti.. kamu harus bantu aku mengungkap kematian ayah kita.. dan ini semua berhubungan dengan keluarga Anthony.. keluarga besar suami mu." ucap tegas Arkan.


"Apa?" ucap Jasmin yang semakin tidak mengerti dengan ucapan pria di hadapannya itu.

__ADS_1


__ADS_2