Cinta Dalam Masalalu

Cinta Dalam Masalalu
Makan di luar


__ADS_3

"Aku menemukan ini," Dimitri melemparkan koran lama itu pada bawahannya saat sudah kembali ke kantornya.


Pria itu menangkap koran tersebut dan membaca berita di sana.


Dimitri mengerutkan keningnya "Sepertinya duagaan ku benar, papa yang sudah menabrak ayah Jasmin."


"Lalu, apa yang selanjutnya kita lakukan?" tanya bawahnya tersebut.


Dimitri menghela nafas dan menyandarkan tubuhnya di kursi kerjanya." Aku yakin, masih ada bukti lain, tapi aku belum bisa menemukannya."


"Menurut mu bagaimana kalau kasus ini terkuak kembali dan menjadikannya sebagai tersangka?" sambung Dimitri.


"Itu akan sangat berpengaruh dengan nama baik tuan besar tentunya, bukan tidak mungkin semua perusahaan yang di bagunnya akan hancur begitu saja, dengan catatan kriminal yang di milikinya, tuan besar akan sulit mendapatkan kepercayaan lagi dari manapun."


Dimitri mengangguk setuju "Benar juga, itu pasti akan terjadi, baiklah, aku akan menghubungi mu lagi."


Bawahannya pun mengangguk dan bergegas meninggalkan ruangan tersebut. Dimitri terdiam dengan fikirannya sendiri.


***


Pukul 6 sore Dimitri pulang ke rumah, dia pulang agak terlambat dan Jasmin sudah pulang terlebih dahulu. Dimitri mencari Jasmin ke seluruh ruangan dan menemukan gadis itu tengah berada di dapur membantu para pelayanan yang hendak menyiapkan makan malam.


"Berhenti memasak," seru Dimitri di dapur yang membuat para pelayan itu menghentikan aktifitas mereka.


"Tuan, tuan sudah pulang?" tanya Jasmin sedikit takut.


"Iya, aku akan mengajak mu makan di luar, jadi cepat ganti pakaian mu." perintahnya.


Jasmin sedikit terkejut dan terdiam sesaat, lalu dia mengangguk dan segera menganti pakaiannya.


"Saya sudah siap tuan," ucapnya yang menghampiri Dimitri yang menunggu di sofa kamar mereka setelah selesai mengganti pakaiannya.


Tampak Jasmin yang terlihat cantik walau hanya sedikit make up di wajahnya, tapi fikiran Dimitri menjadi liar saat melihat pakaian yang cukup terbuka dan ketat yang memperlihatkan jelas lekuk tubuhnya .


"Kenapa rok mu pendek sekali? pakaian mu juga sangat ketat apa kau tidak kesulitan bernafas menakai pakaian seperti itu?" protesnya.


"Di lemari hampir semua pakaiannya seperti ini tuan? bukankah tuan yang membelikannya? dan aku harus memakainya?" Jasmin tampak bingung.


"Iya aku yang membelikannya, tapi tidak semua pakaian yang aku belikan untuk di pakai ada sebagian yang untuk di gantung saja.. sudahlah cari pakaian lain, pakai celana jeans saja." perintahnya.


Jasmin tampak bingung dan bergegas kembali mengambil pakaian yang lebih tertutup lalu menggantinya kembali ke kamar mandi.

__ADS_1


Dimitri beranjak dari sofa dan berjalan menuju lemari besar tersebut. Di bukannya adab di lihatnya pakaian Jasmin satu persatu.


"Apa aku yang membelikan semua pakaian ini? kenapa modelnya seperti kurang bahan semua?" batinnya bingung.


Tak lama Jasmin kembali ke luar kamar mandi dengan pakaian yang lebih tertutup.


"Ayo pergi," ajak Dimitri.


"Mau makan malam tuan?" Jasmin berusaha mengiringi langkah kaki Dimitri yang ke luar dari kamar mereka .


"Kita ke mall dulu, aku akan membelikan pakaian lagi untuk mu."


Mereka pun pergi ke sebuah mall. Dan menuju toko pakaian ternama di sana. Dimitri membelikan banyak pakaian untuk Jasmin yang pastinya lebih tertutup.


"Tuan, ini sudah terlalu banyak?" Jasmin tampak bingung saat Dimitri mengambil pakaian yang cukup banyak untuknya.


"Lemari mu besar mana mungkin hanya di isi dua pasang pakaian saja," kilahnya.


Dimitri kemudian membayar pakaian tersebut dan menyuruh supir pribadinya untuk membawanya ke dalam mobil.


"Kita cari restoran di sekitar sini, tadi aku melihat restoran bagus di luar mall ini." ucapnya saat keluar dari toko pakaian tersebut.


Jasmin mengangguk dan mereka keluar dari mall tersebut .


"Kita makan di dalam saja." ajaknya kembali.


Jasmin terdiam dan tampak fokus melihat sesuatu. Dimitri mengikuti arah mata Jasmin yang melihat penjual pecel ayam di pinggir jalan tepat di sebrang mall tersebut.


"Apa kau ingin makan di sana?" tanya Dimitri menerka nerka.


Jasmin mengangguk pelan "Iya, aku lebih suka makanan seperti itu dari pada menu di restoran, apa tuan mau makan di sana?" tanyanya sedikit takut Dimitri akan menolaknya mentah mentah karena mengajaknya makan di pinggir jalan.


"Ya sudah, kita makan di sana."


Jasmin tertenggun tak percaya "Tuan, mau?" tanyanya tidak percaya.


"Apa kau tuli? sebentar aku akan suruh supir ke sini." hendak mengeluarkan handphone dari sakunya.


"Tidak usah pakai mobil, kita jalan saja, ini dekat." usul Jasmin.


"Tapi ini sedang gerimis."

__ADS_1


"Kita berlari." ajak Jasmin.


"Berlari?"


Jasmin mengangguk.


Dimitri membuka mantal tebelnya dan meletakkan di atas kepala mereka, lalu memegang tangan Jasmin yang berada di sebelahnya. Jasmin tampak sedikit kaget dan menoleh ke arah Dimitri.


"Mau berlari kan? jadi harus pegang tangan ku agar tidak jatuh."


Jasmin kembali tertenggun. Sampai mereka berjalan dengan sedikit berlari ke luar dari area mall menuju penjual pecel ayam yang berada di sebrang jalan.


Jasmin tampak terengah engah saat mereka sampai.


"Apa kau lelah?" tanya Dimitri yang melihat nafas Jasmin tampak tak beraturan.


"Sudah lama aku tidak berlari, ternyata capek juga." Jawabnya sambil tersenyum ceria membuat Dimitri sesaat terpaku dengan senyuman itu.


"Sudahlah, cepat pesan makanan," berusaha mengalihkan pandangannya.


Jasmin mengangguk dan memesan dua porsi makanan di sana. tampak Jasmin yang lahap memakan makanan tersebut.


"Hey, pelan pelan makanya, cara makan mu seperti tidak makan setahun saja." ejek Dimitri.


"Maaf, makanan ke sukaan ku dan ibu."


"Oh,"


"Apa makanan kesukaan tuan dan ibu tuan?" tanya polos Jasmin.


Namun tak lama dia menutup mulutnya dengan tangannya karena merasa salah memberikan pertanyaan terlebih dia juga tak pernah melihat sosok ibu Dimitri.


"Maaf tuan," sesalnya kemudian.


"Aku tidak punya makanan kesukaan, dan juga ibu." jawabannya dengan nada dingin.


"Apa sudah meninggal ibu tuan?" memberanikan diri untuk bertanya kembali.


"Masih hidup, tapi entahlah aku tidak pernah menemukannya di dunia ini."


Jasmin terdiam dan tak tau harus menjawab apa. walau Jasmin dapat menangkap sedikit gurat kesedihan di wajah Dimitri.

__ADS_1


Say.. maaf ya tetat up..🙏🙏 semoga masih setia membaca yak ❤️❤️❤️🤗🤗🤗🤗


__ADS_2