Cinta Pada Kedalaman 50 Meter

Cinta Pada Kedalaman 50 Meter
Episode 28


__ADS_3

Luka di kepala Yossy tidak terlalu parah. Pasokan darah yang diberikan Rebecca berfungsi sebagaimana mestinya. Dokter juga memberi tahu bahwa keadaannya mungkin akan segera pulih. Beruntung tidak terjadi patah tulang dan semacamnya. Tuhan masih melindungimu, kawan!


“Ndra, loe pulang aja. Biar gue yang jaga disini.” kata Brigitta.


Ia tahu kalau gue besok ada jadwal kuliah pagi. Aku juga nggak mungkin meninggalkan materi kuliah.


“Oke. Besok selesai kuliah, gue langsung kesini.” kataku dan pamit.


Sedangkan Reno dan Panji yang memiliki jadwal sama denganku juga menyusul pulang. Belum sampai meninggalkan rumah sakit, lenganku ditarik Panji. Sontak, aku hampir terjatuh.


“Apaan sih loe!” kataku.


“Lihat tuh!” Katanya sambil menunjuk ke arah seseorang.


Bola mataku langsung tertuju pada seorang perempuan.


“Priska! Ngapain dia disini? Oh, mungkin dia mau jenguk Yossy.” ucapku lirih.


Aku berjalan menghampirinya. Tapi tiba-tiba muncul seorang pria dari balik pintu yang ternyata laki-laki itu adalah orang yang pernah menjemput Priska di kafe beberapa waktu lalu.


Kuhentikan langkahku dan berbalik arah. Aku jengah melihat kedua insan itu.


“Priska sama siapa?” tanya Reno.


“Gue juga nggak tahu.” jawabku.


“Loe gimana sih. Pacarnya sama orang lain malah nggak peduli. Mending nggak usah punya pacar!” ucap Reno.


Tanpa pikir panjang, aku langsung meninggalkan tempat itu. Kurasa Priska juga sudah tak membutuhkan aku lagi. Hubungan kita sepertinya harus segera kami akhiri.


“Pulang aja lah!” celetuk Panji.


***


Sampai rumah, aku menceritakan kejadian ini pada mama dan papa. Mereka turut prihatin. Ingin sekali mendonorkan darah, tapi golongan mereka nggak sama. Lagi-lagi, hanya do’a yang bisa kami berikan untuk


kesembuhan Yossy.


Setelah membersihkan diri dan makan, aku langsung istirahat karena besok pagi harus berangkat kuliah. Sepanjang tidurku, aku seperti bermimpi bertemu Yossy. Ia terlihat begitu tampan dengan balutan baju


putihnya. Tersenyum manis sambil berdiri menghampiriku. Tanpa sepatah kata, ia tiba-tiba menghilang.


Blar!!!


Jendela kamarku tiba-tiba menutup dengan suara keras. Aku sontak bangun dan melihat apakah ada angin kencang di luar sana.


Setelah kulihat, tidak ada angin maupun hujan. Tapi kenapa jendela kamar bisa terbuka dan menutup dengan sendirinya? Seingatku sebelum tidur sudah kukunci rapat.


Kutoleh jam dinding telah menunjukkan pukul 02.00 dini hari.


Huft! Kurebahkan badanku ke kasur lagi. aku masih ngantuk.


Blar!!!


Suara itu...suara itu terdengar lagi. Aku langsung berlari mendekati jendela dan melihat keadaan disekitarnya.


Tak ada apa-apa!


Akhirnya aku keluar kamar menuju ruang keluarga untuk menonton tv. Sialnya, tiba-tiba listriknya padam.


“Haaaahhhh!” gerutuku kesal.


Kuputuskan untuk tidur di kursi ruang keluarga sambil menunggu bulan menjelma menjadi matahari. Saat mataku mulai terpejam, pikiranku mendadak jalan-jalan. Menelusuri rumah sakit tempat dimana Yossy dirawat. Beberapa suster tengah sibuk dengan kegiatannya. Di sebuah ruangan terdapat jasad yang dimasukkan ke peti mati. Entah siapa!


Kukuruyuuukkk!!


Terdengar ayam jantan berkokok. Mentari telah bersinar terang, raut wajah bulan perlahan menghilang.

__ADS_1


“Andra, bangun! Ngapain kamu tidur disini?” tanya Mama.


“Jam berapa, Ma?” tanyaku.


“Hampir jam tujuh. Buruan bangun sana!” perintah Mama.


“Ha? Hampir jam tujuh?” tanyaku.


Aku langung naik tangga menuju kamar untuk membereskan diri. Tak ingin terlambat lagi, kupercepat aktivitasku kali ini. Melihat aksiku yang terlihat buru-buru, mama menatapku dengan geli.


“Makanya jangan tidur terlalu malam.” kata Mama.


“Enggak kemalaman kok, Ma. Tahu nggak Ma, semalam tiba-tiba jendela kamar Andra kayak aneh gitu. Bikin nggak bisa tidur!” gerutuku.


“Ketiup angin kali! Yaudah, sarapan sini.” perintah Mama.


Nasi goreng ayam ditambah telur mata sapi menjadi santapan pagiku hari ini. Mau tahu rasanya? Hmmmmm, pedas, gurih, nimat. Kerupuk udang jadi pelengkap!


“Papa mana, Ma?” tanyaku.


“Papa udah berangkat.” Jawab Mama sambil mencuci peralatan masak.


“Ha? Emang Papa nggak sarapan?” tanyaku.


“Papa ada meeting. Jadi harus berangkat pagi. Tadi udah Mama bawain bekal buat Papa.” jawab Mama.


“Andra berangkat dulu ya, Ma.” Kataku sambil mengunyah suapan terakhir.


“Minum dulu baru berangkat.” ucap Mama.


Setelah kuteguk habis teh hangat buatan mama, aku pun berangkat ke kampus. Kali ini aku akan melewati warung pinggiran yang menjual nasi pecel itu. Aku ingin memesan untuk Yossy. Barangkali dengan dibawakannya nasi itu, ia langsung sadar setelah mencium aroma sedapnya.


Sepanjang jalan kutelusuri. Kepalaku menengok kesana kemari tapi tak kujumpai lagi sosok gadis manis itu. Warungnya terlihat tutup. Hmmm, mungkin hari ini ia nggak berjualan.


Sampai kampus, aku harus ke perpustakaan dulu untuk meminjam buku yang kuperlukan hari ini. Penjaga buku itu kuharap sedang pergi. Dengan tergesa, aku segera mencari benda yang kuinginkan. Setelah selesai, aku langsung berjalan ke kelas.


Braaakkk!!!


“Sorry!” kataku sambil mengambil buku.


Saat kulihat siapa yang kutabrak, mataku langsung terbelalak.


“Yossy! Loe Yossy kan? Gila! Loe udah sadar?” tanyaku heran.


Yang kutahu kemarin dia masih terkapar tak berdaya. Butuh beberapa hari untuk memulihkan keadaannya. Tapi hari ini, ia mendadak sampai sini.


Herannya, ia hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaanku.  Karena aku masih heran dan nggak percaya, kutepuk bahunya.


“Woi! Loe udah sembuh beneran?” tanyaku lagi.


Ia terdiam.


Tak lama, aku ditampar seseorang.


Plakkkk!


Tangan kasar itu mendarat tepat dipipi kananku.


“Apa-apaan nih!” kataku kesal.


Saat kulihat siapa yang menampar, ternyata Reno dan Panji sedang menatapku heran.


“Loe ngomong sama siapa barusan?” tanya Panji.


“Yossy. Kalian nggak ketemu? Dia udah sadar!” ucapku.


“Loe yang nggak sadar! Yossy masih di rumah sakit!” jelas Panji.

__ADS_1


“Kata siapa? Orang tadi gue baru ketemu dia disini.” ucapku lagi.


“Wooooiiii! Sadar! Yang loe temui tadi setan!” jelas Reno sambil menepuk pipiku.


“Maksud kalian? Hahaaha, mana ada setan keluar siang bolong kayak gini.” kataku sambil terkekeh.


“Males gue ngomong sama dia.” ucap Panji pada reno.


Tak lama, mereka meninggalkanku sendirian! Aku yang terlihat seperti orang bodoh melanjutkan perjalanan menuju kelas.


“Fransiska telah datang.” batinku.


Aku duduk di sebelahya sambil menanyakan keadaan Priska.


“Kabar Priska sekarang gimana? Loe tahu nggak semalam gue lihat dia sama cowok di rumah sakit.”  kataku.


“Nggak tahu. Akhir-akhir ini dia juga jaga jarak sama gue.” jawab Fransiska.


Percakapan pun terpotong karena dosen telah datang. Ditengah materi sedang dimulai, aku merasa ada getaran pada hp ku. Kuintip dari lobang tas, nama Brigitta yang terlihat. Ngapain jam segini dia telpon? Apa mungkin Yossy dalam keadaan darurat? Akhirnya aku minta ijin ke toilet sambil membawa ponselku.


Tanpa sepengetahuan dosen, aku menelpon Brigitta di dalam kamar mandi.


“Ada apa, Bri?” tanyaku.


“Ndra, cepat loe kesini. Yossy kejang-kejang. Gue takut.” jawabnya dengan nada cemas.


“Aduh, dosen juga baru masuk. Masa gue tinggal sih.” jawabku.


Aku juga bingung dengan keadaan seperti ini. Tapi karena ini menyangkut nyawa, akhirnya aku kembali ke kelas dan minta ijin pada dosen untuk pulang lebih awal. Sesuatu yang penting telah terjadi. Beliau memaklumi dan mengijinkan. Panji dan Reno yang tengah penasaran denganku, mereka pun juga ikut meninggalkan kelas.


Kuberitahu mereka bahwa Yossy mengalami kejang-kejang.  Tanpa membuang waktu, kami bertiga langsung ke rumah sakit. Brigitta yang sendirian berjaga disana mengalami ketakutan adalah hal wajar. Dengan kondisi seperti ini, manamungkin kami meninggalkannya.


Sampai sana, kulihat banyak petugas medis sedang berusaha menyelamatkan nyawa Yossy.


“Bukannya kemarin lukanya nggak parah?” tanyaku.


“Gue juga nggak tahu. Tapi tadi pagi Dokter ngasih tahu kalau Yossy mungkin juga mengalami trauma. Selain kepalanya yang luka, dia juga mengalami pendarahan luas hingga membanjiri paru-paru.” jelas Brigitta.


“Nggak bisa dibiarin nih. Orang tuanya harus kesini.” ucapku.


Aku langsung menghubungi papanya Yossy dan memberitahu keadaan anaknya sekarang. Mendengar hal tersebut, papanya panik. Beliau berjanji akan segera datang hari itu juga.


Kami berempat sudah nggak tahu lagi harus berbuat apa kecuali pasrah dan berdo’a. Tak lama, suster menghampiri kami dan memberikan sesuatu.


“Apa diantara kalian ada yang bernama Andra?” tanya suster itu.


“Saya, Sus.” jawabku.


“Tadi saya menemukan kertas ini di saku celananya.” Ucapnya sambil menyerahkan kertas putih itu.


Saat kubuka, aku kenal sekali tulisan cakar ayam itu. Meskipun ia pandai, tapi jangan tanya tulisannya kayak apa. Asli berantakan tapi masih layak untuk dibaca.


“Gue minta tolong sama loe jika suatu hari nanti gue pergi duluan, tolong jaga Brigitta. Gue tahu, loe cinta sama dia.” Isi coretan tersebut.


Kutatap Brigitta dan kedua temanku, kuserahkan kertas itu pada mereka.


Ketiganya saling pandang. Entah apa yang ada dipikiran mereka.


“Jangan dianggep serius.” kataku.


Aku terus mendo’akan agar Yossy bisa selamat. Ia yang sejak tadi berada di ruang operasi pasti sangat membutuhkan dukungan, terutama orang tuanya.


Tiga jam telah berlalu. Dokter pun keluar.


Raut wajahnya sangat datar. Sulit untuk menebak apa yang akan beliau sampaikan.


“Dokter, gimana keadaan Yossy, Dok?” tanyaku.

__ADS_1


Ia hanya menghela napas.


“Dok, gimana Dok?” tanya Brigitta dengan peluh yang kian menetes.


__ADS_2