
Pikiranku memang sedang tidak fokus, aku tidak boleh terlihat murung atau sedih di depan orangtuaku, aku tidak ingin mereka khawatir,
"Assalamualaikum umi aku pulang" kataku sambil masuk ke dalam rumah
"Waalaikumsalam, tumben gak ngasih tau dulu mau pulang" kata Umi
"hehe kan kejutan" kataku sambil tertawa
"bapak kamu gak tau kalau kamu mau pulang jadi dia dari tadi pagi sudah berangkat ngojeg" kata Umi
"iya gak papa ko, aku pulang sekalian ngasih uang bulanan buat Umi sama bapak walaupun gak banyak tapi, mudah-mudahan bisa ngebantu Umi sama bapak ya" kataku sambil memberikan amplop
"kamu simpen aja buat masa depan kamu, setiap bulan kamu selalu ngasih untuk kami, itu kan hasil kerja kerasmu nak..." kata umi sambil mengelus kepalaku
"justru karena sekarang aku punya pekerjaan jadi bisa ngasih sama Umi dan bapak, lagian semua ini gak sebanding sama pengorbanan Umi dan bapak dalam mengurus aku sejak dulu sampai sekarang" kataku
"semua orangtua pasti ingin yang terbaik untuk anaknya tapi, maafin bapak sama Umi ya belum bisa mencukupi kamu dan pendidikan kamu sampai kamu harus bekerja keras seperti ini" kata Umi sambil menangis
"Umi ngomong apa sih, kalian itu udah jadi orangtua paling hebat buat aku, dan selama ini aku tidak pernah merasa kekurangan bersama kalian, hanya saja akupun ingin meringankan beban kalian walaupun hanya sedikit" kataku sambil ikut menangis
__ADS_1
Aku sangat menyayangi kalian, ingin rasanya aku terus ucapkan kata itu kepada kedua orangtuaku, mereka orangtua terbaik bagiku, walaupun dalam perekonomian kami tidak terlalu berada tapi, kasih sayang mereka padaku tidak pernah kurang hal itulah yang sangat mewah bagiku.
Sambil menunggu bapak pulang aku membantu pekerjaan rumah Umi dan memasak bareng, senang rasanya bisa membantu Umi lagi sambil bercanda sambil tertawa itulah yang membuat aku selalu rindu, dan membuat pekerjaan apapun terasa ringan.
"Assalamualaikum Umi" kata bapak yang baru pulang
"Waalaikumsalam" jawabku dan Umi
"ehh ada putriku yang cantik ternyata pulang, ko gak ngasih tau pulangnya" kata Bapak
"ya udah yuk makan dulu" kata Umi
Kamipun makan bersama, saat makan aku teringat dengan mas Vino, dia sudah makan atau belum ya belakangan ini kan dia sibuk banget dengan kerjaan dan kuliahnya,
"nak kamu kenapa ko bengong gitu...?" kata Umi
__ADS_1
"gak ko siapa yang bengong Umi, nih aku makan" kataku sambil melanjutkan makan
"Umi tau kamu ada yang lagi di pikirkan ayo jujur..." kata umi
"emmm sebenernya aku sedang dekat dengan seseorang" kataku
"ya bagus dong, siapa namanya?, orang mana dia?" tanya bapak sangat antusias
"namanya mas Vino, dia tinggal agak jauh dari tempat kerjaku tapi masih satu daerah sih" kataku
"kapan mau kamu ajak dan kenalin sama kami" kata Umi
"insya allah lain kali, dia lagi sibuk kerja dan kuliah jadi jarang bisa libur bareng sama aku" kataku
"terus apa kamu bengong tadi mikirin mas Vino itu?" kata Umi
"iya Umi, belakangan ini mas Vino sibuk banget jadi aku dan dia jarang berkomunikasi atau mengobrol, aku khawatir takut dia sakit karena terlalu kecapean" kataku
"emmm gitu, Umi ngerti kalau kamu khawatir nanti hubungi lagi saja tanyakan keadaannya, kamu sekarang lanjutin makannya habisin ya, nanti malah kamu yang sakit" kata Umi
Setelah makan, akupun banyak bercerita tentang mas Vino kepada Umi, banyak hal yang aku beritahu tentang mas Vino dan tentang seperti apa mas Vino di mataku, Umi dan bapak menyambut dengan baik, mereka mendukungku selama aku bahagia, mereka bilang tidak akan memaksa atau melarang aku dengan siapapun, selama orang itu baik, seiman dan membuatku bahagia mereka juga akan ikut bahagia.
__ADS_1