Cinta Dalam Masalalu

Cinta Dalam Masalalu
Sosok yang ramah


__ADS_3

"Siapa wanita yang tadi di ruang ICU?" tanya Dimitri pada Jasmin di sela sela perjalanan mereka.


"Ibu, itu ibunya Arkan, dia bilang ibunya korban tabrak lari.. ayahnya juga tapi jasad ayahnya tidak ada, ayahnya juga petugas kebersihan kota, sama seperti ayah ku." Jelas Jasmin, dan Dimitri hanya terdiam dengan lamunannya.


***


"Ibu.. ibu... jangan tinggalkan aku..!! teriak seorang anak kecil sambil menangis tersendu sendu.


Dimitri mengelengkaan kepalanya dalam tidurnya, peluh membasahi wajahnya terbawa emosi yang saat ini dia rasakan.


"Ibuuu!!! " teriak Dimitri yang langsung terbangun dari mimpinya.


" Tuan, tuan tidak apa apa?" Jasmin cukup kaget dengan suara keras Dimitri yang membuatnya juga ikut terbangun dari tidurnya.


"Tunggu sebentar, aku ambilkan minum." Jasmin beranjak dari kasurnya dan keluar kamar.


Dimitri bersandar di ranjang, mengusap kasar wajahnya


"Kenapa mimpi itu selalu datang." batinya.


"Di minum tuan," Jasmin memberikan segelas air putih pada Dimitri.


Dimitri mengambil dan meminumnya.


"Apa tuan, bermimpi buruk?"


"Tidak apa apa, hanya mimpi." sahut singkat Dimitri.


"Tuan, memanggil ibu? apa tuan bermimpi tentang ibu?" tanya kembali Jasmin yang penasaran .


"Aku tidak punya ibu, kamu ini terlalu banyak bertanya." ketus Dimitri.


"Maaf." sesal Jasmin.


Dimitri menatap Jasmin yang duduk di sampingnya. Gadis itu tampak merasa bersalah . Dimitri memegang dagu gadis itu dan menciumnya lembut.


"Layani aku." bisiknya.


"Aku belum meminum pil kontrasepsi, aku akan meminumnya dulu." Jasmin hendak beranjak dari kasur tapi Dimitri menarik tangannya mengunci tubuh mungil gadis itu dengan tubuh kekarnya.

__ADS_1


"Aku tidak bisa lagi menunggu." ucapnya seraya menatap lekat wajah Jasmin.


"Tapi tuan... " belum sempat Jasmin melanjutkan kata katanya Dimitri mengunci bibir nya dengan ciuman. Melucuti pakaiannya, menciumnya dengan sangat liar dan melampiaskan hasratnya.


"Aku lelah." rintih Jasmin yang merasa tidak sanggup melayani nafsu Dimitri malam itu yang seperti tidak ada habisnya.


Dimitri tersenyum kecut dan menyudahi permainannya, membersihkan dirinya dan kembali ke ranjang. Terlihat Jasmin yang tampak sedih dan masih berlabut selimut.


"Kenapa wajah mu seperti itu? apa kamu merasa tidak puas." mendekati kembali wajah Jasmin dan hendak menciumnya kembali.


Jasmin menggeleng "Bagaimana kalau aku hamil?" ucapnya lirih.


Dimitri tertawa kecil. "Memangnya kenapa kalau kamu sampai hamil?" berbalik bertanya .


"Bukannya, tuan tidak ingin memiliki anak?"


"Aku akan bertanggung jawab." tegas Dimitri.


"Tapi.."


"Sudahlah, aku lelah mau tidur, jangan banyak bicara." Dimitri menarik selimut ke seluruh tubuhnya dan tertidur .


Jasmin masih termenung dengan lamunannya.


Pagi hari Jasmin membuka matanya dan melihat Dimitri yang sudah tidak ada di ranjangnya. Hari ini sebenarnya hari minggu, entah kemana Dimitri pergi dia tidak pernah memberitahukan Jasmin kemana pun dia pergi selaku istrinya. Baginya Jasmin hanya perlu melayaninya dan tidak untuk tau semua urusannya .


Jasmin menghela nafas dan bergegas mandi. Dia kemudian berjalan jalan ke halaman belakang tampak bunga bunga cantik di sana. Jasmin pun kemudian menyirami bunga bunga itu.


"Jasmin," terdengar suara pria memanggilnya.


Jasmin menoleh " Tuan?" melihat ayah mertuanya yang sudah berdiri di hadapannya.


Jasmin segera mencium punggung mertuanya itu.


"Kenapa tidak bilang mau ke sini?" tanya Jasmin agak canggung.


"Tidak apa apa, hanya ingin melihat menatu ku saja." jawabnya seraya tersenyum ramah.


"Oia, ke mana Dimitri?" sambungnya.

__ADS_1


Jasmin menggeleng "Tidak tau, mungkin ada urusan." sahutnya.


"Oia tuan mau minum apa? saya ambilkan dulu." ucapnya yang sempat lupa menawari minum mertuanya itu.


"Tidak usah, aku tidak haus.. oia panggil saja aku papa, anggaplah aku seperti papa mu." pintanya dengan sorot mata yang lembut.


Jasmin menggeleng "Tidak tuan," tolak Jasmin.


"Jasmin kamu sudah menikah dengan Dimitri, berarti kamu juga menjadi bagian keluarga ku, jangan panggil tuan lagi, itu tidak enak di dengar." pintanya kembali.


Jasmin terdiam dan mengangguk pelan.


"Jasmin, kenapa kamu masih berkerja? apa Dimitri tidak menyuruh mu untuk keluar dari perkerjaan mu?"


"Tidak, tapi tidak apa apa, aku juga masih ingin berkerja pah." sahutnya sambil tersenyum.


"Apa Dimitri berlaku baik pada mu?" tanyanya menyelidik.


Jasmin tersentak dan tampak bingung harus menjawab apa.


"Ehhmmm."


"Dia bersikap kasar padamu?" tanyanya kembali yang seakan sudah tau sifat putranya itu.


"Tidak." kilah Jasmin.


Papa Dimitri tersenyum.


"Dimitri sebenarnya anak yang baik, papa yakin kamu akan bisa merubahnya.. sikapnya memang agak dingin semenjak kepergian ibunya." jelas papa Dimitri.


"Memangnya di mana ibu tuan Dimitri?" tanya Jasmin.


"Sudah meninggal."


"Meninggal?"


Jasmin terdiam dan mencoba mengingat ingat perkataan Dimitri yang mengatakan ibunya masih hidup tempo hari.


"Iya meninggal, Dimitri putra ku satu satunya."

__ADS_1


Jasmin tersenyum simpul mendengar ucapan mertuanya itu yang menurutnya mempunyai sikap lebih hangat dan ramah dari pada Dimitri.


Say..maaf ya baru up.. akhir akhir ini semangat menulis ku lagi menurun nih.. harap maklum yak 😥😥😥


__ADS_2