
Pukul tujuh pagi aku sudah sampai pantai. Menunggu cewek tomboy yang tak kunjung tiba.
“Mana tuh anak?” gumamku dalam hati.
Aku sudah bermain air sejak tadi sambil menunggunya.
Tak berapa lama ia datang.
“Woi! Udah lama loe nungguin gue?” tanyanya.
“Setengah jam.” ucapku.
“Sorry gue telat.” jawabnya.
“Dasar cewek!” kataku.
Setelah ganti kostum, kita naik perahu yang telah disiapkan untuk menuju ke tengah laut. Hari ini cuaca cukup bagus. Mentari bersinar terang. Awan putih berjalan pelan. Aku juga melihat banyak penyelam lain yang datang hari ini.
Sesampainya di tengah laut, aku dan Fransiska langsung menceburkan diri dan berenang. Melihat banyak trumbu karang yang indah tak luput dari jepretan kameraku. Selain dari kami, banyak juga dari mereka yang memburu hiu kecil untuk foto bersama. Semakin jauh kami menyelam, banyak hewan laut yang kami temukan.
Fransiska yang dari tadi menyelam di sampingku memberi kode untuk mengajak naik ke permukaan. Aku menganggukkan kepala tanda setuju. Sampai atas, dia megap-megap.
“Kenapa loe?” tanyaku.
“Aku lapar.” jawabnya.
“Kampret! Gue kira kenapa. Yaudah kita ganti kostum dulu terus makan.” ajakku.
Usai ganti pakaian, kami mencari tempat makan yang terletak tak jauh dari bibir pantai. Tak berapa lama, akhirnya kita menemukan warung yang menjual khusus makanan laut. Ada ikan, cumi-cumi, kerang dan sejenisnya.
“Loe mau pesan apa?” tanyaku.
“Ikan sambal pedas sama nasi aja deh. Minumnya teh anget.” jawabnya.
“Yaudah kita samaan.” kataku.
Setelah memesan makanan, kami menunggu di gazebo yang telah disediakan.
“Pacar loe kok nggak ikut nemenin loe?” tanyaku memecah keheningan.
“Dia sibuk di kampus. Katanya ada mata kuliahan hari ini.” Jawabnya sambil melihat hasil foto yang kuambil selama di dalam laut tadi.
“Coba lihat deh! Bagus ya.” Katanya sambil memperlihatkan foto terumbu karang dan ikan yang sembunyi disana.
“Iya, bagus. Ngomong-ngomong loe suka diving sejak kapan?” tanyaku.
“Tiga tahun terakhir. Awalnya gue takut tenggelam. Tapi setelah melihat di bawah laut banyak keindahan yang tersembunyi membuat gue jatuh hati.” terangnya.
“Loe sering ikut lomba diving juga?” tanyaku.
“Nggak sering sih, tapi pernah ikutan.” jawabnya.
“Kalau boleh tahu, ngapain loe pindah kampus?” tanyaku lagi.
“Kepo banget sih loe!” ujarnya.
Dua menit kemudian makanan datang. Baunya wangi khas ikan. Dengan perut yang keroncongan, kami siap melahap hidangan itu.
“Gue boleh nanya nggak tentang Priska?” tanya Fransiska padaku.
“Mau nanya apaan?” tanyaku.
“Dia korban broken home kan?” tanyanya.
“Iya. Emang kenapa?” tanyaku.
“Loe pasti tahu korban broken home itu kayak apa. Dia pasti butuh kasih sayang yang lebih.” katanya.
__ADS_1
“Terus?” Tanyaku sambil makan nasi campur sambal.
“Kenapa loe nggak bisa sayang sama dia? Padahal kan dia sayang banget sama loe. Gue tahu loe nerima dia karena terpaksa. Iya kan?” ucap Fransiska.
Mendengar ucapannya, aku langsung berhenti makan. Darimana dia tahu kalau aku nerima Priska karena terpaksa?
“Ngomong apaan sih loe! Buruan tuh, habisin makanannya.” ucapku mengalihkan pembicaraan.
“Kayaknya sebentar lagi Priska mau kesini.” ucapnya.
“Maksud loe?” tanyaku tak mengerti.
“Priska mau kesini sebentar lagi. Dia mau nemuin loe.” katanya.
“Tau darimana loe?” tanyaku.
“Emang loe nggak tahu kalau gue sepupunya dia?” tanyanya.
“What????” aku terkejut.
Sejak kapan dia jadi sepupu Priska? Aduh, kok jadi gini sih.
Tak berapa lama seseorang menghampiri. Wajah priska yang telah lama kukenal menyapa dengan sopan.
“Hai, Ndra. Lagi makan?” sapanya.
Aku jadi kikuk dibuatnya. Salting juga iya!
“Iya.” jawabku.
“Gue mau ngomong sama loe.” ucapnya padaku.
“Ngomong aja.” jawabku.
“Gue mau ngomong berdua sama loe. Tapi nggak disini.” katanya.
“Ndra, gue pengen kita balikan. Gue sayang sama loe. Jujur setelah kejadian itu, gue nyesel dan sadar. Gue bodoh udah selingkuhin loe. Maafin gue.” ucapnya.
“Gue udah maafin loe. Tapi kalau untuk balikan, gue nggak bisa.” kataku.
“Please, Ndra. Gue pengen kita balikan.” Ia memohon sambil memegang tangan gue.
“Sorry, Pris.” kataku.
Ia bangkit dari duduknya dan mendorongku menjauhi posisinya. Ia terlihat kesal dan putus asa.
“Ok kalau itu mau loe!” Ucapnya sambil membalikkan badan.
Byur!!!
Sial, ia nekad menceburkan diri ke laut. Aku tahu Priska belum begitu bisa berenang.
“Priska!!!!” teriakku.
Sontak aku langsung terjun ke laut untuk meraih tubuhnya yang hampir menghilang dari pelupak mata. Nih anak bener-bener nekad. Untung aku masih bisa menemukan sosoknya. Kutarik tubuh itu dan kunaikkan ke perahu yang kami naiki tadi.
“Tolongin, Pak.” ucapku pada pemilik perahu.
Kami segera membawa Priska ke daratan.
“Pingsan lagi!” ucapku.
“Udah Mas, terima aja cintanya. Kasihan sampai nekad kayak gitu.” kata pemilik perahu.
“Masalahnya saya nggak suka sama dia, Pak.” jawabku.
“Nggak apa-apa. Lama-lama pasti suka.” pungkasnya.
__ADS_1
Aku memberi nafas buatan untuk Priska sampai akhirnya ia tersadar kembali.
Saat matanya terbuka, ia langsung memelukku dengan erat. Seperti tak ingin kehilangan, ia tak mau melepaskan pelukannya itu.
“Kalau udah nggak apa-apa, tolong lepasin tangan loe.” kataku pada Priska.
“Nggak mau. Gue nggak mau kehilangan loe.” jawabnya.
Mungkin karena kepergian kita terlalu lama membuat Fransiska khawatir. Tak lama ia pun menemukan keberadaan kami.
“Loe kenapa Pris?” tanya Fransiska.
Priska tak memeperdulikan pertanyaan sepupunya. Ia terus saja memeluk tubuhku.
“Pelukan disini emang nggak malu apa? Lihat tuh banyak nelayan dan penyelam seliweran melihat kalian.” kata Fransiska.
“Gue nggak mau lepasin pelukan ini sebelum dia nerima gue kembali.” ucap Siska.
“Udah lah Ndra, kalian balikan aja kenapa sih! Ribet banget.” Gerutu Fransiska yang mulai kesal dengan perlakuanku.
Aku terdiam!
“Ndra! Loe denger gue ngomong nggak sih?” sentak Fransiska.
“Oke! Kita balikan. Puas loe!” ucapku.
Mendengar kalimat tersebut bukannya nglepasin pelukan malah semakin erat ia memeluk tubuhku!
“Yang bener? Makasih ya Ndra. Gue janji nggak akan ngelakuin kesalahan yang sama.” ucap Priska.
“Terserah loe.” kataku.
Ia pun bangkit dan menggenggam tanganku.
“Udah mulai sore nih, loe anterin Priska pulang ya.” ucap Fransiska padaku.
“Yukkk!!!” jawab Priska.
Hmmm, perempuan memang selalu menang. Belum sempat menjawab sudah diserobot duluan.
Akhirnya aku mengantar Priska pulang dan menyudahi latihan hari ini.
“Sayang, nanti malam kita dinner ya,” ajak Priska.
“Nggak bisa. Gue mau latihan nge band sama temen-temen.” ucapku.
“Kamu jadi bikin band? Siapa aja personilnya?” tanyanya.
“Jadi. Nanti kamu juga tahu sendiri.” jawabku.
“Vokalisnya bukan Brigitta kan?” Dengan nada serius ia menanyakan hal itu.
“Emang kenapa kalau vokalisnya dia?” Tanyaku sambil tetap fokus mengemudi.
“Aku nggak suka aja kalau ada dia.” jawabnya.
“Emang dia yang jadi vokalis dan kita udah sepakat.” beritahuku.
“Apa?” sahutnya.
“Inget ya, untuk kali ini loe jangan ngatur gue lagi. Harusnya sebagai pacar loe dukung gue. Kalau nggak suka dengan apa yang gue lakuin, yaudah. Mending kita nggak usah balikan lagi.” ucapku.
Enak aja aku diatur sesuai kemauan dia. Aku tahu dia nggak suka sama Brigitta sejak pertama kali bertemu.
Soal kecantikan sih sama-sama cantik. Tapi nggak tahu kenapa saat itu aku tertariknya sama Brigitta.
Huft!
__ADS_1