
Sore itu Jasmin merapihkan meja kerjanya, karena jam pulang kantor akan segera tiba. Tiba-tiba saja Jasmin merasakan perutnya sangat sakit.
"Perut ku sakit sekali." rintihnya seraya memegangi perutnya.
Jam pulang kantor tiba. Jasmin bergegas melangkahkan kakinya menuju ruangan Dimitri.
Tok, Tok, Tok.
"Aku sedang sibuk, pulanglah duluan." terdengar suara Dimitri dari dalam ruangan.
"Lebih baik aku sms saja untuk meminta ijin." Jasmin mengeluarkan handphonenya.
Tuan, aku ijin ke rumah sakit, perut ku sakit sekali. tulis Jasmin dalam pesan tersebut.
Jasmin segera ke luar dari dalam kantor terlihat supir pribadi yang sudah menunggunya. Jasmin segera masuk ke mobil dan menuju ke rumah sakit. Tak lama Jasmin sampai dan bergegas segera memeriksan dirinya untuk menghilangkan rasa nyeri di perutnya.
"Jasmin," terdengar suara pria memanggilnya saat Jasmin hendak ke luar rumah sakit setelah memeriksan dirinya.
Jasmin menoleh, tampak wajah pria yang tak asing untuk nya.
"Arkan?" terlihat Arkan yang perlahan menghampirinya.
"Jasmin kenapa kamu di sini?" tanyanya saat sudah berdiri di hadapan Jasmin.
"Aku, hanya memeriksan diri ku sebentar," jawabnya sambil tersenyum.
"Aps kamu sakit?"
"Tidak, hanya sakit perut biasa, kamu sendiri kenapa di sini?"
__ADS_1
Arkan tersenyum "Ikutlah dengan ku sebentar, aku ingin mengenalkan mu pada seseorang."
"Seseorang?" Jasmin tampak bingung.
Arkan menganggu, lalu menuntun Jasmin ke sebuah ruangan.
"Arkan, kenapa kita ke sini?" tanyanya saat Arkan membawanya ke sebuah ruangan ICU.
"Di dalam ada seseorang yang sangat berarti untuk ku." Arkan membawa Jasmin masuk ke ruangan tersebut.
Jasmin tampak terkejut melihat wanita paruh baya yang terbaring lemah dengan berbagai alat medis di tubuhnya.
"Ini siapa?"
"Ini ibu ku,"
"Ibu mu? dia sedang sakit apa?"
"Kenapa ibu mu bisa seperti ini?"
"Ibu ku mengalami kecelakaan, dia di tabrak seseorang yang tidak bertanggung jawab."
"Di tabrak? lalu di mana ayah mu?"
"Ayah ku juga meninggal, ayah ku seorang petugas kebersihan kota, tapi sayangnya aku tidak menemukan jasad ayahku, media pun tidak menyorot tentang ibu ku yang mereka sorot hanyalah tentang ayah ku, entahlah, saat itu aku masih sangat kecil dan tidak mengerti semuanya." jelas Arkan kembali.
"Petugas kebersihan kota?"
"Iya, setelah itu aku tinggal bersama bibi ki, setelah dewasa aku berusaha untuk menguak kasus itu kembali, tapi sia sia, pengadilan dan polisi seakan menutup rapat kasus itu." Arkan berusaha tersenyum.
__ADS_1
Jasmin terdiam dan seakan dapat merasakan yang Arkan rasakan.
"Aku yakin, ibi mu akan membaik." Jasmin memberikan semangat.
"Aku selalu menunggu hari itu, sampai ibu menjelaskan banyak hal yang tidak aku mengerti sampai saat ini."
Sampai terdengar suara pintu ruangan itu terbuka.
"Jasmin," terdengar suara pria memanggilnya.
Jasmin dan Arkan menoleh tampak Dimitri yang perlahan menghampiri mereka.
"Pak Dimitri?" Jasmin sedikit terkejut.
"Seperti ini cara mu berbohong? ke rumah sakit untuk menemui pria ini?" tuduh Dimitri kemudian dengan wajah yang sudah mulai emosi.
"Kami tidak sengaja bertemu, dan aku yang mengajaknya ke sini." jelas Arkan.
Dimitri terdiam dan sesaat melirik ibu Arkan yang tengah terbaring.
"Pulanglah." Dimitri memegang lengan Jasmin dan menariknya ke luar dari ruangan tersebut.
Mereka masuk ke dalam mobil.
"Tadi aku sudah mengirim pesan, dan memenita ijin pada tuan," jelas Jasmin yang melihat wajah Dimitri masih tampak emosi.
"Kamu hanya bilang ke rumah sakit, tapi tidak menulis alamatnya, dasar bodoh." umpat Dimitri.
"Maaf." lirih Jasmin dan Dimitri hanya terdiam membiarkan keheningan di antara mereka. Sedangkan Jasmin tampak masih memikirkan dengan cerita kehidupan Arkan yang tadi di ucapkannya.
__ADS_1
Maaf ya sedikit.. besok aku up. lagi ya.. ❤️❤️novel ini mengandung banyak teka teki yang perlahan akan terungkap sampai akhir cerita, jadi lebih teliti yak membacanya supaya kalian enggak bingung nantinya.. jangan lupa tinggalkan like, komen dan votenya yak 🤗🤗🤗❤️❤️❤️