Cinta Diujung Penantian

Cinta Diujung Penantian
05


__ADS_3

Sudah hampir 3 bulan Reina belum juga berbagi cerita perihal kedekatannya dengan Rendra.Tiap kali ditanya ia hanya mengatakan sedang dekat dengan seseorang.Dan setiap ditanya siapa ia hanya menjawab dengan cengiran khasnya.Ya,seperti pagi ini,meskipun teman2nya memaksa ia seakan belum siap untuk menceritakan semua.Tepatnya ia takut dianggap pelakor oleh semua orang.


Ia sadar betul adalah sebuah kesalahan besar yang telah ia lakukan.Masuk kedalam rumah tangga orang lain disaat rumah tangga orang itu sedang terkena badai.Tapi ia juga tak dapat mengelak jika ia senang bahagia dan nyaman tatkala menjalin hubungan dengan Rendra.Meskipun Reina belum pernah sekalipun bertatap muka dengan Rendra.Sejak pertama kali mendengar suara Rendra ia sudah tertarik akan sosok seorang Rendra.


"Rein elo masih waras kan?"Tanya Detha penasaran.


"Lo pikir gue sedeng gitu?"Sahut Reina kesal.Ia tak mau memalingkan pandangannya dari layar hpnya.


"Ya kalee lo tuh akhir-akhir ini sering banget tau nggak senyum-senyum liatin hp.Apa sih yang elo sembunyiin dari kita2?"Ucap Ifach yang juga sedikit kesal karena mereka tau pasti ada yang Reina sembunyikan dari mereka.Reina tak menjawab pertanyaan temannya.Ia masih tetap sibuk berkirim pesan dengan Rendra.


"Elo kalau emang lagi dekat sama cowok kenapa lo nggak cerita ke kita-kita siapa dia.Orang mana.Anak sekolah mana.Biar kita tahu dan nggak penasaran gitu loh."Omel Detha lagi.


"Ya harus gitu gue cerita setiap inci hidup gue kekalian?Kita emang sahabat.Tapi maaf sebelumnya,tetep ada bagi gue hal yang nggak bisa buat gue ceritain keelo.Sorry gue juga ppeivac."Ucap Reina seraya memohon maaf.


"Coba lu sindir soal penyiar radio kw itu.Pasti beda responnya."Bisik Iyya pada Ifach.Dan hanya Ifach yang dengar bisikan Iyya itu.Iyya sudah lama menaruh curiga mengenai hal itu.


"Terus gimana Rein lo bilang lo udah minta nomor pribadinya Rendra,dikasih nggak?"Ucap ifach mencoba memancing Reina.


"Kenapa jadi ngomongin itu orang?Kan udah pernah gue kasih jawaban.Belum puas?Elo aja sendndra.Dan lagi kenapa juga elo tiba-tiba ngomongin tu orang?Gini ya Fach simplenya,gue udah nyoba saran gils lo itu,dan hasilnya buka gue yang nentuin."Sahut Reina yang malah berbalik tanya.ia sedikit kesal dengal Ifach yang selalu menuntut akan hal itu.


"Tuh kan soala Rendra aja responnya beda."Omel Ninka yang sedikit kesal dengan sikap Reina.


"Huh...sorry aja sebelumnya untuk saat ini gue belom siap buat cerita ke kalian siapa yang lagi deket dengan gue.Maaf ya,maaf banget."Ucap Reina meminta maaf."Gue janji gue bakal cerita tapi maaf enggak dalam waktu dekat ini.Ok!"Lanjut Reina.Ponsel yang sedari tadi ia pantengin udah ia simpan disaku seragamnya.Dan langsung beranjak keluar kelas.


Meskipun enggak puas dengan hasilnya setidaknya Reina sudah berjanji pada teman2nya untuk menceritakan semuanya.

__ADS_1


 Bel pulang sekolah berbunyi.Seluruh murid berhamburan keluar kelas.Detha mengajak semua teman kelasnya untuk mampir dulu kerumah Ayu.Sebenarnya ia hanya modus ingi bertemu dengan Budi tetangga depan rumah Ayu.


Disisi lain hari ini ia sudah berjanji untuk bertemu dengan Rendra.Ya,ini pertemuan pertama mereka.Meskipun sudah beberapa kali video call,mereka tetap ingin bertemu.


Ia bingung kalau menolak pasti kesemuanya akan lebih marah.Kalau tidak menolak bagaimana dengan Rendra.Akhirnya ia memilih untuk ikut kerumah Ayu dan pertemuannya dengan Rendra ia undur rada sore.Tak lupa ia langsung mengirimkan pesan pada Rendra.


Reina:


'Emt...Mas maaf ya sebelumnya ini gue ada aedikit acra dadakan.Rada sorean aja yaa!Setelah sholat ashar dah.Ok.See you.


Pesan terkirim dan langsung Rendra baca.'


Rendra:


Tak lama mereka bergegas kerumah Ayu.Dan benar saja selang beberapa menit Budi sudah ngapel dirumah Ayu.Emang dasar Budi dan Reina sudah saling mengirimkan signal permusuhan diantar mereka sehingga tiap bertemu ada aja yang diributin.


"Beb nemu dimana sih orang macam itu?"Tanya Budi sambil menunjuk Reina yang tengah sibuk menyalin tugas milik Ayu.Reina hanya melotot mendengar pertanyaan nggak penting dari Budi.


"Ada nggak tiruannya atau yang sama gitu?Boleh lah gue pesan satu buat pajangan didepan pintu kamar aku. "Lanjut Budi saat duduk disamping Detha.


Detha hanya tertawa kecil mendengar kalimat Budi.Reina ys


ang awalnya cuek jadi tersulut emosi mendengar kata2 terakhir Budi.


"Idih...Dipikir gue orang2an sawah dipajang depan pintu.Bilang aja buat obat kalo elo kangen berantem ama gue.Nggak usah malu lo ndut"Tuduh Reina percaya diri sekali.

__ADS_1


"Najis gue."


"Gue lebih nggak sudi buat lo pajang depan pintu kamar lo.Makanya nggak usah kebanyakam bacot lo.Mau gue sumpal pake kaos kaki?Hah?"Sahut Reina.


Ia selalu kehilangan kontrol emosi tiap berbicara dengan Budi.Ada aja hal ysng menyulut emosinya.


"Hati2 aja lo Deth ama manusia satu itu.Orang yang bentuk2nya kayak gini biasanya bilang setia.Maksudnya selingkuh tiada akhir atau setiap tikungan ada."Lanjut Reina sambil merapikan buku2nya.Ia cepat2 merapikan bukunya karna mendapat pesan dari temannya yang berbeda kelas jika ada laki2 yang bertanya soal dirinya dan kini sedang menunggu didepan sekolah.Reina tahu persis itu Rendra.Padahal ini masih jam setengah 3.Tak mau terlihat curiga saat ponselnya berbunyi ia berpura-pura mengangkat telfon dan sedikit berakting.


"Ya pak ada apa?"


....


"Apa?"


....


"Ok.Reina pulang saat ini."


Reina masuk kedalam rumah Ayu untuk berpamitan.Ia sedikit berbohong jika bapaknya menyuruhnya pulang ada urusan pentingaTanpa merasa curiga mereka mengiyakan ucapan Reina.


"Gue balik dulu ya.Besok deh kita nglayap sampe sore.Dadah...Muach."Ucap Reina sambil cium jauh.


"Cuih buat elu Budi."Lanjut Reina.Ia segera berlati cepat sebelum Budi ngamuk-ngamuk.


"Reina sialan lo."Teriak Budi.Reins hanya terkekeh mendengar teriaksn Budi.

__ADS_1


__ADS_2