
Meskipun kabar yang dokter berikan belum pasti tapi sudah membuat Reina hampir pingsan.
"Bisa bicara dengan keluarganya?"Tanya sorang dokter yang ber nametag dr.Budi.
"Saya istrinya.Ada apa dok?"Jawab Reina cepat.
"Mari keruangan saya.Dan tolong anda temani mbaknya."Ucap sang dokter.Arif hanya mengangguk.
"Maaf dengan ibu siapa?"
"Reina dok."
"Begini bu.Dari hasil pemberikann sementara saya memperkirakan pak Very menderita kanker paru-paru.Untuk stadium berapa masih belum jelas karena diperlukan pemeriksaan yang lebih lanjut.Juga untuk memastikan apakah ini kanker paru-paru atau hanya sekadar sesah nafas biasa.Maka dari itu saya sarankan pak Very menjalani rawat inap dirumah sakit.Besok akan kita lakukan ct scan dan pemeriksaan yang lebih detail untuk mendapatkan hasil yang pasti."Jelas dokter tersebut.
Seketika air mata Reina mengalir begitu saja.Ia menangis.Tubuhnya terasa lemas seakan semua tulang-tulangnya remuk dan tak ada penopang tubuhnya.
Tak pernah ia bayangkan akan mendapatkan cobaan macam ini.Baru dua tahun ia menjalani bahtera rumah tangga dengan Very.Tapi ia sudah dihadapkan pada kenyataan seperti ini.
__ADS_1
Ia takut.Takut jika ia kehilangan Very.Ia belum siap.Ia masih sangat membutuhkan sosok Very untuk mendidik Ale.
Arif membantu Reina berdiri mengajaknya keluar dari ruangan dokter.Mereka berjalan kearah ruang UGD.
Dokter Budi yang sebelumnya masih diruangan langsung berlari keruang UGD karena mendapat telfon jika pasien bernama Very tidak stabil keadaanya.
Ternyata Very dipindahkan keruang ICU.Seketika Reina pingsan.
Disisi lain Arif menelfon Feris untuk memberi kabar ini.Ia juga menelfon keluarga Reina.
Sudah 10 hari lebih Very dirawat dirumah sakit.Dan dokter menyatakan jika Very mengidap penyakit kanker paru-paru.Selama ini Reina pulang pergi dari rumah ke rumah sakit berulang kali.Ia tidak bisa dirumah sakit terus sebab Ale juga membutuhkan dia.Dia juga tidak bisa berada dirumah terus karena Very yang belum diperbolehkan pulangpun juga membutuhkannya.
Bukan keluarga Agatha namanya jika hal seperti itu tidak dapat mereka bujuk.
Dengan telaten Reina mengurus Very dan Ale bergantian.Untung saja Ale adalah anak yang penurut dan tidak rewel.
"Ris,Rif tolong bawa Ale keluar sebentar.Aku pengen bicara berdua saja dengan mbakmu."Pinta Very.Ale pun diajak keluar.
__ADS_1
"Rein maafin aku ya(sambil menggenggam tangan Reina).Aku dulu janji bakal bikin kamu bahagia.Ekh malah jadi gini."Ucap Very,matanya sudah berkaca-kaca.
"Hey.Aku bahagia lagi Ver.Udahlah yakin kamu bakal sembuh terus kita main bareng.Membesarkan Ale bareng-bareng.Terus punya anak lagi.Dan masih banyak."Jawab Reina.Ia sudah tak bisa menahan air mata yang ia tahan sedari tadi.
"Iya.Aku janji.Besok lusa aku pasti sudah boleh pulang.Aku kangen main kejar-kejarang dengan Ale Rein."Jawabnya penuh semangat.
"Iya Ver."Sahut Reina lalu mecium kening Very lama sekali.
Tak lama teman-teman Reina datang.Detha,Ninka,Ifach,Iyya,Zie dan ternyata juga Rendra.Mereka semua membawa pasangan kecuali Rendra,ia datang bersama ayah Very.
"Cepetan sembuh Bhin.Noh anak lo kangen mau maen sama lo."Ucap Detha saat menyalami Very.
"Iya.Nggak pantes orang kayak lo sakit."Sahut Ninka.Semua yang ada disana tertawa.Begitupun Very.
"Iya.Noh motor dirumah udah numpuk pada teriak-teriak kangen sama elo."Celetuk Rendra.Semua tertawa kecuali Reina ia masih mencerna maksudt perkataan Rendra.Saat mereka sudah diam Reina justru gantian yang tertawa terbahak-bahak.
"Ommy."Ucap Ale.Lalu ia berlari memeluk mamanya.Meski belum jelas Ale sudah bisa memanggil kedua orang tuanya dengan sebutan 'ommy dan appa'.
__ADS_1
"Ya sayang apa?"Jawab Reina sambil berjongkok.Ale menunjuk sisi kasur sebelah Very.Dan Reina menggendong Ale lalu menidurkan disamping Very.
Tak lama Ale tertidur setelah memeluk Very beberapa saat.