
Waktu berjalan sangat cepat tidak terasa sudah hampir 6 bulan Reina berada dikampung halamannya.Tinggal bersama keluarga almarhum suaminya.
Selama ini Rendra dengan gencar berusaha untuk mengajak Reina menjalin hubungan lagi.Tapi selalu ia tolak dengan halus.
Ia belum siap jika harus terluka lagi.
Sampai sekarangpun usahanya masih dengan gencar ia lakukan.
Hingga suatu siang tiba-tiba ada pesan dari teman masa SMA-nya dulu.Ya dia Dewi.
Dewi
'Rein dengerin radio yang sama kayak dulu ya.Gue kangen kita kirim-kirim pesan kayak waktu sekolah dulu.'
Reina
'Insyaallah.Gak janji.'
Reina menjawab pesan itu dengan singkat.
Sudah sangat lama sekali Reina tidak bergulat dengan yamg namanya radio.Ia seakan masih trauma akan pengalamannya dulu.
Tanpa Reina ketahui,Rendra membujuk teman-teman Reina untuk kembali mendengarkan radio dan membujuk Reina untuk mau mendengarkan radio malam ini.
Bukan perkara mudah hal itu.Ia bahkan meninggalkan pekerjaannya beberapa hari hanya untuk membujuk Dewi.
__ADS_1
"Ayolah Dew bantuin gue napa sih.Ini demi kebahagiaan sahabat elo juga."Bujuk Rendra.Dengan Dewi,Rendra seakan melupakan rasa malunya.Ia buang jauh-jauh gengsinya kali ini agar supaya bisa mendapatkan Reina kembali.
"Kebahagiaan sahabat gue dari Hongkong.Ngimpi aja lo sono."Tukas Dewi sinis.
"Ya elah lo masih dendam sama gue?Kan elo udah gue bagi baca surat dari Very."Rendra coba menggunakan nama Very untuk membujuk Dewi.
"Dan gue rasa udah cukup Reina menghukum gue dengan hampir 10 tahun ngejauh dari gue."Lanjut Rendra.
"Buka salah Reina.Tapi elo yang kelewat be*o.Mending lo pergi ketimbang bikin gue gimpinJenuh gue akhir-akhir ini liat lo mulu dirumah gue."Bahkan Dewi tak sungkan mengusir Rendra.
Sudah hampir satu minggu ini setiap siang Rendra mengganggu waktu istirahatnya.Sehingga akhirnya membuat Dewi jadi kesal.
Bahkan ia tak peduli dengan anak dan suami Dewi yang juga berada dirumah itu.
Rendra tersenyum dan mengangguk yakin jika malam ini Reina akan mendengarkan dirinya siaran.
Reina pov
Sejujurnya aku hampir lupa akan ucapan Dewi yang memintaku untuk mendengarkan lagi radio itu juga mengirimkan irinyaMenurutku bukan hal yang penting juga.
Setidaknya aku bukanlah abg yang bucin lagi.Usiaku sudah 30 tahu.Aku adalah janda anak satu.Kalau aku masih bersikap menjadi korban bucin uhh rasanya sangat malu terhadap anakku.
Kulihat jam yang melingkar dipergelangan tanganku.Ternyata sudah pukul 18.57 menit.Bertepatan dengan itu aku mendengar suara seorang penyiar radio.Tapi yang jelas itu bukan suaranya,nya yang aku maksudt tentu kalian mengerti bukan.
Yup,nya yang kumaksudt ialah Rendra.
__ADS_1
Aku masuk kekamar.Sedang Leandra semenjak disini ia lebih memilih tidur dengan Nesia.Nesia sendiri juga sangat senang pasalnya hampir setiap malam mereka bercerita hingga menimbulkan tawa yang memenuhi rumah suaranya.
"Okay guys kita kembali lagi bersama dengan radio komunitas geminastiti saluran 107.02.Kali ini bareng gue mas Arnes penyiar paling kece dan ehm paling ganteng pastinya.Seperti dulu kita buka dengan lagu Bercinda diudara.Cuszz."Penyiar itu ternyata Arnes pantas aku cukup familiar dengan suaranya.
Terdengar tanda pesan masuk dihpku berbunyi.Tertanyata dari Dewi.
Dewi
u
'Cih.Memaksa dia.' Batinku.
Dulu aku biasanya akan mengirimkan apapun yang ada didalam pikiranku.Sedang untuk saat ini mengingat umurku yang bukan abg lagi membuatku berpikir pesan macam apa yang harus aku kirimkan.
Hingga lagu pertama selesai dan kini masuk lagu kedua aku masih belum bisa menemukan kalimat yang akan aku kirimkan keradio itu.'Huh sesulit inikah?'.Keluhku dalam hati.
Suara penyiar tadi terdengar lagi.Dia membacakan pesan-pesan dari monitor setia radio itu.Dulu sangat dulu aku bahkan lebih dari sekadar monitor setia.
Sekelebat rasa sakit timbul dihatiku.Membuatku semakin enggan melanjutkan mendengar radio itu.Tapi aku urungkan mengingat ancama unfaedah dari Dewi.
Akhirnya aku menemukan topik yang repat untuk kukirimkan keradio itu.
"Ok kembali lagi kita setelah dua lagu galau tadi.Tapi untuk sesi kali ini dan seterusnya biar teman mas Arnes yang bacakan."
Dia terus berbicara diradio itu.Aku yang awalnya menemukan topik sebagai pesanku keradio itu aku urungkan karena aku akan menelfon saja nanti.
__ADS_1