
Diana benar aku tidak boleh labil, aku harus meyakinkan hatiku pada mas Vino, aku tidak boleh memikirkan Azil atau lelaki lain, aku tidak mau menyakiti perasaan mas Vino, walaupun aku harus tahan dengan sikap Rian bagaimana lagi, itu memang yang terbaik untuk hubunganku dengan mas Vino.
Pagi harinya aku bersiap berangkat kerja, handphone ku berbunyi, ternyata dari Azil
"halo mi kamu udah berangkat belum?"
"belum ini baru mau berangkat" kataku
"yuk bareng aku udah di depan kontrakan kamu" ajak Azil
"ohh iya bentar ya" kataku sambil mematikan telepon Azil, aku langsung memberitahu mas Vino takutnya dia datang menjemputku ke sini, aku langsung keluar kontrakan,
"ayo Az berangkat biar bisa nyari sarapan dul.., ehh Rian...!" aku belum sempat menyelesaikan omonganku karena kaget melihat Rian bersama Azil di depan kontrakanku,
"pagi Ami, ohh jadi kamu ngontrak di sini ya, emm lain kali boleh kan aku maen ke sini???" kata Rian
"apaan sih gak boleh, orang aku cuma ngontrak sendirian di sini" jawabku
"bagus dong kan biar bisa aku temenin" kata Rian sambil tertawa
"cewek sama cowok gak boleh di dalem ruangan berduaan Rian itu gak baik" kata Azil menjawabnya
__ADS_1
"tuh denger tuh dengeriiiin, Azil aja ngerti" kataku
"ya elah becanda kali mi, tapi berarti kalau aku sama Azil yang main bisa dong kan jadi bertiga" kata Rian
"boleh ko, nanti Azil sama aku di dalem kamu tunggu di luar.. " kataku sambil tersenyum
"dih pilih kasih curanglah" kata Rian
"eh ko kamu bisa sama Rian sih Az?" tanyaku
"iya kemarin Rian ingin ikut menginap di rumah sodaraku yang deket sini, jadi sekalian ngajak bareng kamu" kata Azil
"ohh gitu" kataku
"udah ayo berangkat sekalian cari sarapan dulu tapi, laper nih" kata Rian
Setelah sampai di tempat kerja aku dapat pesan di handphone dari mas Vino "semangat sayang untuk hari ini" tulis nya dengan di tambah gambar hati, hatiku rasanya senang dan gak karuan, mungkin aku memang sudah mulai sayang pada mas Vino,
"woy Ami ayo buruan masuk malah senyum-senyum sendiri, nanti telat loh" kata Rian
"iya iya bawel banget sih dari tadi, ayo Az kita masuk" ajakku sambil menarik dan memegang tangan Azil
__ADS_1
"perasaan aku yang ngajak deh Mi, kenapa malah tangan Azil yang di tarik sama di pegang...!, woy Amiii Amiii" kata Rian sambil berteriak teriak
Aku mengacuhkannya dan terus jalan bersama Azil, kalau aku ladenin bakal lama urusannya, saat aku memegang tangan Azil kenapa tiba-tiba aku merasa nyaman?, berbeda dengan saat tanganku di pegang oleh mas Vino, pasti ini hanya perasaan nyaman seorang teman saja karena Azil selalu baik padaku, aku tidak boleh berpikir terlalu jauh lagi, harus fokus pada pekerjaan dan mas Vino.
Sudah jam istirahat lagi, saat aku akan mengambil bekalku, di loker ada coklat lagi tapi tidak ada kertas atau tulisan apa-apa, pasti ini ulah Rian lagi, gumamku dalam hati,aku langsung menghampirinya ke gudang,
"nih ambil lagi coklatnya aku gak butuh" kataku sambil meletakan coklat di mejanya
"wahh kamu ngasih aku coklat, so sweet banget sih makasih ya" kata Rian
"kamu kan yang naro coklat di loker aku lagi, mau kamu ngasih coklat sebiji, sekardus atau segudang ini pun aku gak bakal mau balikan sama kamu Rian" kataku sambil ngomel
"aku gak naro coklat di loker kamu Ami" jelasnya
"kalau bukan kamu siapa lagi?, udah ngaku aja" kataku
"aku jujur waktu aku naro coklat di loker kamu waktu itu, aku kan langsung bilang" kata Rian
"halah tukang bohong dari dulu gak berubah bohong terus, udahlah aku mau istirahat nih makan tuh coklatnya" kataku sambil membuka pintu gudang
"dulu mungkin iya aku tukang bohong tapi sekarang aku udah berubah, dan semua itu karena kamu Ami aku mau berubah lebih baik" kata Rian
__ADS_1
"terserah" kataku sambil berjalan keluar gudang dan tak menghiraukan omongan Rian.