
Disibukkan dengan kegiatan kuliah dan segala macam, kini tiba saatnya aku mengikuti festival diving. Papa dan mama ikut hadir dalam acara tersebut. Yossy dan Fransiska juga telah hadir ditemani pacarnya masing-masing.
“Priska mana?” tanya Yossy di depan kedua orangtuaku.
“Nggak ikut.” jawabku singkat.
Tak menyita waktu, aku langsung mempersiapkan diri mulai dari ganti kostum dan olahraga kecil-kecilan agar tidak kram otot-ototku nanti. Sedangkan papa dan mama keliling melihat situasi sekitar pantai. Pesertanya cukup banyak. Di tengah laut juga sudah terlihat beberapa orang berenang dan berselancar.
Usai bersiap diri, kuajak Yossy dan Fransiska menuju tengah laut dengan menaiki perahu karet yang telah disiapkan.
Saat acara dimulai, kami langsung menceburkan diri ke dalam laut. Selain kegiatan menyelam juga ada perlombaan berenang untuk warga umum. Festival ini sebenarnya bertujuan untuk memperkenalkan wisata bahari tempat tersebut.
Kami menyelam pada kedalaman 20 meter. Di dalam sana yang biasanya terlihat gelap mendadak terang karena sangking banyaknya penyelam yang masuk ke area tersebut. Entah berapa jam kami berada disana, yang jelas terasa sangat lama sekali. Kulihat banyak jenis ikan yang jarang kulihat. Mereka menari-nari layaknya penari yang sedang menghibur para pengunjung.
Tak lama kemudian, kami pun kembali ke permukaan. Kegiatan menyelam hari ini sungguh menyenangkan. Selain mendapat pengetahuan baru mengenai diving yang aman, aku juga mendapatkan kenalan baru dengan hobi yang sama. Muda-mudi dari kampus lain juga ikut gabung bersama kami. jadi nanti kalau misal aku nggak punya temen buat latihan diving, aku bisa ngajak mereka.
“Huft! Seru ya. Ternyata setiap kedalaman memiliki penghuni yang berbeda pula. Tingkat bahayanya juga berbeda.” ucap Fransiska.
“Ya iyalah. Semakin dalam semakin bahaya.” tutur Yossy.
“Loe bisa ngomong gitu juga ya ternyata. Hahaaha. Loe nggak inget tentang paus yang bikin loe mendadak gila itu?” tanyaku sambil tertawa.
“Hahahah, iya juga ya.” kekeh Yossy.
Usai diving, kuhampiri mama dan papa yang sedang berteduh santai di gazebo sambil menikmati segarnya air kelapa.
“Gimana? Seru kan?” tanya Papa.
“Seru banget Pa. Papa pasti nyesel nggak ikutan.” kataku.
“Papa lebih nyesel kalau kamu yang nggak ikutan.” jawab Papa.
“Nih, minum dulu.” Ucap Mama sambil menyodorkan air kelapa untukku.
“Wah, seger nih.” ucapku.
“Kamu istirahat disini dulu sampai acara selesai. Mama sama Papa pulang dulu. Ada kerjaan yang belum selesai.” kata Papa sambil meninggalkanku.
Tak berapa lama setelah kepergian mereka, Yossy datang bersama Brigitta. Disusul Fransiska bersama Gerry. Kampret nih anak. Ngapain kesini ngikutin aku. Udah tahu aku nggak ngajak Priska. Bisa-bisa aku jadi obat nyamuk nih!
“Ndra, Priska kemana sih? Kok tumben loe nggak ngajak dia?” tanya Fransiska.
“Beberapa hari lalu dia ngembek sama gue. Kemarin mau gue anterin pulang malah udah balik duluan. Katanya udah dijemput seseorang. Karena gue penasaran, kucari ke rumahnya tapi dia belum pulang. Kata Mamanya mungkin lagi ngerjain tugas. Padahal Andira waktu itu nggak kemana-mana. Kalau ada tugas, pasti anak itu ikutan.” Jelasku sambil meneguk air kelapa.
“Kok aneh gitu sih dia. Coba gue telpon dulu. Kali aja diangkat kalau gue yang telpon.” Ucap Fransiska sambil mencoba menghubungi sepupunya itu.
Tut...tutt..tuttt!
Tersambung tapi belum diangkat.
“Hallo...” Tak berapa lama terdengar suara Priska disana.
__ADS_1
“Pris, loe dimana sekarang?” tanya Fransiska.
“Di rumah.” jawabnya.
Aku dan teman-temanku lainnya terdiam. mendengarkan mereka berdua bicara.
“Loe sakit?” tanya Fransiska lagi.
“Nggak. Gue baik-baik aja kok. Emang kenapa?” tanyanya.
“Nggak apa-apa. Loe disuruh Andra kan?” ucapnya.
“Andra? Enggak lah.” jawab Fransiska.
“Alah, nggak usah bohong! Gue tahu kok hari ini loe sama temen-temen loe itu habis ikutan festival kan?” tanyanya lagi.
“Kalau iya emang kenapa?” jawab Fransiska.
“Yaudah, bye.” tutupnya.
Sensi banget tuh anak! Lagi datang bulan kali ya!
“Biarin ajalah.” ucapku tak ambil pusing.
Sambil menunggu acara penutupan, aku dan teman-temanku melihat-lihat acara lainnya. Tak hanya menyelam dan lomba renang, ternyata juga ada pertunjukan tari. Selain itu ada beberapa seniman yang melukis pemandangan.
Pukul 17.00!
Acara telah usai. Aku pun pulang bersama teman-temanku.
Esok harinya, aku memutuskan untuk menemui Priska di rumahnya. Tapi entah kenapa rumah itu mendadak terlihat sepi seperti tak berpenghuni. Kuketuk pintu rumahnya, namun tak ada yang merespon.
Hp nya juga mati!
Aku dibuat bingung dengan tingkahnya. Akhirnya kuputuskan untuk berangkat ke kampus saja!
“Andra loe dimana?” Tiba-tiba aku mendapat pesan dari Brigitta.
“Ngapain tuh cewek chat gue?” batinku dalam hati.
“Please, balas!” pesannya lagi.
“Apaan sih nih cewek!” gerutuku.
Tanpa memperdulikan pesan tersebut, aku langsung berangkat ke kampus. Sampai pintu gerbang, mataku langsung tertuju pada sekerumunan manusia. Sedang apa mereka?
Kuhentikan laju motorku dan melihat kerumunan orang itu.
Astaga!
“Priska? Apa yang terjadi?” ucapku panik.
__ADS_1
Aku bertanya pada mereka yang telah lebih dulu melihat kejadian itu. Tak ada yang berani menjawab. Semua mulut membisu.
“Woooiii! Kalian denger nggak? Priska kenapa?” teriakku pada mereka.
Tak lama Brigitta datang menghampiri. Tanpa tahu apa salahku, ia menampar keras pipiku.
Plakkk!
“Apa-apaan nih?” tanyaku tak mengerti.
“Dari semalam dia menyendiri di perpus. Tubuhnya kerasukan setan! Paham loe!” jelas Brigitta.
Tumben nih cewek mendadak galak.
“Trus ngapain loe nampar gue?” tanyaku.
“Biar loe sadar bahwa selama ini loe masih cuek dengan keadaannya. Loe lebih mentingin band dan diving loe.” jawab Brigitta.
“Darimana loe tahu Priska ada di perpus?”tanyaku.
“Saya yang memberi tahu. Semalam saya dengar jeritan seseorang dari perpus. Suara itu seperti orang kesakitan. Akhirnya, pintu perpus saya buka dan melihat sosok Priska disana. Dengan mata melotot dan tangan yang mencengkeram meja, kubawa ia keluar dari ruangan tersebut. Priska ngamuk dan menonjok dada saya.” jawab Pak
Satpam.
“Kenapa Bapak nggak telpon saya?” tanyaku.
“Sudah, tapi nggak diangkat.” pungkasnya.
“Kalau udah kayak gini siapa yang mau disalahin?” tanya Brigitta.
Tak lama, orang tua Priska datang dan melarikannya ke rumah sakit. Aku pun ikut dengan mereka. Mobil hitam itu melaju kencang menerobos hiruk pikuk keramaian kota.
Tiba di rumah sakit, dokter lagsung memeriksa keadaan pacarku itu. Sambil menunggu, mamanya bertanya padaku mengenai putrinya itu.
“Andra, Tante mau nanya. Apakah Priska di kampus terlihat stres?” tanya beliau.
“Setahu saya sih, biasa aja Tante. Kemarin waktu saya ajak ke pantai terlihat sangat senang.” jawabku.
“Kamu hari ini nggak kuliah?” tanya Papanya.
“Sebenarnya kuliah, Om. Tapi melihat keadaan Priska seperti ini saya ijin nggak masuk.” jawabku.
“Priska nggak apa-apa. Lebih baik kamu kembali ke kampus saja. Jangan sampai membuat rugi orang tua kamu yang telah membiayai kuliah. Sore kamu juga bisa kesini.” perintahnya.
Aku menatap wajah mama Priska dan ia pun mengangguk.
“Baiklah, saya pamit kalau gitu.” Ucapku dan meninggalkan mereka.
Aku masih punya waktu lima belas menit untuk pergi ke kampus. Kuharap nggak telat!
Selama perjalanan aku berpikir apa mungkin Priska sedang membutuhkanku saat itu? Saat dimana aku sedang membonceng Silvia? Mungkin ia ingin mengutarakan sesuatu sampai-sampai sebelum aku jemput sudah datang ke rumah dan melihat aku bersama perempuan lain.
__ADS_1
“Maafin aku, Pris. Aku belum bisa jadi pacar yang baik buat kamu.” ucapku dalam hati.
Tak banyak yang bisa kulakukan selain berdo’a untuk kesembuhannya.