
Sudah beberapa hari ini rumah tangga yang melibatkan tiga hati itu berjalan sebagaimana biasanya. Dan sampai saat ini pun Saga tak pernah menyentuh Leony. Ia hanya akan menyentuh Kejora saat mereka tidur bersama.
Ya, semua itu memang permintaan Kejora. Karena ia tetap tak mau berbagi suami. Jika ditanya apakah Kejora merasa iba dengan nasib Leony? tentu saja. Kejora juga merasa kasihan pada Leony karena tak pernah di sentuh oleh Saga.
Tapi memang inilah yang sudah menjadi keputusannya. Ia memberikan pilihan pada Saga. Jika saja Saga ingin menggauli Leony, maka ia harus di ceraikan terlebih dulu.
Sampai saat inipun Kejora tak tau apa yang membuat alasan Saga tetap mempertahankannya. Padahal sudah jelas bahwa Saga hanya mencintai Leony sang kekasih.
hoek hoek
Kejora tiba tiba saja merasa mual saat sampai di kantor. Ia langsung masuk ke kamar mandi untuk memuntahkan sesuatu yang mengganjal di perutnya sejak tadi.
Namun tak ada apapun yang keluar dari dalam perutnya karena memang sejak semalam ia belum memakan apapun.
"nona Kejora, anda kenapa? apa anda sedang sakit?" tanya Hanna yang entah sejak kapan sudah berdiri di samping Kejora dan memijat tengkuk bos nya itu.
"aku tidak tau, tiba tiba saja perutku terasa mual"
"mungkin nona masuk angin?"
"bisa jadi, atau mungkin asam lambungku naik, aku belum makan apapun sejak semalam"
"kalau begitu nona beristirahatlah di ruangan, saya akan membelikan makanan untuk anda"
"tapi aku tidak enak merepotkanmu"
"tidak apa apa nona, saya tidak merasa di repotkan kok"
"terimakasih Hanna"
Hann pun tersenyum dan menuntun Kejora masuk ke dalam ruangan. Setelah itu ia pergi ke seberang jalan untuk membelikan makanan untuk Kejora.
Kejora yang sedang duduk santai di sofa tersentak kaget saat tiba tiba Saga langsung menghampirinya dengan tergesa.
"Kejora, kau kenapa? tadi ada cs bilang kau sakit?"
"tidak kak, aku hanya lapar, makanya asam lambungku naik"
__ADS_1
"apa? lapar? apa kau tak sarapan dulu tadi sebelum berangkat?"
Kejora menggeleng pelan.
"inilah yang aku hawatirkan kalau aku berangkat lebih dulu. Kau pasti lupa tidak sarapan"
Kejora malah tersenyum melihat Saga yang mengomel di depannya. Menurut Kejora, ini begitu menggemaskan.
"kenapa malah tersenyum?"
"tidak.. aku hanya merasa di sayangi aja. Melihat kakak perhatian seperti ini, aku merasa memiliki seorang kekasih sungguhan"
"bukankah hubungan kita lebih dari seorang kekasih?"
"ya, maksut aku, aku merasa di cintai oleh pasanganku"
Saga terdiam. Ia tak bisa menjawab apapun perihal soal cinta. Karena Saga pun tak tau perasaan apa yang ada dalam hatinya. Yang jelas, Saga merasa senang saat berada di dekat Kejora. Namun lagi lagi perasaan gengsi untuk mengakui Kejora di depan umum selalu ada di pikirannya.
Kejora menyunggingkan senyum walau terlihat kaku. Ia tau bahwa Saga tak mungkin mengatakan cinta untuknya. Namun impian itu memang selalu ada dalam benaknya. Seorang istri pastilah selalu berharap bahwa sang suami akan mencintainya.
Saga hanya tersenyum, ia mengusap pucuk kepala Kejora pelan dan sedikit mengacak ujung kepalanya hungga membyuat rambut Kejora sedikit berantakan.
Keduanya saling pandang, dan tanpa di duga, tangan Saga terulur mengusap lembut pipi cabi Kejora. Saga terus memandangi wajah imut itu.
Hingga lama kelamaan, ia malah terbuai dengan kecantikan Kejora. Apalagi saat menatap bibir seksi berwarna pink itu. Saga benar benar tak bisa menahannya. Dengan gerakan yang tak terduga, Saga pun langsung mengecup bibir seksi milik istrinya itu.
kecupan yang berlangsung beberapa detik itu ternyata telah disaksikan sejak tadi oleh seseorang yang sedang berdiri di ambang pintu.
Ya, ia adalah Hanna. Hanna yang sudah membelikan makanan untuk Kejora harus menyaksikan adegan yang pastilah membuat hatinya terasa sakit. Namun ia bisa apa? Cinta dan Kekagumannya terhadap Saga hanya bisa ia pendam dalam hati.
"Hanna" Kejora yang tengah menyadari hadirnya seseorang langsung melepaskan ciumannya. Sementara Saga, ia bersikap ciek dan tak peduli.
"maaf nona, saya tidak tau kalau__"
"masuklah" Kejora menyuruh Hanna masuk meski dengan perasaan malu telah terpergok berciuman bersama Kakaknya sendiri. Mungkin itu yang di pikirkan Hanna.
"makan yang banyak, aku keluar dulu" Saga mengusap pucuk kepala Kejora dan berlalu meninggalkan dua wanita itu
__ADS_1
Setelah kepergian Saga, Kejora pun duduk di samping Hanna. Ia merasa tak enak hati atas kelakuannya dengan Saga yang terlihat tak senonoh saat di kantor.
"Hanna.. maaf atas kelakuan kami"
"tidak apa apa nona"
"sebenarnya kami sudah menikah"
Hanna hanya menatap Kejora dalam diam. Ia tak tahu harus berkomentar apa. Ia hanya mendengarkan Kejora.
Melihat ekspresi Hanna, Kejora jadi penasaran dengan perasaan Hanna. Karena sejak dulu Kejora selalu melihat bahwa tatapan Hanna ke Saga itu lain Seperti ada sesuatu yang terisyarat di dalamnya.
"Hanna, apa kau mencintai Kak Saga?"
"hah?" Hanna begitu terkejut dengan pertanyaan Kejora.
"jawablah dengan jujur"
"aku__ aku__"
"aku tau. maaf jika cintamu itu tak bisa terwujud karena aku. Tapi inilah takdirnya. Kak Saga sudah menjadi milikku. Aku harap kau hilangkan rasa cintamu itu pada Suamiku"
"saya tidak mungkin berharap apapun dari tuan Saga nona"
"baguslah, semoga kau mendapat laki laki yang baik nantinya"
"aminn.. terima kasih nona"
Dan setelah selesai bercerita dan bertanya, Kejora dan Hanna pun memakan makanan yang di belinya tadi. Namun baru beberapa suap, ia kembali memuntahkan isi perutnya. Makanan yang baru saja masuk akhirnya keluar semuanya.
"nona, anda lemas sekali.. ayo nona, kita kerumah sakit sekarang"
"baiklah"
Akhirnya Kejora menurut apa yang Hanna katakan mesti sejak tadi sempat menolak. Karena memang tubuhnya sudah tak kuat lagi untuk melakukan aktifitas lain.
Setelah sampai di rumah sakit, baik Kejora maupun Hanna begitu tetkejut saat melihat hasil pemeriksaan dari dokter yang menyatakan bahwa __
__ADS_1