
Saat sedang menangis aku melihat mas Vino yang ternyata mengejarku.
Dia menghampiriku yang menangis di pundak Rian.
Mas Vino: " ternyata kamu di sini.aku ke kontrakan kamu barusan tapi kamu tidak ada aku mencari kamu" katanya sambil berlutut di depanku.
Aku hanya duduk diam bersama Rian yang masih di sampingku.
.
Rian: " sepertinya aku harus pulang bunda aku pasti sudah menunggu belanjaannya" sambil berdiri.
"Aku ikut Rian, boleh kan kalau kamu mengantarkan aku pulang dulu..! " kataku dengan suara yang serak.
Mas Vino: " aku yang mengantarkan kamu pulang saja ya..?" tanya mas Vino
.
.
Rian yang kebingungan hanya terdiam.
.
Ami: " tidak usah mas, aku dengan Rian saja atau kalau Rian tidak bisa aku bisa jalan kaki sendiri" kataku.
Rian: " aku bisa kok".
.
Mas Vino: " bukankah kita masih harus bicara Ami, kita harus menyelesaikan masalah hubungan kita" jelas mas Vino.
Ami: " apa yang harus kita bicarakan lagi mas, semuanya sudah jelas dan aku sudah menjelaskan semuanya sama kamu tadi". sambil terus berlinang air mata
.
.
Mas Vino: " Tapi aku sayang sama kamu aku tidak mau kita putus" kata mas Vino dengan suara gemetar
Ami: " ya sudah kalau memang kamu tidak mau putus dan kalau memang kamu serius sama aku. lakukan apa yang orangtuaku mau, apa kamu bisa?"
.
.
Sesaat mas Vino hanya terdiam tidak berkata apapun.
__ADS_1
.
.
Mas Vino: " aku minta maaf.tapi aku tidak bisa" dengan suara berat.
Ami: " kamu tidak ingin kita putus, kamu tidak ingin aku dengan orang lain, tapi kamu tidak ingin serius denganku.kamu egois mas".
.
.
Aku tidak tau harus mengatakan apalagi pada mas Vino. isi kepala dan hatiku di penuhi dengan banyak pertanyaan.
Namun susah untuk di ucapkan. aku benar-benar sudah kecewa padanya.
.
.
Ami: " jangan hubungi atau temui aku lagi mas KITA SELESAI sampai di sini".aku langsung menarik tangan Rian.
"Rian ayo antar aku pulang" kataku sambil pergi tidak menghiraukan mas Vino.
.
.
Kenapa?
.
Pertanyaan itu terasa berputar di kepalaku.
Dulu saat aku baru menjadi pacar mas Vino perasaanku biasa saja.sampai akhirnya perlahan hatiku luluh dengan perhatiannya.
Dan sekarang saat aku sudah benar-benar merasakan jatuh cinta dan menyayangi mas Vino. aku harus menerima kenyataan pahit ini.
.
.
Sesak sekali rasanya. rasa sakit ini membuatku merasa sangat sulit bernafas.
Aku harus berkali-kali menghela nafas yang dalam. tapi anehnya malah tambah terasa sakit.
.
__ADS_1
.
Rian di sepanjang jalan terus berusaha menenangkan aku.
Dia malah mengajakku ke sebuah warung kopi.
.
Rian: " Kita turun di sini dulu ya" katanya sambil mematikan motor.
Ami: " aku mau pulang saja.. " kataku dengan suara yang semakin serak.
Rian: " hanya sebentar.aku akan membelikan kamu minum supaya lebih tenang". kata Rian.
.
.
Setelah membeli minum.Rianpun mengantarkanku pulang.
.
Rian: " sudah ya jangan nangis lagi. kamu istirahat supaya besok tidak kesiangan masuk kerjanya." kata Rian
Ami: " iya.terimakasih sudah mengantarku pulang" kataku sambil langsung masuk ke dalam kontrakan.
.
.
Setelah beberapa lama aku masuk ke dalam kontrakan.aku mengintip dari kaca ternyata Rian belum pulang dan mukanya terlihat khawatir.
.
.
*Terserahlah aku ingin cepat tidur. aku ingin sejenak melupakan hari ini. gumamku*.
.
.
Keesokan harinya mataku jadi sembap dan hatiku masih sakit.
Tapi aku harus berusaha kuat untuk bekerja hari ini.
Dan aku harus berusaha mulai melupakan mas Vino.
__ADS_1