
Hari ini juga ia akan terbang ke Kalimantan.Melanjutkan kuliahnya dulu yang ia tinggalkan karena pulang memenuhi janjinya pada Very sembari membesarkan Ale.Meskipun berat tapi ia akan lebih terpuruk jika masih berada dirumah itu.
Rumah yang menyimpan begitu banyak kenangan disana.Kenangan bersama Very dan keluarga kecilnya.
Usai sarapan semua sibuk dengan pekerjaan masing-masing.Tanpa ada yang tahu Reina sudah memasukkan koper-kopernya kedalam mobil.
Saat siang tiba dan semua orang sedang istirahat Reina pergi dengan mengendarai taksi yang ia pesan.Sebelumnya Reina sudah menulis sebuah surat untuk keluarga Very agar mereka tak salah paham.
Sedangkan surat untuk Rendra ia lebih memilih untuk mengirim lewat pos.Semua ia lakukan diam-diam agar tidak ada yang tahu.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Saat sore tiba Feris yang usai mendandani Nesia melihat ada secarik kertas diatas meja ruang tamu.Matanya membelalak saat membaca isinya.
'Pak.Rif.Ris maaf ya mbak pergi nggak bilang-bilang.Nggak bermaksudt apa-apa.Hanya saja mbak pengen nenangin diri dan pengen lanjutin kuliah mbak ditempat om.Kalau kalian rindu datang aja kesini.Biar Ale mengenal sosok kamu Rif yang Very minta jadi papanya.Aku hanya ingin merelakannya sebab akan sangat sulit jika aku terus berada disitu.Percayalah aku akan segera kembali.Dan aku apapun yang terjadi jangan ubah isi dan tata letak kamarku dengan Very.Cukup bersihkan saja.
Makasih...
-Reina- '
__ADS_1
Feris seketika berteriak memanggil Arif dan mertuanya.Begitu membaca surat tersebut tersirat kesedihan diwajah mereka tapi mereka juga menyadari akan alasan yang membuat Reina pergi dari kota itu.
Rendra pov
Pagi buta aku dan ibuku sudah heboh seperti pasar.Bagaimana tidak hampir setiap hari ibu selalu menanyakan kapan aku menikah.Rasanya kuping aku gatal sekali mendengarnya.
Tak terhitung pula ibu berusaha menjodohkan aku dengan perempuan-perempuan anak teman ibu.Dan setiap aku menolak pasti akan ada keributan.
Entahlah.Rasanya aku tidak tertarik dengan wanita manapun setelah dulu aku menyakiti Reina.Rasanya hatiku masih ingin menunggunya.
Kini aku sudah tidak bekerja sebagai buruh pabrik.Dengan semua uang yang aku kumpulkan beserta pesangon dari pabrik aku membuka usaha rumahan.Dan untungnya usaha itu sedikit demi sedikit sudah lebih berkembang.
Tok tok tok
Suara pintu diketuk membuyarkan lamunanku.Segera kubuka pintu dan ternyata tukang pos yang datang.
"Benar rumahnya mas Rendra?"Tanya bapak tukang pos.
"Iya pak.Saya sendiri."Jawabku sedikit bingung.Siapa yang mengirimkan sesuatu lewat pos untukku.
"Ini ada surat untuk mas."
"Terimakasih ya pak."
"Iya mas.Mari permisi."
"Iya pak."
Aku segera duduk diteras dan membaca surat yang dibungkus amplop putih.
Mataku tercengang saat kubuka dan kutemukan beberapa fotoku bersama Reina dulu.Foto yang dulu ia ambil saat kami masih pacaran.Dan semua kini ia kembalikan.Lalu aku melihat amplop kecil didalamnya.Mungkin surat untukku.
Ternyata ada dua surat.Satu dari Reina satu dari Very.Ku buka surat yang dari Reina terlebih dahulu.
'*Dear Rendra.
-Reina*-
Untuk kalimat terakhirnya aku masih belum terlalu paham.
Lalu kubuka surat dari Very untukku.
'*Rendra
Hai Rend.Saat elo baca surat ini gue udah disurga Rend.Gue cuma mau bilang gue titipin Reina dan anak gue.Gue yakin elo bisa gue percaya buat jagain mereka.
Rend,lo tau maksudt dari kepergian gue?Itu karena Reina itu jodohnya sama elo.Bukan sama gue.Buktinya sama gue cuma berapa tahun.Cuma sebentar Rend.Tunggu dia sampai dia mau merelakan gue dan siap menerima elo.Dulu dia pernah bilang sama gue kalau dia hanya memaafkan elo bukan melupakan elo.Percayalah dibalik hatinya yang keras masih ada rasa sayang meski entah hanya seberapa.
Cuma itu yang mau gue bilang Rend.
Makasih sebelumnya.
-Very*-
"Surat dari siapa?Surat hutang?"Tanya ibuku sinis.
"Ibu tuh ya emosi mulu kalau sama Rendra.Tenang buk jodoh Rendra sedang dalam masa penyembuhan luka."Sahutku.
"Buruan sana buka toko.Nggak usah banyak ngehalu.Ibu tahu kamu masih nunggu mantan kamu itu kan.Calon mantu ibu yang ketunda."Omel ibuku lagi.Mendengar ucapannya aku dibuat melongo.Bagaimana tidak kata-katanya terdengar sangat sarkastika.Memang benar sih tapi ya jangan seperti itu juga.
Aku langsung melengos meninggalkan ibuku diteras rumah.Kumasuki kamarku lalu kusimpan kedua surat itu didalam laci.Setidaknya meski tidak ada yang tahu dilaci meja kamar itu aku masih menyimpan fotoku berdua dengan Reina.
.
.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Waktu terus berjalan.Tidak terasa sudah hampir setahun Very pergi dan aku tak pernah bertemu dengan Reina ataupun anak mereka.Keluarga Very kutanya tak ada yang mau jujur.Dan aku belum cukup punya keberanian untuk bertanya pada keluarga Reina.Rasanya belum pantas.Mengingat belum lama kepergian Very.
.
.
.
.
.
Tidak terasa sudah hampir setahun Reina berada ditempat omnya.Kini Ale sudah berumur 2 tahun lebih.Sudah beberapa kali Very dan Feris datang ketempat Reina.Seperti permintaan Very dulu.Reina,Arif dan Feris meminta Ale untuk memanggil Arif dengan panggilan 'papa'.Dan anehnya kini ia tak mau dipanggil Ale.Melainkan Leandra.Reina sendiri kini kuliahnya belum selesai.Selamsakuliah anaknya ia titipkan ketempat penitipan anak yang terletak didepan kampus.Leandra akan ia jemput usai pulang kuliah.
__ADS_1
Untung saja Leandra bukanlah tipe anak yang rewel.Meskipun dulu Leandra sangat manja dan dekat dengan papanya.Tapi setidaknya beberapa kali Reina memberikan pengertian mengenai papanya Leandra tidak lagi bertanya perihal papanya.
Nesia putri Arif dan Feris juga sudah mulai bisa berjalan.Setiap main ketempat Reina mereka terlihat akrab.