Cinta Pada Kedalaman 50 Meter

Cinta Pada Kedalaman 50 Meter
Episode 16


__ADS_3

Acara kampus hari ini dimulai. Aku dan personil lainnya telah mempersiapkan semua mulai dari lagu dan kostum. Dengan latihan yang rutin, kami yakin perform kami akan memukau. Panggung yang sudah berdiri megah dan peralatan musik yang telah lengkap membuat kami semakin semangat untuk bermain musik dan unjuk kebolehan.


“Andra! Andra! Andra!” Beberapa mahasiswi bersorak riang menyemangatiku.


Sedangkan para mahasiswa lebih dominan ke Brigitta yang menjadi ikon band kami. Wajahnya yang selalu cantik bak mutiara selalu menjadi sorotan. Siapapun akan penasaran dengan suara emasnya. Lantunan tembang "Harusnya Aku" dari Armada band menjadi lagu pembuka untuk hari ini.


Semua mahasiswa yang telah hadir ikut memenuhi kursi yang telah disediakan. Para dosen yang masih sibuk dengan berbagai macam acara sesekali berhenti untuk melihat siapa saja yang ikut dalam pentas seni hari ini.


Tak menunggu lama, acara pun dimulai.


“Kita tampilkan, Sunrise Band.” seru Panitia acara.


Mereka yang hadir bersorak ria dan tepuk tangan.


Dengan gaya kecenya, Brigitta maju kedepan sambil membawa mic dan menyapa hadirin.


“Selamat pagi teman-teman dan Bapak Ibu sekalian. Kami dari Sunrise Band akan membawakan sebuah lagu dari Armada yang berjudul Harusnya Aku. Semoga terhibur.” sambut Brigitta.


Dengan semangat empat lima, kami tampil menghibur mereka. Tak sedikit yang ikut bernyanyi meramaikan situasi.


“*Harusnya aku yang disana...


Dampingimu dan bukan dia...


Harusnya aku yang kau cinta dan bukan dia...


Harusnya kau tahu bahwa cintaku lebih darinya...


Harusnya yang kau pilih bukan dia*...”


Mereka ikut bernyanyi dan melambaikan tangan. Durasi sepuluh menit telah berhasil menyita perhatian para mahasiswa dan tamu lainnya. Bisa dibilang, kita berhasil membawakan lagu tersebut.


“Mantab jiwa.” seru Panji.


“Sunrise Band, sukses!” ucap kami bersamaan.


Selesai tampil, kami istirahat sebentar sambil menikmati jamuan yang telah disiapkan panitia. Ada minuman, makanan, buah, dll. Masih banyak band lain yang akan tampil hari ini. Saat itu aku juga tak memperhatikan dimana keberadaan Priska.


“Tumben anak itu nggak ada.” batinku dalam hati.


“Priska mana?” tanya Reno tiba-tiba.

__ADS_1


“Iya, biasanya dia selalu ada kemanapun loe pergi.” timpal Panji.


“Nggak tahu. Mungkin lagi sibuk kali.” Jawabku sambil meneguk minuman rasa jeruk.


Kuamati situasi sekitar yang semakin lama semakin banyak yang hadir entah tamu dari mana aja aku kurang paham betul. Yang pasti aku sangat fokus dengan penampilan band lain yang tak kalah keren dari Sunrise Band.


“Ndra, sini bentar.” tiba-tiba Fransiska memanggilku.


“Ada apa?” tanyaku.


“Priska masuk rumah sakit.” jawabnya.


“Apa? Dia sakit apa? Kemarin kan nggak kenapa-kenapa.” ucapku.


“Sebenarnya dia mengidap kanker. Sorry gue baru ngomong sekarang.” jelas Fransiska.


“Apa loe bilang? Kanker? Sejak kapan dia kena kanker? Loe sebagai sepupunya kenapa nggak ngasih tahu gue dari awal?” tanyaku.


“Loe kalau ngomong mikir dulu. Gue kenal loe baru kemarin sore. Gue juga nggak tahu kalau Priska kena kanker. Tadi pagi dia mendadak pingsan dan dibawa ke rumah sakit sama tukang kebun rumahnya. Trus gue dikasih tau sama dia. Harusnya gue yang nanya loe. Loe jadi pacarnya kok malah nggak tahu sih! Loe emang bener-bener kebangetan.” ucap Fransiska.


“Gue nggak pernah tahu soal penyakit yang ia derita.  Dia juga nggak ngomong sama gue.” kataku.


“Ya jelas lah dia nggak ngomong sama loe. Loe aja nggak peduli  sama dia! Yang di otak loe cuma Brigitta, Brigitta, dan Brigitta! Harusnya loe tuh sadar! Brigitta udah punya pacar, sahabat loe sendiri!” ucap Fransiska kesal.


“Kata siapa nggak ada hubungannya? Gue udah tau semua. Loe nggak usah cari alasan buat nutupin perasaan loe yang sesungguhnya.” katanya lagi.


“Baguslah kalau loe tahu.” Timpalku dan beranjak pergi seolah tak peduli dengan keadaan Priska.


“Mau kemana loe?” Tanyanya sambil menarik tanganku.


“Sebentar lagi band gue mau perfom lagi. Gue harus balik kesana.” jawabku.


“Loe tuh emang kebangetan ya. Lebih mentingin band loe daripada pacar loe sendiri! Sekarang Priska lagi butuh loe. Harusnya loe lupain nge band loe itu. Nyawa dia lebih dari segalanya!” cerocos Fransiska.


“Band gue juga penting! Nggak ada gue ntar siapa yang jadi drummer?” ucapku.


“Sini stik loe!” pinta Fransiska paksa.


Krekk!!


Dengan kasar ia mengambil stik drum ku dan mematahkannya.

__ADS_1


“Apa-apaan sih loe!” kataku emosi.


“Udah diem! Sekarang loe ikut gue.” Ia menarik tanganku dengan paksa dan membawaku ke dalam mobilnya.


Tenaga cewek tomboy itu benar-benar kuat melebihi preman.


“Gue heran sama loe!” gerutu Fransiska.


“Loe tahu sendiri kan, gue nerima dia karena terpaksa. Harusnya loe jangan maksa gue juga!.” Kataku tanpa memikirkan perasaan Priska.


“Heh dodol! Ini menyangkut nyawa. Suka nggak suka loe harus nungguin dia biar dia semangat. Biar cepet sembuh.” tuturnya.


Tak lama hp ku berdering. Sebuah telpon dari Panji. Aku tahu mungkin mereka sedang mencariku untuk melengkapi personil Sunrise Band yang sebentar lagi akan tampil untuk kedua kali.


“Hallo....” ucapku.


“Loe dimana sih? Kita nyariin loe kemana-mana tapi nggak ada. Band kita bentar lagi mau tampil. “ ucap Panji.


“Sorry, Nji. Kayaknya gue nggak bisa nglanjutin. Gue harus ke rumah sakit nungguin Priska.” kataku.


“Emang Priska sakit apa? Bukannya kemarin nggak kenapa-kenapa?” tanya Panji.


“Fransiska bilang, dia mengidap kanker. Gue juga nggak tahu karena dia juga nggak pernah cerita soal penyakitnya.” terangku.


“Terlalu cuek sih loe! Yaudah loe kesana aja. Masalah band, biar gue yang handle. Loe nggak usah khawatir. Gue bisa gantiin loe jadi drummer." tuturnya.


“Yaudah. Sorry ya.” ucapku.


“Nggak apa-apa. Santai aja.” jawabnya.


Tak berapa lama, tibalah kami di rumah sakit tempat dimana Priska dirawat. Fransiska menuntunku hingga sampailah pada satu ruangan. Di balik kaca, aku melihat tubuh pacarku tergeletak tak berdaya. Apa  mungkin penyakitnya sudah parah hingga ia berda dalam ruang ICU?


“Dia lagi butuh loe sekarang. Gue minta tolong sama loe. Kasih dia perhatian sedikit aja. Syukur-syukur, loe jatuh cinta beneran sama dia.” kata Fransiska.


“Orang tuanya nggak kesini?” tanyaku.


“Nggak lah. Mereka sibuk dengan keluarga barunya. Makanya gue minta tolong sama loe buat ngejagain dia dan sayangi dia.” ucap Fransiska lagi.


Tanpa menjawab sepatah katapun, aku langsung duduk di kursi dekat ruangan tersebut. Memandang kedepan, mengingat kejadian masa lalu yang sering membuat Priska sakit hati. Aku terlalu cuek hingga mungkin membuatnya enggan untuk menceritakan penyakitnya padaku.


Selama ini ia telah menyembunyikan rasa sakitnya di depanku. Priska yang kukenal selalu terlihat centil dan riang. Kini, ia terlihat lemas sambil menahan rasa sakit yang menyerang tubuhnya.

__ADS_1


Kenapa hatiku sungguh keras? Bukankah Priska juga layak untuk kucintai?


__ADS_2