
Kedua orang tua Yossy telah datang. Ia terlihat sangat panik.
“Maafin kami baru bisa datang sekarang.” ucap mereka.
“Anda siapa?” tanya Dokter.
“Kami orang tuanya Yossy. Dok.” jawab mereka bersamaan.
Tak lama, suster yang berada di dalam ruang operasi berlari keluar dan meminta dokter untuk kembali. Tak lama disusul beberapa dokter lain ikut masuk ke ruang operasi tersebut.
Apa yang telah terjadi?
“Ya Tuhan, tolong selamatkan anak kami.” Ucap Mamanya Yossy sambil menangis.
Papanya yang terlihat sangat tegar terus berusaha menenangkan istrinya.
Kurang lebih setengah jam kami dirundung rasa panik dan khawatir, akhirnya dua orang dokter keluar menemui kami.
“Dokter, gimana keadaan anak saya?” tanya Papanya Yossy.
“Dok, jawab Dok.” timpal Panji.
“Kami telah berusaha, tapi Tuhan berkehendak lain.” ucap Dokter dengan nada berat.
“Maksud Dokter?” Tanya Brigitta dengan bercucuran air mata.
“Yossy meninggal.” jawab Dokter.
“Apa? Nggak mungkin! Dokter pasti bohong!” teriak Mama Yossy histeris.
Brigitta yang dari tadi berusaha kuat mendadak jatuh pingsan.
Aku juga sangat terpukul harus kehilangan sahabatku. Kuterobos pintu ruang operasi untuk melihat jasad Yossy untuk yang terakhir kalinya.
“Yossy! Yos! Bangun Yoss!” Aku berteriak memanggil namanya.
Ia tak mendengar. Matanya tetap terpejam. Tangannya mulai dingin dan wajahnya mulai pucat. Aku berusaha membangunkannya sekali lagi.
“Yossy bangun! Please. Papa dan Mama loe udah datang. Please, buka mata loe untuk Brigitta. Yossy, bangun Yoss!” teriakku.
Sampai tak sadar, air mataku pun ikut tumpah menggenangi pipinya. Ia tetap tak sadarkan diri.
Kenapa sesingkat ini Tuhan mengijinkan aku dan dia bermain bersama-sama? Bukankah masih ada waktu yang sangat panjang untuk kami melanjutka kuliah di kampus yang sama? Menyelam bersama?
Aku merasa sangat terpukul kenapa pada saat itu aku nggak ada. Kenapa waktu itu aku tak mengajaknya makan saja? Dengan begitu, maut tak akan merenggut nyawanya.
Bukan aku saja! Semua orang juga sangat kehilangan, termasuk Brigitta. Dua jam berita itu menyebar, teman-teman kampus pun ikut datang.
Rencananaya jasad Yossy akan dimakamkan sore hari.
***
Sampai makam, mamanya berulang kali jatuh pingsan. Ia tak sanggup melihat jasad anaknya dikebumikan. Mama dan papa yang merupakan orang paling dekat dengan keluarga Yossy berusaha menguatkan mereka. Sedangkan aku turut serta mengangkat tubuh Yossy untuk dimakamkan di peristirahatan terakhir. Kakiku terasa lemas.
Aku teringat saat kita bermain bersama, bercanda ria, menyelam hingga berebutan untuk mendapatkan hati Brigitta.
“Maafin gue Yoss. Gue banyak salah sama loe.” ucapku dalam hati.
Tak sedikit yang menangis sesenggukkan. Kulihat hampir semua teman dekat Yossy datang. Hanya satu yang tak kulihat. Priska!
Usai upacara pemakaman selesai, kami pun bubar. Sosok Priska yang tak kulihat sebelumnya ternyata baru saja datang. Lagi-lagi, ia ditemani cowok brengsek itu. Ingin sekali aku memperjelas hubungan ini. Dengan sigap aku berjalan menghampirinya.
“Loe nggak usah kesana!” ucap Panji menghalangi.
__ADS_1
“Udah jelas kan, dia lebih nyaman sama cowok itu. Udah lah Ndra, kita pulang aja.” timpal Reno.
Lenganku ditarik Rebecca untuk segera meninggalkan tempat itu. Priska menatapku tanpa makna. Ia melanjutkan langkahnya bersama laki-laki itu.
Sebelum kami berpisah dengan orang tua Yossy, papanya bertanya padaku.
“Andra, apa Yossy punya pesan untuk Om sebelumnya?” tanya beliau.
“Nggak ada Om.Cuma, dia pernah bilang kalau kangen orang tuanya.” jawabku.
“Huft. Ya sudah. Maafin semua kesalahan Yossy. Dan terimakasih sudah menemani Yossy disaat kami tidak di rumah. Maafin kami juga sering merepotkan kalian.” pungkas beliau.
“Iya, Om. Sama-sama. Kami juga minta maaf.” jawab kami tertunduk.
Sebagai teman dekat, aku masih sangat bersalah dengan kejadian ini.
“Saya yang salah Om. Gara-gara saya, Yossy jadi seperti ini.” ucap Brigitta sambil menangis.
“Jangan saling merasa bersalah. Ini semua sudah takdir Yang Maha Kuasa. Kejadian apapun kalau Tuhan belum berkehendak, Yossy pasti masih bisa selamat.” ucap Mamanya Yossy.
Lantas, kami pun pulang!
Selama perjalanan, pikiranku kosong. Entah melamunkan apa!
Aku punya banyak kenangan bersama Yossy. Saat ingin ke pantai, hatiku jadi sedih. Teringat ketika Yossy mendadak gila ingin bertemu ikan yang mematikan itu. Aku selalu berandai-andai. Seadainya ia masih ada, aku ingin menyelam bersamanya lagi. Menikmati keindahan laut yang masih banyak yang belum kami kunjungi.
Ada yang hilang dari kehidupan ini.
Ketika kuliah dan melihat bangku kosong yang biasa ditempati Yossy, aku seperti melihat bayangannya tengah duduk mengerjakan tugas. Anak teladan itu, kini tak akan kembali mengisi hari-hariku.
“Jangan bengong mulu loe!” ucap Panji seraya mengagetkanku.
“Ndra! Pulang kuliah ke pantai yuk!” ajak Fransiska.
“Gimana Ndra? Loe bisa kan?” tanya Panji.
“Iya.” jawabku.
Aku tahu mereka ingin menghiburku. Dengan pergi ke pantai, kami bisa bersenang-senang dan melupakan kesedihan.
Sorenya, kami pun berangkat. Kali ini Fransiska mengajak Gerry dan juga teman dekatnya yang pernah kulihat bersama Yossy di sebuah restoran kala itu. Ternyata memang nggak ada perselingkuhan diantara mereka. Aku sempat mencurigai cewek tomboy itu.
“Loe mikir gue selingkuh sama dia kan?” celetuk Fransiska tiba-tiba.
“Iya lah. Orang udah janjian sama Gerry malah pergi sama cowok lain." jawabku.
“Hahahah. Waktu itu gue emang ada perlu aja sama dia. Cuman, gue nggak ngomong sama Gerry.” ucap Fransiska.
“Eh, kok loe nggak ngajak Brigitta sih? Rebecca juga nggak loe ajak?” tanya Panji.
“Oh iya ya. Yaudah, ntar gue suruh mereka nyusul kalau mau.” jawab Fransiska.
Sampai pesisir pantai, aku melihat Andira tengah duduk di salah satu gazebo. Mungkin nggak kalau Priska juga disana?
Entahlah!
Kami berencana untuk naik banana boat bersama. Seru-seruan diatas laut sambil menikmati segarnya percikan air. Setelah membeli tiket, kami pun bersiap untuk meluncur.
“Woiiii.. pegangan yang erat. Ntar jatuh loe.” teriak Fransiska.
"Emang loe, gampang jatuh.” jawab Panji.
“Dih, nih anak dikasih tahu!” ketus Fransiska.
__ADS_1
Tak lama wahana permainan itu melaju kencang. Percikan air membasahi tubuh kami. Saat perahu membelok, banaan boat pun oleng dan akhirnya kita terjatuh.
Byuurrrr!!!
“Hahahaah. Loe sih disuruh pegangan yang kuat nggak mau.” celetuk Fransiska.
“Kalau nggak nyebur nggak seru lah.” Kataku sambil berenang mendekati banana boat.
Setelah menepi, kami berjemur sambil menikmati matahari sore hari.
“Eh...eh... Bukannya itu Priska sama Andira?” tanya Reno.
“Mana?” tanyaku.
“Itu. Mereka lagi persiapan memakai peralatan diving. Sejak kapan anak itu belajar nyelam?” tanya Panji heran.
Aku langsung bergegas menghampiri mereka. Ingin sekali aku bertanya tentang keadaannya.
“Priska, kamu mau nyelam?” tanyaku tanpa basa-basi.
“Iya.” jawabnya singkat.
“Sejak kapan kamu mulai nyelam?” tanyaku.
“Akhir-akhir ini.” jawabnya lagi.
“Sebenarnya, aku ingin memperjelas hubungan kita dan kehadiran cowok itu.” ucapku.
“Nggak ada yang perlu dijelasin. Udah ya, aku mau diving. Keburu sore.” pungkasnya dan ninggalin aku.
Anak itu benar-benar bikin pusing.
“Ndra! Loe ngapain sih masih ngejar dia! Kan loe udah dikasih amanat sama Yossy buat jagain Brigitta.” ucap Panji.
“Emang gue satpam harus jagain anak orang?” ketusku.
“Bukan gitu juga kali. Kita semua tahu kok loe cinta sama Brigitta.” timpal Reno.
“Alah, itu cuma candaan kali. Nggak usah dianggap serius.” kataku.
“Yossy serius!” Tiba-tiba terdengar suara Brigitta ikut memperkeruh suasana.
Aku menoleh ke arahnya.
“Loe jadi kesini?” tanyaku.
“Beberapa waktu lalu sebelum kejadian, Yossy bilang sama gue kalau loe rela mengalah demi dia supaya gue nerima cintanya. Dia nggak serius sama gue.” Ucap Brigitta tanpa mempedulikan pertanyaanku.
“Nggak! Dia bohong. Gue nggak pernah ngalah dari siapa pun. Dan dia yang serius sama loe, bukan gue.” kataku memperjelas.
“Gue nggak peduli mana yang benar. Yang jelas loe diminta untuk ngejaga gue. Entah mau jadi satpam gue atau body guard gue, terserah.” ucap Brigitta.
Kurang ajar juga nih cewe! Masa iya gue jadi satpam!
“Gue rasa, belum saatnya untuk membahas itu.” jawabku.
“Terserah loe.” pungkas Brigitta.
Pukul 17.00!
Matahari hampir bersembunyi. Kami menyudahi seru-seruan kali ini. Sebelum meninggalkan pantai, aku melihat Priska lagi bersama laki-laki itu. Sepertinya cowok itu yang menemani Priska diving selama ini.
Mungkin ia lebih jago dariku sehingga membuat Priska lebih memilihnya.
__ADS_1
Oke. Mulai sekarang aku udah nggak mau lagi berurusan dengannya.