Cinta Pada Kedalaman 50 Meter

Cinta Pada Kedalaman 50 Meter
Episode 10


__ADS_3

“Ini semua gara-gara loe, Ndra! Loe yang nyuruh Reno buat ngajarin mereka nyelam.” celetuk Panji.


“Kok loe jadi nyalahin gue sih! Gue nyuruh Reno karena gue tahu dia lebih jago daripada gue.” kataku.


“Udah stop! Ini bukan saatnya untuk main salah-salahan. Sekarang yang penting adalah kita harus menemukan mereka secepat mungkin.” ucap Brigitta.


“Oke, aku akan mencari mereka di bawah laut. Kalian berpencar.” kataku.


Tanpa menunggu lama, aku langsung menceburkan diri ke laut. Aku menyelam kesana kemari hingga beberapa meter. Seorang Reno nggak mungkin pergi jauh dengan membawa bocah pemula. Kutemui kuda laut yang berenang bersama saudaranya. Andai mereka bisa bicara, aku akan bertanya apakah ia melihat beberapa sosok manusia?


Tapi naas, ia bisa bicara hanya dengan makhluk sejenisnya. Bukan dengan seorang pecundang seperti aku ini. Sepuluh meter telah kuarungi. Suasananya sangat gelap. Aku kembali ke atas sambil melihat keadaan sekitar. Rebecca teriak memanggil-manggil namaku.


“Andra! Andra!” teriaknya.


Mendengar teriakannya, kupercepat laju tangan dan kakiku agar segera sampai tepi pantai. Ia lari menghampiri!


“Gimana?” tanyaku.


“Udah ketemu.” jawabnya.


“Dimana mereka sekarang?” tanyaku.


“Di bawa ke rumah sakit.” jawabnya dengan nada gemetar.


"Apa yang telah terjadi?” tanyaku lagi.


“Mereka...mereka digigit ular.” jawab Rebecca.


“Apa!” aku kaget.


“Usai diving, mereka istirahat sebentar di jembatan yang menuju ke goa itu. Terus Winny penasaran dan masuk ke goa. Disusul dengan yang lainnya. Nggak tahu kenapa Priska yang berjalan paling belakang tiba-tiba menjerit dan nyebur ke pantai. Reno ngejar dia tapi ada jeritan lain yang membuatnya bingung harus nolongin siapa duluan. Winny ke patuk ular berbisa dan langsung pingsan. Melihat hal tersebut, Reno nolongin Winny karena dia pikir Priska udah bisa renang karena sebelumnya udah diajari. Di goa itu banyak ularnya.” terang Rebecca.


“Andira gimana?” tanyaku.


“Dia berusaha membunuh ular yang menyerang mereka. Tapi sialnya, ia juga kena patukan ular.” lanjut Rebecca.


Benar yang dikatakan Panji. Ini semua memang salahku. Andai semalam aku pulang dan menghargai usaha mama, pasti teman-temanku tidak akan seperti ini. Terkadang kita memang harus menomor duakan keinginan dan mendengarkan apa kata orang tua. Emang sih, mama nggak ngelarang aku kesini. Tapi seandainya aku nggak egois, pasti ini nggak akan terjadi.


Dengan basah kuyup aku menuju rumah sakit. Temanku yang lainnya juga menyusul kesana. Kulihat ketiga teman kuliahku terbaring lemas. Bekas gigitan ular itu mulai membengkak. Aku yakin dokter telah memberikan yang terbaik untuk keselamatan dan kesehatan kawan-kawanku.


“Sorry Ren. Ini semua salah gue.” Kataku disamping ranjang Reno.


“Andra! Kamu buat ulah apa lagi?” tiba-tiba terdengar suara Papa.


“Papa? Papa kok ada disini?” tanyaku kaget.


“Tadi ada yang telpon Papa dari pihak pengelola pantai.” jawab Papa.


“Kok bisa tahu nomor hp Papa sih?” tanyaku dalam hati.

__ADS_1


Tak berapa lama, Dokter datang untuk memberi informasi pada kami bahwa luka ketiga temanku tidak terlalu parah. Bisa ular tidak menyebar dengan cepat ke seluruh tubuh. Aku sangat berharap semoga mereka cepat segera pulih.


Karena mereka masih dirawat di rumah sakit, aku minta tolong Rebecca untuk mengantar Priska pulang karena kelihatannya ia masih syok dengan kejadian tadi.


Yossy dan Brigitta juga pamit pulang karena sudah hampir tengah malam. Tersisa aku, Panji, Keisha dan Papa. Kita sepakat untuk menunggu mereka.


“Kei, mending loe pulang aja gih. Udah malem. Biar kita aja yang nunggu mereka.” ucap Panji pada Keisha.


“Nggak apa-apa kok. Gue udah bilang sama nyokap. Lagi pula kalau misal Andira dan Winny perlu sesuatu kan nggak enak kalau harus minta tolong kalian, wahai para


bujangan.” jawabnya sambil bercanda.


Benar juga sih. Kalau laki sama laki kan oke –oke aja.


Akhirnya kami menunggui mereka di ruang tunggu. Hari semakin larut. Mataku mulai terkantuk. Dari tadi aku juga belum mandi.


Uftt! Bau!


“Gue ke toilet umum bentar ya.” kataku pada mereka.


Mendengar ucapanku, papa langsung melirik ke arahku.


“Mau mandi, Pa. Bau. Andra udah nggak betah.” kataku.


Papa mengangguk.


Saat menuju toilet, aku bertemu mama di lorong rumah sakit. Ia datang membawa makanan untuk kami dan beberapa helai selimut.


“Mandi, Ma.” jawabku.


“Yaudah sana. Mama bawain makanan dan selimut.” ucapnya.


Sebelum ke toilet, aku mampir sebentar ke kantin rumah sakit. Membeli peralatan mandi secukupnya dan kembali menuju kamar mandi umum untuk membersihkan diri. Untung kemarin aku membawa beberapa helai baju yang bisa kupakai hari ini.


Usai mandi, aku kembali bersama mereka yang tengah menikmati makanan dari mama.


“Kei, setelah makan kamu pulang saja ya , Nak. Nanti biar dianterin Andra.” Ucap Mama pada Keisha.


Teman perempuanku itu memang terlihat sangat lelah.


“Iya, Kei. Kamu pulang aja, istirahat. Besok kesini lagi.” kataku.


“Nanti kalau mereka butuh aku gimana?” tanyanya khawatir.


“Tenang aja, biar Tante yang jagain mereka.” jawab Mama.


“Tante nggak apa-apa?” tanya Keisha merasa nggak enak dengan Mama.


“Nggak apa-apa, Kei.” jawab Mama meyakinkan.

__ADS_1


Akhirnya aku mengantar Keisha pulang dan kembali lagi ke rumah sakit. Suasana sangat lengang. Jujur, aku ngerasa bersalah banget dengan kejadian ini.


“Nggak tidur loe?” tanya Panji padaku.


“Nggak bisa tidur.” jawabku sambil memandang langit.


“Udah, nggak usah ngerasa bersalah. Kita do’a in aja supaya mereka cepat sembuh dan kembali ceria bersama kita lagi.” katanya lagi.


Aku mengangguk dan menepuk bahunya.


***


Pukul 02.00 dini hari!


Terdengar suara sirine ambulan. Seperti ada pasien yang tengah sekarat. Aku yang tertidur di kursi ruang tunggu mendadak bangun melihat ranjang pasien di bawa oleh beberapa suster. Tak berapa lama, keadaan kembali sunyi. Entah selang beberapa menit kemudian, terdengar suara tangisan bayi.


Huft, aku nggak bisa tidur. Akhirnya aku berjalan keluar dari ruangan tersebut. Mencari hawa segar di halaman rumah sakit.


“Andra!” panggil seseorang.


Suaranya mirip Mama.


“Iya, Ma? Mama nggak tidur?” tanyaku pada perempuan tersebut.


Ia tengah duduk di kursi yang ada di halaman rumah sakit.


“Sini, Andra!” katanya lagi.


“Mama tidur gih. Bukannya pagi ini ada meeting ya?” tanyaku.


“Mama capek.” ucapnya.


Plak!


Seseorang menampar pipiku.


Aku terkejut hingga membuat mataku terbelalak.


“Ngapain loe disini? Tadi loe ngomong sama siapa?” tiba-tiba Panji berdiri di hadapanku.


“Ngomong sama Mama lah.” jawabku.


“Loe udah mulai gila? Lihat tuh!” ucap Panji


Ia menunjuk ke arah ruang tunggu yang terlihat mama sedang tidur pulas. Ia bersandar di bahu papa dengan balutan selimut yang dibawanya tadi.


“Terus tadi siapa?” tanyaku penasaran.


“Setan!” pungkas Panji dan berlari meninggalkanku.

__ADS_1


"Setan??? Woii, tungguin gue." seruku pada Panji.


__ADS_2