
Semenjak kejadian itu, Leony tak berani lagi untuk pulang ke rumah Saga. Sungguh ia tak memiliki muka lagi untuk berhadapan dengan Suami yang sudah mentalaknya itu. Bahkan baju baju mahal dan beberapa barang branded pun ia tinggal begitu saja.
Sedangkan Saga, ia begitu jijik saat mengingat penghianatan Leony. Hingga Saga meminta para pelayan untuk membuang semua barang barang milik Leony yang ada di rumahnya. Ya, ia ingin sekali menghapus dan menghilangkan jejak wanita yang pernah mengisi hatinya tersebut.
Saga pikir, Leony selalu menuruti permintaannya karena memang mencintai dirinya, tapi ternyata, ia tak lebih hanya di jadikan sebagai mesin penghasil uang untuk Leony dan kekasih gelapnya.
Dan yang lebih menyakitkan adalah ketika ia mengetahui kekasih gelap istrinya itu adalah orang yang ia percaya sebagai pemegan salah satu agency yang paling ternama.
Dengan hati yang tersulut emosi, Saga pun langsung memberhentikan Roland. Ia juga menghapus nama Roland dan Leony dari setiap perusahaan yang menangani dunia model dan sebagainya. Menutu Saga itulah ganjaran yang pas untuk sang penghianat.
"ini untuk kami semua tuan?" tanya si cowok B
"ya, itu bonus pribadi dari saya untuk kalian berdua" jawab Saga
"wah.. terimakasih banyak tuan. terimakasih. sering seringlah memberi kami job seperti ini tuan"
"apa maksut kamu? kau ingin aku di selingkuhi lagi?"
"eh! mm.. bbukan tuan.. m..maksut saya bukan seperti itu. S..saya__"
"kami permisi. sekali lagi terimakasih tuan" sambung si A menunduk hormat sembari menggeret lengan si B untuk keluar.
"kau ini kenapa main tarik tarik segala? sakit tau" si B mulai mengomel sembari terus menghitung uang yang ada dalam amplop coklat bonusnya itu.
"jangan pernah berbicara melampaui batas pada klient kita! kerja kita itu menyelidiki, bukan mengkepoi" jawab si A dengan nada sedikit geram
"helleh.. bahasamu itu benar benar tak bermutu A"
"terserah"
Kedua detektif itupun langsung kembali ke markas mereka.
__ADS_1
Sementara Saga, ia begitu pusing dengan pencariannya terhadap Kejora yang sampai saat ini tak juga menemukan titik terang.
Dua bulan berlalu, Selama itu juga, Saga selalu tidur di kamar Kejora. Ia begitu merindukan momen momen kebersamaan dan kemesraannya pada gadis manis itu.
Entah mengapa Saga ingin sekali membuka isi lemari Kejora dan melihat apa saja yang tertinggal dari Kejora di kamar itu.
Dan saat membuka sebuah keras, Saga begitu terkejut dan syok saat mengetahui kertas apa yang ia pegang. Kertas yang bertuliskan sebuah nama rumah sakit diatasnya dan bertuliskan positif di bagian paling bawah menunjukkan sebuah kenyataan yang sangat mengejutkan untuknya.
*Hamil? jadi Kejora hamil anakku?
Kenapa dia tak pernah memberitahuku tentang semua ini?
Kenapa dia lebih memilih pergi meninggalkanku dan membawa pergi anakku?
Jika dihitung sejak surat ini keluar, berarti umur kehamilan Kejora sudah memasuki usia sembilan bulan? Dan sebentar lagi ia akan melahirkan?
ah tidak tidak! aku harus secepatnya menemukan Kejora sebelum ia semakin menghilang. Aku tidak mau anakku lahir tanpa seorang ayah*.
Saga pun sudah meminta team Danta untuk mencari istrinya. Namun yang aneh dari kasus ini adalah, mengapa Om Dantenya itu tak mau menerima laporannya tentang pencarian Kejora?
Padahal ia sudah menceritakan semua yang terjadi tentang dirinya dan Kejora pada Dante dan Nata. Namun mengapa om dan tantenya itu malah menolak permintaannya?
Dan dari sinilah Saga mulai mencurigai sesuatu. Ia begitu janggal dengan sikap dan reaksi yang di tunjukkan oleh om dan tantenya tersebut.
Namun Saga tak begitu menunjukkan reaksi kecurigaannya itu. Ia terlihat biasa saja saat berkumpul bersama keluarganya.
Tapi diam diam, Saga pun terus mengamati gerak gerik dari Dante dan Nata. Hingga pada suatu hari, om dan tantenya itu mendapatkan telefon dari seseorang di seberang sana.
"kalian mau kemana?" tanya Saga penasaran
"maaf, kami harus pergi. ada urusan mendadak"
__ADS_1
"hey!"
Teriakan Saga tak dihiraukan oleh keduanya. Mereka pergi begitu. Dan Saga pun mengikuti mereka dari belakang. Beruntunglah Saga sempat memasang gps dan kamera di mobil Dante. Hingga ia pun bisa tenang mengikuti mobil omnya tanpa harus takut kehilangan jejak.
"kak.. bagaimana keadaan Kejora? aku begitu hawatir dengannya" tanya Nata dengan cemas
"tenanglah. tadi penjaga mengatakan kalau Kejora mengalami kontraksi kecil"
"dia pasti mau melahirkan. Kasihan sekali kak kalau disaat melahirkan tidak ada satupun keluarga yang menemaninya"
"bersabarlah, sebentar lagi kita akan sampai"
Dante menggenggam erat tangan Nata, menciumnya dengan lembut guna memberikan ketenangan pada istrinya tersebut.
Dan tak berapa lama kemudian, mereka telah sampai di rumah sakit. Dante dan Nata langsung menuju ke ruang bersalin. Kejora masih ada disana dan masih merasakan kontraksi. Belum ada tindakan dari para dokter.
"pasien akan segera melahirkan, kami butuh satu orang untuk menemaninya. siapa suaminya?" tanya dokter yang membuat semua orang terdiam.
"maaf dokter, suaminya sedang berada di luar kota. saya tantenya. Saya bisa menemani Kejora di dalam"
"oh.. baiklah, mari ikut kami"
"tunggu!"
Saat Nata dan para dokter hampir melangkah masuk ke dalam ruangan, tiba tiba saja sebuah suara yang begitu familiar mampu menghentikan langkah Nata.
"saya yang akan menemaninya"
"SAGA???" Teriak Dante dan Nata serentak
Saga dengan bangganya melewati orang orang yang ada di sana dan langsung masuk ke dalam ruangan. Ia sudah sangat tak sabar ingin melihat wajah cantik Kejora.
__ADS_1